Salah satu kegiatan pertanian yang sedang berkembang di banyak daerah tropis adalah budidaya buah-buahan eksotis, yang mana hal ini memberikan peningkatan nilai ekonomi petani, serta dapat mengubah distribusi dan kelimpahan spesies tumbuhan. Buah-buahan eksotis yang paling banyak dibudidayakan diantaranya adalah kelompok buah beri, seperti stroberi, murbei, dan raspberry (Rubus rosifolius). Meskipun nilai ekonomi raspberry lebih tinggi daripada buah beri lainnya, spesies ini adalah yang paling kecil kemungkinannya untuk dibudidayakan dan, sampai batas tertentu, telah menjadi spesies invasif di dataran tinggi pulau Jawa. Alasan paling umum untuk kurangnya raspberry yang intensif adalah produktivitas yang rendah, yang diduga berkaitan dengan faktor genetik, kondisi tanah, faktor lingkungan, dan interaksi biotik interaksi biotik. Oleh karena hal ini menjadi menarik untuk dieksplorasi faktor penyerbukan yang mendukung keberhasilan budidaya tanaman tersebut.
Tumbuhan Raspberry Mauritius (Rubus rosifolius) adalah tanaman eksotis yang sudah mulai banyak dibudidayakan di Indonesia. Pentingnya factor penyerbukan (polinasi) perlu dipahami oleh petani agar budidaya tanaman ini bisa berhasil. Penyerbukan adalah salah satu interaksi biotik yang penting untuk produksi buah. Raspberry memiliki bunga yang sempurna dengan 60-120 benang sari yang terletak di sekitar wadah pusat dan putik yang muncul secara spiral dari wadah dan sebagian besar mampu melakukan penyerbukan sendiri. Pengaturan ini biasanya hanya memungkinkan kepala putik bagian luar untuk bersentuhan dengan kepala sari, dan penyerbukan serangga, terutama yang dimediasi oleh lebah dan lebah madu, dapat meningkatkan hasil dan kualitas buah yang sesuai dengan standar komersial.
Di alam, tanaman berbunga telah berinteraksi dengan hewan tertentu untuk membantu proses penyerbukannya. Tanaman eksotis biasanya mengalami kekurangan penyerbukan karena tidak tersedianya penyerbuk alami di daerah baru yang bukan habitat hewan tersebut. Kebanyakan hewan penyerbut tersebut adalah serangga dan salah satunya yang terkneal adalah lebah. Manfaat dari penyerbukan alami bergantung pada keanekaragaman dan kelimpahan dari penyerbuk liar yang berkunjung atau menjadikan tanaman tersebut sebagai bahan pangan mereka.
Beragam satwa liar penyerbuk liar akan memberikan layanan penyerbukan yang lebih baik karena spesies serangga yang berbeda dapat saling melengkapi dan menghasilkan efek penyerbukan aditif. Meskipun model ini menjanjikan, akumulasi bukti menunjukkan bahwa populasi penyerbuk liar menurun di seluruh dunia, terutama karena praktik pertanian yang smeakin berkembang.
Di sisi Di sisi lain, perlu ada kejelasan lebih lanjut tentang kuantitas dan kualitas serbuk sari yang ditransfer oleh penyerbuk liar, yang membuat layanan ini relatif tidak stabil dan tidak dapat diandalkan. Selain itu, informasi mengenai dampak penyerbuk liar terhadap produktivitas tanaman eksotis masih relatif langka, yang dapat menyebabkan program konservasi untuk penyerbuk liar seperti lebah yang dapat disalahartikan sebagai serangga perusak.
Hasil penelitian Putra et al (2024) tentang penyerbukan tanaman Rubus rosifolius oleh lebah Tetragonula laeviceps menceritakan banyak tentang peranan hewan penyerbuk tersebut terhadap keberhasilan budidaya tanaman tersebut. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa lebah T. laeviceps sering mengunjungi tanaman tersebut dan melakukan proses penyerbukan. Hal ini dikarenakan Raspberry menyediakan sumber nektar yang melimpah dibandingkan dengan vegetasi di sekitarnya. Kondisi ini sangat menarik bagi penyerbuk liar.
Selain itu penelitian tersebut menunjukkan bahwa lebah lokal yang didomestikasi seperti lebah tanpa sengat (T. laeviceps) dapat digunakan sebagai penyerbuk alternatif untuk raspberry alih-alih mengimpor penyerbuk asli, yang berpotensi mengubah secara signifikan komunitas lokal dan interaksi tanaman-serangga.
Tentu saja hasil penelitian tersebut sangat memberikan pencerahan bagi pengembangan pertanian sayur dan buah. Untuk pertanian skala kecil, penerapan lebah jinak tanpa sengat sebagai lebah peliharaan dapat dikembangkan menjadi sistem pertanian integrative. Pertanian integratif di mana petani bisa mendapatkan tambahan dari produk lebah tanpa sengat (mis, propolis, serbuk sari) sambil mempraktikkan metode ramah lingkungan karena sensitivitas lebah ini terhadap pestisida.
Di masa depan pemeliharaan lebah tanpa sengat yang disandingkan dengan pertanian menjadi suatu bentuk pertanian terpadu yang memberikan harapan cerah terhadap peningkatan dan diversitas produk, baik dari hasil tanaman maupun produk lebah. Ini juga menunjukkan adanya jasa pelayanan ekosistem yang baik terhadap interaksi manusia, hewan dan tumbuhan.
Penulis: Prof. H. Hery Purnobasuki, Drs., M.Si., Ph.D.
Link:
Baca juga: Propolis Lebah untuk Prediksi Jalur Molekuler Antioksidan





