Tumbuhan diciptakan Tuhan untuk dimanfaatkan manusia dalam berbagai hal di kehidupannya. Tumbuhan dimanfaatkan untuk menunjang masalah pangan, sandang, papan dan Kesehatan. Sudah banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tumbuhan merupakan sumber bahan-bahan obat yang bermanfaat bagi Kesehatan manusia. Tanaman sawit adalah salah satu yang dimanfaatkan sebagai penunjang produk minyak yang dibutuhkan di skala internasional. Banyak kebun sawit di Indonesia maupun negara sekitar yang setiap tahun produknya terus ditingkatkan. Namun demikian belum banyak yang memikirkan limbah dari pengolahan produk kelapa sawit tersebut.
Dari berbagai riset ditunjukkan bahwa asam ferulat (asam 4-hidroksi-3-metoksisinamat) adalah senyawa fitokimia yang umumnya ditemukan dalam bentuk terkonjugasi dalam mono, di-, polisakarida dan lainnya senyawa organik lainnya dalam dinding sel biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran. Senyawa ini ternyata ditemukan kuantitasnya sangat tinggi melimpah di dalam limbah kelapa sawit. Indonesia memproduksi minyak kelapa sawit dalam jumlah yang cukup besar pada tahun 2018, mencapai mencapai 29,67 juta ton, yang akibatnya menghasilkan volume limbah pertanian yang signifikan. limbah padat pertanian yang signifikan. Biji dan daun kelapa sawit, yang merupakan limbah padat utama, kaya akan kandungan asam ferulat, baik dalam bentuk bebas maupun terikat dengan lignin atau biopolimer lainnya. Asam ferulat (asam 4-hidroksi-3-metoksisinamat) dapat diisolasi dari limbah padat kelapa sawit dan telah ditemukan memiliki berbagai aktivitas farmakologis, termasuk anti-inflamasi, anti alergi, antivirus, antikanker, antioksidan, hepatoprotektif, dan antitrombotik.
Senyawa ini telah dilaporkan menunjukkan berbagai aktivitas anti-kanker, mulai dari menginduksi apoptosis hingga kematian sel autofag, tergantung pada garis sel kanker. Modifikasi dalam ekspresi procaspase-9, procaspase-8, procaspase-3, poli (ADP ribose) polimerase, Bcl-2, dan Bax telah disarankan untuk memediasi kemungkinan aktivitas apoptosis asam ferulic. Selain itu juga ditemukan memiliki kemampuan untuk mencegah aktivasi jalur Smad kanonik dan jalur kinase / Akt (protein kinase B) yang dikendalikan oleh sinyal ekstraseluler yang tidak kanonik. Oleh karena itu potensi interaksi asam ferulic terhadap reseptor MCF-7 untuk memprediksi aktivitasnya sebagai agen anti kanker payudara menjadi kajian yang sangat diperlukan.
Seperti diketahui bersama bahwa kanker payudara adalah salah satu masalah kesehatan yang paling serius, merenggut nyawa 400.000 dengan rata-rata 1.500.000 kasus baru di seluruh dunia setiap tahunnya. Pada tahun 2020, dilaporkan 2,3 juta kasus baru dan 685.000 kematian yang terkait dengan kanker payudara. Sebagai jenis kanker yang paling umum terjadi pada wanita, angka kejadian kanker payudara dapat mencapai 40 kasus per 100.000 wanita. Tren penyakit ini cukup mengkhawatirkan, karena sebuah studi pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa angka kematian meningkat sebesar 14% sejak tahun 2018. Selain itu, analisis bibliometrik mengungkapkan bahwa kanker payudara saat ini dianggap sebagai masalah kritis yang secara signifikan berdampak pada kesehatan perempuan, khususnya yang tinggal di Indonesia.
Dari hasil penelitian Herdiansyah et al (2024) melalui percobaan docking menunjukkan bahwa asam ferulic memiliki potensi untuk berinteraksi dengan reseptor kanker payudara MCF-7, sehingga mengganggu pertumbuhan kanker payudara. Asam ferulic membentuk interaksi dengan reseptor melalui ikatan hidrogen dan hidrofobik. Temuan ini berkontribusi pada pemahaman potensi asam ferulat sebagai agen anti agen kanker. Namun, beberapa keterbatasan dalam penelitian ini patut dipertimbangkan, termasuk sifat prediktif dari data yang dihasilkan dalam penelitian ini. Selain itu, prediksi tersebut tidak termasuk pertimbangan faktor fisiologis dan biologis yang mempengaruhi interaksi ligan-protein. Pendekatan penelitian lebih lanjut, seperti in vivo dan in vitro, diperlukan untuk mendukung temuan dalam studi in silico saat ini.
Kesimpulannya adalah asam ferulat, senyawa bioaktif yang tersedia secara melimpah di dalam limbah kelapa sawit, dapat membentuk interaksi dengan reseptor MCF-7, khususnya reseptor 2IOG. Selain itu, senyawa ini memiliki aktivitas farmakokinetik yang ideal sebagai kandidat obat dengan aktivitas mutagenik dan toksisitas yang rendah. Oleh karena itu dapat direkomendasikan untuk mengkonfirmasi potensi anti kanker payudara asam ferulic melalui penelitian lanjutan secara in vivo dan analisis in vitro.
Penulis: Prof. H. Hery Purnobasuki, Drs., M.Si., Ph.D.
Link:
Baca juga: Pemanfaatan Bittern sebagai Koagulan Alami Limbah Batik





