Infeksi malaria masih menjadi masalah kesehatan dunia, yang mengakibatkan morbiditas dan mortalitas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Strategi Teknis Global (GTS) untuk memastikan semua negara mencapai penurunan morbiditas dan mortalitas malaria minimal 40% pada tahun 2021, dibandingkan dengan statistik tahun 2015. Indonesia merupakan salah satu negara yang gagal mencapai tujuan GTS dengan angka morbiditas malaria yang meningkat pada tahun 2021, dibandingkan periode 5 tahun sebelumnya [1].
Peningkatan angka morbiditas malaria terutama disebabkan oleh penularan parasit yang berkelanjutan dan munculnya resistensi terhadap terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT) [2]. Resistensi terhadap ACT menyoroti perlunya mengeksplorasi terapi alternatif, dan penemuan obat baru untuk mencegah dan mengobati malaria sangatlah penting. Senyawa alami memiliki banyak keunggulan yang terbukti dibandingkan obat sintetis, karena senyawa alami lebih hemat biaya, memiliki lebih sedikit efek samping, dan lebih efisien [3]. Salah satu cara yang menjanjikan adalah penggunaan zat alami, termasuk biota laut. Teripang, khususnya Holothuria atra mengandung berbagai senyawa aktif dan menunjukkan berbagai aktivitas antimikroba, termasuk aktivitas virus, bakteri, jamur, dan parasit [4]. H. atra Ekstrak memiliki efek antimalaria melalui studi in vitro dan in silico , menjadikannya kandidat yang menjanjikan untuk pengobatan malaria [5]. Inovasi sangat penting untuk menjaga konsentrasi bahan kimia bioaktif dalam suatu produk, meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan pencegahan resistensi [6]. Formulasi mikroenkapsulasi adalah upaya baru yang mengintegrasikan bahan-bahan spesifik dengan zat aktif, menjaga integritas biologis senyawa, meningkatkan efisiensi, meningkatkan kelayakan komersial, dan meningkatkan stabilitas formulasi [7].
Analisis antimalaria mengevaluasi kemampuan suatu zat untuk menghambat proliferasi Plasmodium (parasit yang bertanggung jawab atas malaria). Ini menilai aktivitas antimalaria dari bahan kimia, ekstrak, atau zat, yang penting untuk mengidentifikasi dan mengembangkan pengobatan antimalaria baru [8]. Aktivitas antimalaria dapat dievaluasi menggunakan beberapa metode, seperti in silico , in vitro , dan in vivo . Penelitian in silico adalah pendekatan yang mahir untuk memeriksa perilaku molekuler dan interaksi kimia tanpa eksperimen fisik, memfasilitasi sintesis molekul aktif yang dapat berfungsi sebagai farmasi [9]. Teknik kultur in vitro menghasilkan wawasan penting tentang perilaku parasit , resistensi pengobatan, dan epidemiologi malaria, sehingga menambah pemahaman dan respons terhadap masalah kesehatan global ini [10]. Uji sitotoksisitas dapat diadaptasi untuk menilai viabilitas sel dan reaksi terhadap agen yang berbeda [11]. Dengan mengevaluasi faktor-faktor seperti integritas membran, aktivitas metabolik, dan proliferasi, peneliti dapat memperoleh wawasan penting tentang bagaimana obat-obatan dan agen lain memengaruhi sistem seluler [12].
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan menganalisis aktivitas antimalaria dan sitotoksisitas dari tiga formulasi mikroenkapsulasi menggunakan kombinasi isolat protein kedelai (SPI) dan gum arab (GA) dengan berbagai rasio dari H. atra. ekstrak, menggunakan pendekatan docking molekuler komputasional dan in vitro .
Pemnulis: Prof. Dr. Widjiati, drh., M.Si.





