51动漫

51动漫 Official Website

Problematika Rujuk Balik Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Puskesmas

Kesinambungan perawatan pasien (continuity of care) terutama dalam kasus pasien dengan penyakit kronis adalah hal kritis yang perlu diperhatikan ketika pasien pulang dari rumah sakit. Dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pasien yang pulang dari rumah sakit akan mendapatkan perawatan lanjutan di fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama yang disebut rujuk balik. Salah satu faskes yang berperan dalam pelayanan rujuk balik adalah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Melalui program rujuk balik, BPJS Kesehatan membuka akses kepada pasien dengan penyakit kronis untuk mendapatkan perawatan jangka panjang hingga kondisinya stabil. Salah satu penyakit yang termasuk dalam program rujuk balik adalah diabetes mellitus tipe 2. Peserta rujuk balik akan mendapatkan suplai obat untuk kebutuhan paling banyak 30 hari dan berlanjut hingga 3 bulan rujukan.

Terlepas dari pentingnya program rujuk balik bagi pasien penyakit kronis, nyatanya muncul beberapa kendala yang menghambat kesinambungan perawatan kesehatan pasien. Beberapa kendala yang dialami adalah rendahnya kesinambungan hubungan, informasi dan dokumentasi antara rumah sakit dengan Puskesmas. Hal ini berimbas pada kemungkinan terjadinya miskomunikasi, kejadian obat kosong atau justru dobel pengobatan dan keluhan terkait pelayanan yang tidak komprehensif. Oleh karena itu diperlukan analisis lebih lanjut mengenai problematika ini pada pasien penyakit kronis.

Peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 kemudian melakukan studi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di lima Puskesmas terpilih di Banjarmasin. Total 30 orang pasien terlibat dalam studi ini dam responden diberi pertanyaan tentang kendala saat kunjungan rutin di Puskesmas, kendala saat penyusunan rencana terapi dan kendala saat monitoring dan evaluasi oleh Puskesmas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60% tidak rutin periksa kembali atau tidak tepat waktu dengan jadwal periksa yang seharusnya. Inkonsistensi dan ketidaklengkapan informasi didapatkan pasien dari tenaga kesehatan yang menangani di Puskesmas. Salah satunya tidak ada dokumentasi yang merekam riwayat pasien sebelumnya. Ditambah lagi, pasien kerapkali dirawat oleh tenaga kesehatan yang berganti-ganti sehingga konsistensi untuk interaksi terutama dengan dokter pilihan menjadi rendah. Monitoring luaran klinik dan evaluasi juga jarang dilakukan meskipun sudah dipersyaratkan bagi peserta program.

Peneliti menyimpulkan bahwa program rujuk balik pasien diabetes mellitus tipe 2 masih didominasi oleh ketidakpatuhan pasien terutama untuk berobat secara rutin, tidak ada dokumentasi dan kurangnya standarisasi untuk monitoring luaran klinik dan evaluasi perkembangan pasien.

Penulis: Andi Hermansyah

Hasil penelitian dapat dibaca di tautan

AKSES CEPAT