Penggunaan bahasa dalam penulisan akademik adalah aspek yang penting dalam menyampaikan gagasan dan temuan penelitian dengan jelas dan tepat. Salah satu teknik linguistik yang relevan adalah “hedging. Hedging merupakan teknik linguistik yang digunakan oleh penulis atau pembicara untuk menghindari komitmen penuh terhadap suatu pernyataan. Teknik ini memungkinkan penulis untuk mengurangi kepastian dalam pernyataan mereka, sehingga menghindari penegasan yang berlebihan dan memungkinkan informasi disajikan sebagai opini daripada fakta mutlak.
Dalam konteks penulisan akademik, penggunaan hedging memiliki beberapa fungsi penting termasuk menciptakan ruang dialogis, mengakui subjektivitas, dan mengurangi kritik yang mungkin merugikan. Selain itu, hedging membantu menjaga objektivitas dalam penulisan ilmiah. Hedging juga memiliki peran dalam membangun hubungan antara penulis, pembaca, dan pemeriksa naskah. Selain memoderasi tingkat kepastian dalam penulisan akademik, penggunaan yang tepat dari teknik hedging juga merupakan bagian dari kompetensi pragmatis seorang penulis. Kompetensi pragmatis mengacu pada kemampuan penulis untuk menggunakan bahasa secara efektif dalam konteks yang dinamis dan beragam. Hal ini memungkinkan mereka untuk menghasilkan teks akademik yang sesuai dengan norma-norma retorika dan harapan komunitas diskursus tertentu. Dengan demikian, penulis harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan teknik hedging yang sesuai saat menulis artikel akademik mereka. Ketika penulis gagal menggunakan teknik hedging dengan baik, ini dapat mengakibatkan kegagalan pragmatis dalam komunikasi tertulis. Pembaca mungkin merasa sulit untuk memahami tingkat kepastian dalam pernyataan, dan hal ini dapat mengganggu pemahaman dan interaksi yang efektif.
Meskipun penggunaan yang tepat dari teknik hedging sangat penting dalam artikel ilmiah berbahasa Inggris, penulis yang bukan penutur asli bahasa Inggris sering kali kurang menggunakan teknik ini. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa penutur bahasa pertama selain bahasa Inggris, termasuk mahasiswa dan peneliti, cenderung menggunakan hedging dengan lebih sedikit dibandingkan dengan penutur asli bahasa Inggris. Keterbatasan dalam penggunaan hedging oleh penutur non-penutur asli bahasa Inggris dapat memengaruhi kualitas penulisan akademik bahasa Inggris mereka. Oleh karena itu, penting bagi penulis non-penutur asli bahasa Inggris untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan teknik hedging dalam penulisan akademik mereka.
Penelitian terakhir kami menggunakan data korpus yang terdiri dari artikel ilmiah yang ditulis oleh penulis Indonesia di bidang ilmu sosial. Korpus secara keseluruhan berisi 2.511.423 kata. Hasilnya menunjukkan bahwa peneliti Indonesia dalam ilmu sosial menggunakan teknik hedging dengan tingkat sekitar 103,77 kata per 10.000 kata. Angka ini relatif rendah dibandingkan dengan penggunaan hedging dalam artikel yang ditulis oleh penutur asli bahasa Inggris dan non-penutur asli bahasa Inggris dalam jurnal internasional yang populer. Hasil ini memiliki implikasi yang penting untuk pengajaran bahasa Inggris dan penulisan akademik di Indonesia. Rendahnya penggunaan hedging mungkin menunjukkan perlunya meningkatkan kesadaran dan memberikan instruksi eksplisit tentang penggunaan yang efektif dalam penulisan akademik. Selain itu, dominasi kata kerja modal (modal verb) dalam penggunaan hedging menunjukkan perlunya memperkenalkan berbagai teknik lainnya kepada penulis Indonesia. Ini dapat membantu mereka dalam mengungkapkan berbagai tingkat ketidakpastian dan kemungkinan dalam tulisan mereka. Pengajaran bahasa Inggris dan penulisan akademik juga harus mempertimbangkan perbedaan dalam konteks akademik, terutama dalam disiplin ilmu tertentu. Teknik hedging dapat beragam dalam konteks yang berbeda, dan penulis perlu memahami bagaimana menggunakan teknik ini dengan tepat dalam disiplin ilmu mereka.
Secara umum, penelitian ini memberikan gambaran mengenai penggunaan hedging dalam artikel penelitian Indonesia di bidang ilmu sosial. Namun, ada beberapa keterbatasan yang perlu diakui. Pertama, penelitian ini hanya berfokus pada artikel penelitian di bidang ilmu sosial yang ditulis oleh penulis Indonesia dan diterbitkan antara tahun 2019 dan 2022. Penggunaan hedging dapat bervariasi dalam berbagai disiplin ilmu, waktu, dan konteks budaya. Oleh karena itu, temuan penelitian ini mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke bidang atau konteks lainnya. Penelitian mendatang dapat menginvestigasi penggunaan hedging oleh penulis Indonesia dalam genre penulisan akademik yang berbeda, seperti tinjauan literatur, studi empiris, atau studi kasus. Menganalisis variasi dalam praktik penggunaan hedging di berbagai genre dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana hedging berfungsi dalam berbagai jenis komunikasi ilmiah. Kedua, penelitian mendatang dapat juga fokus pada analisis penggunaan hedging dalam bagian-bagian khusus dari artikel penelitian, seperti pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi, hasil, dan bagian diskusi. Analisis rinci ini dapat memberikan wawasan tentang bagaimana hedging digunakan untuk memperkenalkan informasi latar belakang, menyajikan temuan penelitian, atau menginterpretasikan hasil.
Penulis: Muchamad Sholakhuddin Al Fajri
Informasi detail dari artikel ini dapat dibaca lebih lengkap pada tautan publikasi ilmiah berikut:





