Pandemi Covid-19 tidak hanya menimbulkan korban jiwa tetapi juga menghadirkan tekanan luar biasa pada tata kelola sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan. Problem ini tidak hanya dirasakan di tingkat pusat namun juga di tingkat daerah. Pemerintah Kabupaten / Kota melalui Dinas Kesehatan harus berupaya agar manajemen logistik obat-obatan berjalan tanpa hambatan dengan tujuan utama yaitu memenuhi kebutuhan obat masyarakat.
Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota dituntut untuk mampu mengatur dan mendistribusikan obat dan perbekalan kesehatan melalui Puskesmas. Permintaan beberapa obat tertentu seperti antivirus, antibiotik dan obat untuk gangguan pernafasan melonjak. Hal ini mengakibatkan kejadian obat kosong menjadi lazim terjadi. Ditambah lagi dengan gangguan pada proses distribusi akibat pemberlakuan pembatasan perjalanan semakin menambah tekanan pada manajemen pengobatan. Pun demikian, keterbatasan anggaran ditengah masa pandemi menyebabkan Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan obat masyarakat.
Peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 kemudian melakukan penelusuran terhadap problematika manajemen logistik obat-obatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul sebagai model salah satu Kabupaten / Kota terdampak pandemi Covid-19. Peneliti mengumpulkan data pengelolaan obat mulai tahun 2019 s/d 2021 untuk kemudian dievaluasi berdasarkan parameter tata kelola obat yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan.
Secara umum, ketersediaan obat-obat esensial berada diatas 90%. Namun demikian, terjadi tren penurunan ketersediaan secara linier selama 3 tahun. Meskipun nampak besar, faktanya terdapat gap 10% dari nilai 100% yang dipersyaratkan. Sebaliknya, kontraksi anggaran terjadi dalam kurun waktu 3 tahun dengan lonjakan tertinggi terjadi dari tahun 2020 (87%) ke tahun 2021 (124%). Tak mengherankan jika kemudian persentase obat kadaluwarsa dan stok berlebih (overstock) tertinggi terjadi di tahun 2021 dengan nilai masing-masing 47% dan 12.88%. Hal ini tentu bertolakbelakang dengan besaran indicator yang seharusnya 0%.
Kondisi ketidakpastian selama pandemi Covid-19 menjadi faktor penting yang memengaruhi fluktuasi manajemen logistik di Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul. Alhasil, pemenuhan indicator cenderung tidak tercapai yang tentunya berdampak pada pemenuhan kebutuhan obat Masyarakat. Peneliti menyarankan perlunya pemeriksaan lebih lanjut terhadap aspek perencanaan dan Pengadaan pada kondisi ekstrim seperti pandemi Covid-19.
Penulis: Andi Hermansyah, S.Farm., Apt., M.Sc., Ph.D.
Artikel dapat diakses di





