Penuaan kulit merupakan kerusakan kumulatif yang terjadi akibat proses di dalam tubuh yang kompleks, baik dari factor genetik dan lingkungan. Jenis penuaan ekstrinsik (dari luar/photoaging) merupakan penuaan kulit yang di sebabkan oleh paparan radiasi UB dan sinar matahari. Gambaran kulit yang mengalami penuaan seperti kulit kering, kerutan, mulai tampak pembuluh darah kecil,perubahan pigmen/warna kulit dan berkurangnya elasti kulit. Photoaging cenderung lebih menonjol pada kelompok demografi yang memiliki tipe kulit I, II, dan III pada skala Fitzpatrick, tidak seperti mereka yang memiliki tipe kulit IV, V, dan VI. Di antara peserta yang berusia di bawah 30 tahun dalam sebuah penelitian di Australia, 72% pria dan 47% wanita menunjukkan tanda-tanda photoaging sedang hingga parah. Pada populasi berkulit gelap, kerutan tidak muncul hingga usia 50 tahun dan tingkat keparahannya tidak terlalu menonjol dibandingkan pada populasi berkulit terang pada usia yang sama.
Ekstrak tanaman kaya akan senyawa antioksidan yang dapat memberikan perlindungan terhadap kerusakan akibat sinar UV dan proses penuaan pada kulit. Teh hijau (Bunga Camellia sinensis), kaya akan katekin sebagai salah satu ekstrak tanaman yang cocok untuk mencegah proses penuaan. Secara khusus, unsur utama yang ditemukan dalam teh hijau, epigallocatechin-3- gallate (EGCG), menunjukkan fungsi fisiologis aktif yang telah diverifikasi pada kulit hewan dan manusia. Paparan terhadap dua komponen radiasi UV matahari yang mencapai permukaan bumi, UVA (320“400 nm) dan UVB (290“320 nm). Penelitian oleh Kim dkk di Korea mengenai efek EGCG pada beberapa mekanisme perlindungan kulit dari photoaging, yaitu meningkatkan hidrasi kulit, yang parameternya meliputi ekspresi gen hyaluronidase (HYAL) dan hyaluronic acid syntase (HAS), dan meningkatkan ekspresi filagrin (FLG), transglutaminase-1, HAS-1, dan HAS-2, yang memengaruhi pembentukan faktor pelembab alami (NMF). Epigallocatechin-3-gallate memiliki efek antiapoptotik, dengan mengurangi sekresi dan produksi melanin pada sel melanoma dan caspase-8 dan -3 pada sel HaCaT.
Bagian dari keluarga retinoid alami endogen, alltrans retinol, juga dikenal sebagai alkohol Vitamin A, berfungsi sebagai prekursor untuk sintesis asam retinal dan retinoat dalam tubuh. Meskipun digunakan dalam produk kosmetik yang dijual bebas (OTC) sejak tahun 1984, potensi terapeutik all-trans retinol untuk penanganan photoaging. Kang et al. (1995) menunjukkan bahwa aplikasi zat ini pada kulit manusia normal menyebabkan peningkatan ekspresi mRNA asam retinoat, protein CRBP, dan CRABP II, serta penebalan epidermis. Khususnya, penelitian ini menemukan bahwa, dibandingkan dengan tretinoin, retinol menunjukkan gejala eritema dan iritasi yang minimal.
Analisis menggunakan pendekatan SAR menunjukkan bahwa EGCG memiliki potensi lebih baik daripada retinol di tinjau dari efek agonis asam hialuronad, penghambat factor NFKB, antioksidan dan sebagai penhambat radikal bebas.
Kesamaan antara EGCG dan Hyaluron lebih tinggi dibandingkan dengan Hyaluron dan Retinol. Meskipun skor keduanya masih relatif rendah. Kesamaan Tanimono memiliki rentang skor 0 “ 1. Semakin mendekati 1, semakin mirip kedua struktur tersebut.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Damayanti dkk di 51¶¯Âþ, Indonesia menemukan bahwa EGCG memiliki efek pencegahan photoaging melalui interaksinya dengan protein Keap1-Nrf2 yang berkontribusi terhadap perkembangan photoaging. Epigallocatechin gallate berikatan dengan Keap1-Nrf2, dengan farmakokinetik yang baik karena dapat diserap dengan baik, dan toksisitasnya minimal hingga tidak ada.EGCG juga mencegah kerusakan DNA, terutama pada epidermis. Kerusakan awal pada kulit ditunjukkan dengan warna kulit yang menjadi kemerahan, dan EGCG berperan langsung dalam mengurangi kemerahan pada kulit setelah terpapar sinar UV.
Penulis : dr. Riyana Noor Oktaviyanti,M.Ked.Klin, Sp.DVE
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:
Baca juga: Kompatibilitas Putih Telur dan Daging Ayam sebagai Alergen dalam Dermatitis Atopik





