51动漫

51动漫 Official Website

Konfirmasi Molekuler Spirometra Mansoni (Cestoda: Diphyllobothriidae) pada Ular Air Jawa (Fowlea Melanzosta) di Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Genus Spirometra secara resmi ditetapkan oleh Mueller pada tahun 1937, yang memperbaruinya dari subgenus yang awalnya diusulkan oleh Faust dkk. (1929). Cacing pita dari genus Spirometra (Cestoda: Diphyllobothriidae) merupakan parasit yang tersebar luas di seluruh dunia. Cacing dewasa menghuni usus halus mamalia karnivora, sementara tahap larva plerocercoid (sparganum) menginfeksi berbagai macam vertebrata, termasuk amfibi, reptil, burung, dan mamalia. Parasit-parasit ini menunjukkan siklus hidup yang kompleks yang melibatkan lima tahap perkembangan: telur, korasidium, proserkoid, dan pleroserkoid, dan dewasa, tiga inang wajib: copepoda air tawar (misalnya Cyclopidae) sebagai inang perantara pertama, vertebrata sebagai inang perantara atau paratenik kedua (seperti amfibi, reptil, ayam, babi, babi hutan, dan manusia), dan mamalia karnivora sebagai inang definitif.

Manusia bertindak sebagai inang buntu yang tidak disengaja dan tertular sparganosis, suatu

penyakit zoonosis yang ditularkan melalui makanan dan air yang terabaikan, terutama melalui konsumsi daging mentah atau setengah matang dari katak atau ular yang terinfeksi pleroserkoid, atau air yang tidak disaring yang mengandung copepoda yang terinfeksi larva proserkoid. Infeksi juga dapat terjadi melalui praktik tradisional, seperti menempelkan jaringan katak mentah pada luka atau mata.

Meskipun manusia tidak berkontribusi terhadap penularan, luaran klinis dapat parah, termasuk sparganosis subkutan, okular, atau serebral. Taksonomi Spirometra tetap menjadi salah satu yang paling menantang di antara cestoda, yang rumit karena keberadaan spesies kriptik dan kemiripan morfologi yang mencolok antar spesies. Lebih dari 46 spesies nominal telah dideskripsikan di seluruh dunia, dengan lebih dari 20 spesies dilaporkan berasal dari Asia. Namun, taksonomi tingkat spesies masih belum terselesaikan, terutama karena kesamaan morfologi di antara kerabat dan kurangnya sifat diagnostik yang andal. Ciri-ciri seperti morfologi uterus dan jumlah spiral sangat bervariasi tergantung pada metode fiksasi dan stadium inang, yang menyebabkan kesalahan identifikasi yang telah menyebar ke dalam basis data molekuler.

Di Indonesia, salah satu catatan paling awal Spirometra berasal dari spesimen yang ditemukan dari musang luwak (Viverra tangalunga) di Moearateweh, Kalimantan, yang dideskripsikan secara morfologis oleh MacCallum (1921) sebagai Dibothrium tangalongi. Ini merupakan deskripsi terkonfirmasi pertama dari inang hewan di negara ini. Data molekuler pertama muncul jauh kemudian, ketika Okamoto dkk. (2007) menganalisis isolat dari seekor anjing di Samosir, Sumatera Utara, yang awalnya mengidentifikasinya sebagai

S. erinaceieuropaei. Hingga saat ini, sebagian besar catatan Indonesia masih terbatas pada identifikasi tingkat genus, dan belum ada penelitian yang memberikan konfirmasi tingkat spesies yang didukung oleh taksonomi integratif sesuai dengan revisi sistematis terbaru genus tersebut.

Penelitian ini berfokus pada ular air Jawa (Fowlea melanzosta), kolubrid semi-akuatik yang tersebar luas di habitat air tawar Jawa. Karena perilaku ekologisnya yang aktif mencari makan di lingkungan akuatik dan terestrial, ular ini sangat rentan terhadap inang perantara potensial seperti amfibi dan copepoda, sehingga menjadikannya kandidat yang tepat untuk menyelidiki infeksi larva Spirometra. Kami bertujuan untuk menyediakan identifikasi tingkat spesies melalui analisis molekuler berbasis cox1, dengan observasi morfologi yang disediakan sebagai data deskriptif pelengkap.

Studi ini memberikan konfirmasi molekuler S. mansoni di Indonesia, berdasarkan sekuens cox1 parsial, sehingga mengklarifikasi catatan sebelumnya yang telah direklasifikasi secara retrospektif. Temuan ini memberikan bukti molekuler yang mendukung keberadaan cestoda zoonosis ini di Indonesia, yang secara luas dikenal sebagai salah satu agen penyebab utama

sparganosis dan spirometrosis pada manusia di seluruh dunia. Identifikasi F. melanzosta sebagai inang perantara atau paratenik kedua menimbulkan kekhawatiran kesehatan masyarakat yang penting, terutama di daerah tempat ular ini biasa ditangani, dikonsumsi, atau digunakan dalam pengobatan tradisional. Prevalensi infeksi yang tinggi (84%) diamati pada semua kelas umur ular (tukik, juvenil, dan dewasa), dengan pleroserkoid ditemukan di jaringan subkutan, otot, dan rongga tubuh. Hal ini menggarisbawahi signifikansi ekologis kolubrid semi-akuatik ini. Menempati posisi trofik kunci di persimpangan ekosistem akuatik dan terestrial, F. melanzosta kemungkinan memfasilitasi penularan Spirometra di berbagai tingkatan jaring makanan. Identifikasi Spirometra yang akurat pada tingkat spesies sangat penting untuk memahami potensi zoonosis dan kepentingan epidemiologisnya, terutama di Indonesia di mana data taksonomi masih terbatas. Secara makroskopis, spargana dapat dibedakan dari larva cestoda lainnya (kecuali Mesocestoides tetrathyridia) dengan tidak adanya skoleks bengkok, pengisap, atau badan vesikular, dan dengan adanya jaringan parenkim padat tanpa lakuna primer. Wilayah anterior menunjukkan skoleks pipih dengan dua bothria longitudinal. Namun, meskipun ciri-ciri ini cukup untuk diagnosis tingkat genus,

ciri-ciri ini tidak cukup untuk identifikasi spesies yang tepat, yang memerlukan konfirmasi molekuler karena kesamaan morfologi di antara taksa Spirometra.

Analisis filogenetik mengonfirmasi bahwa spargana yang diisolasi dalam penelitian ini termasuk dalam S. mansoni. Analisis ulang isolat tahun 2007 (AB278577), yang sebelumnya dimasukkan ke dalam S. erinaceieuropaei, menunjukkan nol divergensi genetik dari haplotipe PV806838 kami, sehingga mendukung reklasifikasinya sebagai S. mansoni. Hasil ini memberikan dasar untuk menafsirkan ulang laporan awal sparganosis di Indonesia yang secara historis terdokumentasi tetapi secara taksonomis tidak pasti.

Saat ini, tujuh galur Spirometra tingkat spesies yang valid telah dikenali termasuk S. erinaceieuropaei (Eropa), S. mansoni (Asia, Amerika [Amerika Utara, Tengah, dan bagian utara Selatan], dan Afrika Timur), S. asiana (Asia Timur dan kemungkinan Afrika Timur), S. theileri (Afrika), dan S. decipiens (Amerika Selatan), beserta dua galur yang baru dikenali: Spirometra sp. 2 (galur Amerika Selatan) dan Spirometra sp. 3 (galur Amerika Utara). Garis keturunan Afrika, yang sebelumnya disebut sebagai S. folium, telah terbukti mewakili S. theileri, yang awalnya dideskripsikan dari karnivora Afrika dan kemudian dikonfirmasi oleh data molekuler dari macan tutul dan hyena tutul. Demikian pula, kompleks S. decipiens sebelumnya (garis keturunan 1 dan 2) telah direvisi menjadi tiga garis keturunan yang berbeda, sehingga menyelesaikan ambiguitas taksonomi yang telah lama ada. Studi ini dibatasi secara geografis pada satu lokasi di Jawa Timur, sehingga membatasi jangkauan kesimpulan yang lebih luas tentang keragaman genetik dan distribusi spasial. Mengingat kompleksitas kepulauan dan heterogenitas ekologi Indonesia, studi-studi mendatang sebaiknya memprioritaskan pengambilan sampel multi-pulau di berbagai inang vertebrata.

Pengurutan genom mitokondria yang lengkap juga akan berharga untuk memecahkan hubungan filogenetik skala halus dan untuk meningkatkan pemahaman tentang penataan tingkat populasi pada Spirometra.

Sebagai kesimpulan, studi ini memberikan konfirmasi molekuler prospektif pertama terhadap S. mansoni di Indonesia. Prevalensi infeksi yang tinggi pada F. melanzosta menekankan perannya sebagai inang perantara atau paratenik yang penting dan menimbulkan kekhawatiran akan penularan zoonosis di daerah-daerah tempat ular dikonsumsi atau digunakan dalam pengobatan tradisional. Temuan-temuan ini menekankan perlunya perluasan pengawasan molekuler dan pendekatan taksonomi integratif untuk menilai epidemiologi dan risiko zoonosis sparganosis di seluruh Indonesia dengan lebih baik.

Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Ryanka Edila , Seongjun Choe, Mustofa Helmi Effendi*, Lucia Tri Suwanti, John Yew Huat Tang. Molecular confirmation of Spirometra mansoni (Cestoda: Diphyllobothriidae) in Javanese keelback water snake (Fowlea melanzosta) in Indonesia. International Journal for Parasitology: Parasites and Wildlife, 28 (2025) 101150

AKSES CEPAT