Penyebaran penyakit difteri pada tahun 2018 mengakibatkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di 28 provinsi dan 142 kabupaten/kota di Indonesia. Difteri menyebar melalui udara dan air liur oleh bakteri Corynebacterium diphtheria sehingga menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Salah satu tanda penyakit difteri adalah selaput semu menebal sehingga menyebabkan kesulitan bernapas. World Health Organization (WHO) memperkirakan difteri dapat menyebabkan sekitar 30% kasus tanpa vaksinasi dan pengobatan yang tepat.
Difteri memiliki risiko kematian yang lebih tinggi pada anak-anak. Mayoritas kasus difteri di Nigeria terjadi pada anak-anak berusia antara 2 hingga 14 tahun. Sebagai penyakit Emerging disease, difteri pernah terkendali tetapi muncul kembali dengan angka kejadian yang semakin meningkat. Berdasarkan sumber https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/, sejak tahun 2019 hingga 2024 sebanyak 1,8 juta anak Indonesia tidak mendapatkan imunisasi rutin. Akibatnya, Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri kembali terjadi di Indonesia. Lima pulau terbesar di Indonesia dengan kasus difteri adalah Jawa dengan 474 kasus dan 26 kematian, Sumatera dengan 114 kasus dan 5 kematian, Kalimantan dengan 13 kasus dan 1 kematian, Sulawesi dengan 11 kasus, dan Papua dengan 1 kasus. Difteri juga dilaporkan terjadi di Bangladesh, Yaman, dan Venezuela.
India mengalami tingkat kematian sebesar 15% akibat wabah difteri. Di antara hasil yang paling mungkin terjadi pada tahun 2022 adalah difteri toksigenik akan menyebar lebih cepat. Queensland Utara, Australia, juga mengalami peningkatan kasus difteri toksigenik. Difteri toksigenik disebabkan oleh Corynebacterium penghasil toksin, yang menyebabkan masalah pernapasan dan kulit. Kasus difteri meningkat/muncul kembali di Nigeria. Difteri muncul kembali di Pakistan setelah pandemi Covid-19, mengakibatkan 124 kematian di seluruh provinsi.
Penularan difteri di Jawa Barat menjadi perhatian kami dalam makalah ini. Temuan dari artikel ini adalah penerapan teknik isolasi dan estimasi parameter menggunakan extended Kalman filter pada model penularan difteri. Dari nilai eigen matriks generasi berikutnya, diperoleh bilangan reproduksi dasar. Kemudian, penerapan menggunakan extended Kalman filter memberikan tren bilangan reproduksi dasar model difteri dengan beberapa kasus: DPT saja, Booster saja, dan kombinasi DPT dan booster.
Berdasarkan nilai RMSE, NRMSE, dan MAPE, metode Extended Kalman Filter memberikan hasil yang signifikan dalam memperkirakan bilangan reproduksi dasar pada data aktual kasus difteri di Jawa Barat. Kami juga mempelajari populasi yang dikarantina dalam artikel ini, karena tingkat isolasi memiliki dampak yang signifikan terhadap profil populasi yang rentan, terinfeksi, dikarantina, dan pulih. Berdasarkan hasil yang diperoleh, DPT hanya memberikan angka terkecil jika dibandingkan dengan Booster saja dan kombinasi DPT dan Booster. Hal ini kemungkinan terjadi apabila hanya diberikan DPT, tubuh membentuk sistem kekebalan sehingga pemberian Booster saja tidak memberikan hasil yang signifikan dalam menurunkan tingkat efektivitas penularan difteri (menurunkan angka reproduksi dasar).
Cakupan imunisasi yang tidak memadai, akses terbatas ke perawatan kesehatan, dan kurangnya pengetahuan publik semuanya berkontribusi terhadap penyebaran penyakit yang dapat dicegah seperti difteri. Selama COVID-19, sumber daya dan perhatian kesehatan dialihkan untuk memerangi epidemi, yang dapat berdampak pada pengawasan, diagnosis, dan pengobatan difteri. Karena populasi manusianya yang padat, Provinsi Jawa Barat dianggap sebagai salah satu tempat dengan risiko tertinggi di Indonesia untuk infeksi difteri. Dengan sejumlah besar orang yang tinggal berdekatan, kemungkinan penularan bakteri difteri meningkat. Lingkungan hidup yang padat dan sesak dapat membantu penyebaran penyakit, terutama di tempat-tempat dengan akses yang buruk ke perawatan kesehatan dan tingkat vaksinasi yang rendah.
Profil kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa jumlah infeksi difteri tumbuh cukup besar pada tahun 2016. Sayangnya, kasus difteri di banyak lokasi di Jawa Barat telah meningkat sejak pandemi COVID-19. Gambar 14a menunjukkan bahwa pola akumulasi kasus bulanan di Jawa Barat meningkat dari Januari 2021 hingga April 2023. Vaksinasi penguat mengandung antigen difteri, yang mengingatkan sistem imun akan pelatihan awalnya dan membuatnya siap untuk segera merespons potensi paparan difteri. Kombinasi DPT 1, DPT 2, DPT 3, dan vaksin penguat memberikan kekebalan jangka panjang dan resistensi yang kuat terhadap difteri, melindungi masyarakat dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan dengan menurunkan risiko penularan difteri.
Dalam beberapa tahun terakhir, provinsi Jawa Barat telah meningkatkan layanan kesehatan masyarakat untuk difteri melalui program vaksinasi yang komprehensif. Vaksin DPT telah mengurangi kejadian difteri di semua wilayah Jawa Barat. Ketimpangan geografis, sikap budaya, dan akses terbatas ke layanan kesehatan membuat Jawa Barat sulit mempertahankan cakupan imunisasi yang tinggi di semua wilayah. Namun, cakupan vaksin DPT dan penguat tetap cukup tinggi selama delapan tahun terakhir.
Tren angka reproduksi dasar dan angka penularan, dimana tren angka penularan berbanding lurus dengan tren angka reproduksi dasar. Pada kisaran skala 07 (Januari 2021 s/d Juli 2021) angka reproduksi dasar masih berada di bawah angka 1 (ambang batas angka reproduksi dasar). Artinya pada rentang tersebut penularan difteri tidak terlalu signifikan. Namun pada skala 827 (Agustus 2021 s/d Maret 2023) tren angka reproduksi terus meningkat hingga melewati batas ambang, artinya pada rentang tersebut penularan difteri sangat signifikan, yang mana sejalan dengan data aktual kasus difteri yang terus meningkat di Jawa Barat. DPT hanya memberikan angka reproduksi dasar yang paling kecil jika dibandingkan dengan angka reproduksi dasar yang dihasilkan oleh booster saja dan kombinasi DPT dan booster. Hasil ini juga sejalan dengan analisis model kami (tanpa data aktual) dimana DPT hanya memberikan dampak yang sangat signifikan dalam menurunkan tingkat keseriusan penularan difteri, yaitu karena adanya kemungkinan tubuh membentuk sistem kekebalan tubuh ketika DPT saja.
Penulis:听Mohammad Ghani, Ph.D.
Tautan Artikel:听听





