51动漫

51动漫 Official Website

Prevalensi dan Profil Resistensi Antimikroba pada Escherichia Coli Dari Daging Broiler

Foto by Titiknol

Resistensi antimikroba yang dihadapi Indonesia mirip dengan banyak negara berkembang lainnya dimana resistensi terjadi karena penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan pada manusia, ternak, unggas, maupun akuakultur. Ketika negara-negara berpenghasilan rendah beralih ke pendapatan yang lebih tinggi dan disertai dengan pertumbuhan populasi, akan ada peningkatan permintaan akan sumber protein hewani, yang selanjutnya mengakibatkan sistem produksi unggas beralih dari praktik pertanian subsiden ke produksi pangan intensif, yang menyiratkan penggunaan antimikroba secara rutin. Berdasar Badan Pusat Statistik Indonesia, produksi daging broiler di Provinsi Jawa Timur adalah 506.731,16 ton pada tahun 2019, 424.942,68 ton pada tahun 2020, dan 442.478,71 ton pada tahun 2021, dengan rerata konsumsi cukup tinggi yaitu 0,12 kg/kapita/minggu pada tahun 2021. Besarnya jumlah produksi dan jumlah konsumen daging broiler menyebabkan risiko resistensi antimikroba yang signifikan dari penyalahgunaan antimikroba. Hal ini sangat berbahaya bagi hewan dan manusia karena pengobatan penyakit menular dapat memakan waktu lebih lama dan bahkan dapat menyebabkan kegagalan pengobatan.

Escherichia coli dikenal sebagai indikator kualitas sanitasi makanan. E. coli patogen ekstraintestinal merupakan penyebab paling umum infeksi ekstraintestinal yang didapat dari masyarakat dan rumah sakit, berasal dari garis keturunan bakteri yang sama atau memiliki akar evolusi yang sama dengan E. coli patogen pada unggas, sehingga memungkinkan unggas menjadi reservoir untuk infeksi E.coli pada manusia. E. coli umum digunakan dan dimasukkan dalam program pemantauan resistensi antimikroba. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, sampel daging broiler yang didapatkan dari beberapa Rumah Potong Unggas (RPU) di Jawa Timur positif E. coli sebesar 44,26% (54/122). E. coli umum terdapat pada saluran pencernaan mamalia dan unggas. Penularan E. coli dapat melalui feses yang mencemari daging pada saat penyembelihan, bisa juga masuk ke sumber air minum dan juga menempel pada buah dan sayuran. Patogen pada daging dapat dideteksi di berbagai titik dalam rantai pasokan makanan. Sehingga penting untuk ditentukan sumber munculnya patogen dan bagaimana patogen berperilaku selama produksi daging dan pengolahan. Berbagai referensi menyatakan bahwa selama proses penyembelihan, daging bisa terpapar banyak sumber kontaminasi.

Antibiotik yang paling sering digunakan pada peternakan broiler komersial skala kecil dan menengah di Indonesia adalah enrofloxacin, amoxicillin/colistin, trimethoprim/sulfadiazine  dan doksisiklin. Umumnya, peternak rutin melakukan pemberian antibiotik sebagai profilaksis bagi ternaknya. Pada hasil uji sensitifitas antibiotik, menunjukkan adanya variasi resistensi E. coli yang teridentifikasi terhadap antiobiotik eritromisin (66,7%), trimethoprim (61,1%), ampisilin (59,3%), siprofloksasin (35,2%), streptomisin (33,3%), sefalotin (27,8%), tetrasiklin (24,1%), dan kloramfenikol (24,1%). Ditemukannya juga resistensi E.coli terhadap lebih dari tiga antibiotik (multi-drug resistant) sebesar 59,26% (32/54). Penggunaan antibiotik pada peternakan broiler komersial di Indonesia cukup tinggi. Hal ini dikarenakan peternak dapat mengakses antibiotik dengan mudah melalui sumber obat hewan lokal dengan biaya yang relatif rendah. Resistensi terhadap eritromisin, trimetoprim dan ampisilin dominan pada isolat E. coli, dimana  ketiga antibiotik ini biasa digunakan pada ternak dan unggas dan telah dikenal sejak lama; akibatnya, resistensi dapat terjadi karena penggunaan antibiotik ini dalam jangka panjang dalam produksi unggas.

Resistensi apa agen pathogen mudah untuk ditularkan mengingat agen pathogen dapat menjadi resisten terhadap antibiotik melalui tiga mekanisme: pertama, obat tidak dapat mencapai tempat kerjanya dalam sel mikroba, kedua, dengan inaktivasi antibiotik, dan ketiga, mikroba dapat mengubah tempat pengikatan antibiotik. Bakteri yang resisten di hewan atau bahan pangan asal hewan dapat memindahkan sifat resistensi tersebut kepada bakteri yang hidup di usus dan bakteri patogen yang masuk ke pencernaan manusia. Hal ini menyebabkan penyembuhan penyakit pada manusia menjadi sulit dilakukan dan dapat menurunkan level biosafety pada lokasi tersebut. Adanya E. coli pada daging broiler untuk konsumsi manusia dapat menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui daging, dan penemuan multi-drug resistant menjadi perhatian dalam pendekatan One Health karena selain memiliki berdampak pada kesehatan manusia sebagai konsumen daging, juga dapat berdampak pada kesehatan hewan dan lingkungan. Oleh karena itu, untuk menghindari hal ini, praktik higienis yang baik diperlukan di rumah potong untuk mencegah kontaminasi produk unggas.

Penulis : Prima Ayu Wibawati

Sumber: Wibawati PA, Hartadi EB, Kartikasari AM, Wardhana DK, and Abdramanov A (2023) Prevalence and profile of antimicrobial resistance in Escherichia coli isolated from broiler meat in East Java, Indonesia, Int. J. One Health, 9(1): 27-31.

Link Jurnal:

AKSES CEPAT