Singkong, ketela pohon, ubi kayu adalah nama yang lazim kenal dari tanaman Cassava (Manihot esculenta crantz). Tanaman ini tumbuh subur di Indonesia maupun di negara-negara tropis atau subtropis. Bahkan di beberapa negara seperti Kongo, Ghana dan Nigeria, singkong menjadi makanan pokok dan sumber nutrisi utama masyarakat. Permintaan terhadap singkong cukup tinggi di negara-negara afrika sehingga Badan Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization) pada tahun 2003 lalu menobatkan singkong sebagai sumber pangan penting di kawasan Afrika. Selain sumber nutrisi, siapa sangka singkong memiliki beragam aktivitas farmakologis dan khasiat penting untuk pengobatan.
Peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 bekerjasama dengan peneliti dari Universiti Brunei Darussalam, Universiti Kebangsaan Malaysia dan Sunway University Malaysia membuat telaah sistematis tentang aktivitas farmakologi, kandungan nutrisi dan fitokimia singkong. Telaah dilakukan pada artikel publikasi yang diterbitkan oleh database internasional seperti Cochrane Library, PubMed, Scopus, Web of Scholar, Google Scholar dan platform preprint.
Sejumlah 1582 artikel muncul dari hasil pencarian di database internasional namun hanya 34 artikel yang pada akhirnya ditelaah. Hasil telaah menunjukkan bahwa ekstrak singkong memiliki beragam kandungan yang bekhasiat farmakologis. Sebagai contoh, singkong mengandung flavonoid yang dapat berfungsi sebagai antioksidan dan antibakteri. Kandungan tanin dan terpenoid pada singkong dapat berkhasiat sebagai antelmintik (anti cacing). Belum lagi kandungan asam galat, kaemferol dan sianida yang masing-masing dapat berkhasiat sebagai antimelanogenesis, antiinflamasi, dan antikanker. Masih banyak lagi ragam khasiat dari singkong.
Selain aspek farmakologi, singkong ternyata memiliki kandungan nutrisi yang lengkap. Bagian akar dan daunnya merupakan sumber karbohidrat, vitamin dan mineral yang bisa menjadi sumber pangan. Ketika diolah menjadi tepung tapioka, singkong dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan. Peneliti juga menemukan bahwa singkong yang telah diekstrak dan diproses merupakan bentuk yang paling aman untuk dikonsumsi. Di beberapa negara, singkong diolah menjadi bentuk serbuk, dibuat roti singkong, maupun sebagai bahan sup dan minuman.
Peneliti menyimpulkan bahwa singkong potensial menjadi sumber pangan utama di dunia sekaligus kandidat yang kuat sebagai bahan aktif obat. Singkong dengan beragam kandungan fitokimianya dapat berkhasiat secara efektif sebagai antidiabetes, obat kanker, antioksidan, anticacing dan sebagainya. Sayangnya belum banyak penelitian yang membahas tentang sisi baik dari singkong ini sehingga mendatang perlu dilakukan pengkajian lebih dalam tentang singkong.
Penulis: Andi Hermansyah, S.Farm., Apt., M.Sc., Ph.D.
Artikel dapat dibaca lebih lanjut di





