Potentially inappropriate medication (PIM) salah satu faktor yang menyebabkan masalah terkait pengobatan pada orang lanjut usia. PIM adalah obat dengan risiko efek samping yang lebih signifikan daripada manfaatnya bila digunakan oleh orang dewasa yang lebih tua, terutama jika tersedia terapi alternatif yang lebih aman dan memberikan efektivitas yang sama. Preskripsi PIM pada orang lanjut usia adalah masalah yang menjadi beban untuk layanan kesehatan, berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi morbiditas, rawat inap, dan biaya.
Pendekatan yang paling sering digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan PIM dalam terapi pasien adalah American Geriatrics Society (AGS) Beers Criteria庐, sebuah pendekatan berbasis konsensus interdisipliner yang mencantumkan obat yang dikategorikan sebagai PIM pada orang lanjut usia. Beers Criteria庐 terus diperbarui dan merupakan alat ukur penting dalam mengidentifikasi PIM untuk meningkatkan kualitas dan keamanan terapi. Selain itu, Beers Criteria庐 dapat digunakan di berbagai area layanan.
Lansia mengalami penurunan progresif pada berbagai sistem dan organ. Ini berkontribusi untuk meningkatkan prevalensi penyakit dan kerentanan untuk menerima lebih banyak obat. Mereka menerima lebih dari dua jenis obat dan polifarmasi terjadi pada 20-50% pasien usia lanjut ini. Akibatnya, hal itu dapat menempatkan mereka pada risiko tinggi masalah terkait obat dan menyebabkan masuk rumah sakit
Secara global, jumlah pasien lanjut usia yang dirawat di unit gawat darurat (UGD) rumah sakit meningkat secara signifikan setiap tahunnya, sejalan dengan pertumbuhan populasi yang menua dan peningkatan harapan hidup. Pada tahun 2015, sekitar 13 juta pasien datang ke UGD dengan riwayat diabetes di Amerika, 59% di antaranya adalah lansia. Di Indonesia, hampir 25% orang berusia >65 tahun mengunjungi IGD minimal setahun sekali, dan 8% melakukan kunjungan berulang. Di sisi lain, IGD adalah area pelayanan yang berisiko tinggi untuk terjadinya kesalahan pengobatan di rumah sakit. Beberapa faktor penyebabnya antara lain: (1) pasien dalam kondisi gawat darurat; (2) pasien dari berbagai usia; (3) tingginya penggunaan obat kewaspadaan tinggi; (4) pengobatan dilakukan secara bersamaan pada pasien; (5) dan kurangnya kemampuan petugas kesehatan untuk berkomunikasi dengan pasien karena padatnya pelayanan.
Selain PIM, kompleksitas rejimen pengobatan juga berperan dalam masalah terkait obat dan kejadian rawat inap kembali dan rawat inap pada pasien lanjut usia. Oleh karena itu, apoteker rumah sakit harus memperhatikan kompleksitas pengobatan pada pasien usia lanjut. Medication regiment complexity index (MRCI) adalah instrumen tervalidasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan kompleksitas pengobatan, termasuk bentuk sediaan obat, frekuensi pemberian dosis, dan petunjuk tambahan.
Sepengetahuan penulis, terdapat keterbatasan informasi mengenai PIM dan kompleksitas pengobatan di antara penduduk Indonesia. Oleh karena itu, untuk melengkapi kesenjangan pengetahuan ini, studi tentang PIM dan kompleksitas pengobatan pada lansia yang mengunjungi instalasi gawat darurat rumah sakit di Indonesia diperlukan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Selain itu, hasil studi dapat digunakan untuk mengidentifikasi pasien lanjut usia yang berisiko mengalami efek samping obat atau yang memerlukan pengawasan dari tenaga medis spesialis.
Studi ini menemukan bahwa lebih dari separuh orang dewasa yang dirawat di UGD memiliki PIM, dan kompleksitas pengobatan yang tinggi diamati. Pasien dengan penyakit endokrin, penyakit gizi dan metabolisme merupakan faktor risiko untuk PIM dan kompleksitas rejimen pengobatan. Pemantauan dan kewaspadaan yang ketat diperlukan pada PIM dan kompleksitas rejimen pengobatan pada lansia dengan kelompok penyakit yang disebutkan dalam penelitian ini untuk mencegah potensi dampak buruk pada pasien yang rentan dan meningkatkan sistem kesehatan.
Penulis: apt. Mahardian Rahmadi, S.Si., M.Sc., Ph.D.
Link Artikel Jurnal :





