51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Procalcitonin Selamatkan Nyawa Anak dari Sepsis

Peran Orang Tua dalam Perawatan Atraumatik selama Anak Dirawat di Rumah Sakit
Sumber: Curcuma Plus

Syok sepsis merupakan salah satu kondisi medis paling mematikan dan menjadi penyebab utama tingginya angka kematian pada anak di Unit Perawatan Intensif Anak (PICU). Sepsis terjadi ketika tubuh merespons infeksi secara berlebihan hingga menyebabkan peradangan sistemik dan kegagalan sirkulasi darah. Kondisi ini tetap berbahaya meski pasien telah menjalani resusitasi cairan yang memadai. Di Indonesia, lebih dari 50% kasus sepsis pada anak berakhir fatal. Sehingga deteksi dini menjadi kunci untuk menekan angka kematian.

Tantangan Diagnosis Dini Sepsis

Kultur darah hingga kini masih dianggap sebagai standar emas untuk mendeteksi infeksi dan mengidentifikasi patogen penyebab sepsis. Namun, metode ini membutuhkan waktu dua hingga empat hari untuk menghasilkan data lengkap. Keterlambatan diagnosis sering kali berakibat fatal karena pasien membutuhkan tindakan segera. Untuk mengatasi hal ini, dunia medis berupaya menemukan biomarker yang mampu memberikan prediksi prognosis lebih cepat dan akurat.

Beberapa biomarker yang sering digunakan adalah C-reactive protein (CRP), procalcitonin (PCT), dan rasio CRP terhadap albumin (CAR). CRP dan PCT meningkat hanya beberapa jam setelah infeksi sistemik, sementara kadar albumin biasanya menurun karena peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Kombinasi antara CRP dan albumin dianggap mampu memperkirakan tingkat keparahan penyakit dan memperkuat penilaian klinis pasien.

Procalcitonin Tunjukkan Akurasi Tertinggi

Penelitian retrospektif terhadap 69 pasien anak dengan syok sepsis di PICU Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya dilakukan untuk membandingkan akurasi keempat biomarker tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa procalcitonin menjadi penanda paling akurat untuk memprediksi risiko kematian pada pasien anak. Kadar PCT di atas 5,44 ng/mL berhubungan dengan peningkatan risiko mortalitas, di mana sekitar 63,6 persen pasien yang meninggal memiliki kadar PCT lebih tinggi dari batas tersebut.

Penelitian juga menemukan bahwa CRP, CAR, dan hasil kultur darah tidak memiliki perbedaan signifikan dalam memprediksi kematian secara mandiri. Artinya, meskipun biomarker lain masih memiliki nilai diagnostik, procalcitonin tetap unggul dalam menilai prognosis mortalitas pasien syok sepsis.

Implikasi Klinis bagi Penanganan Sepsis Anak

Mayoritas kasus syok sepsis yang berujung pada kematian terjadi pada kelompok bayi berusia 1“12 bulan dengan dominasi jenis kelamin laki-laki. Data menunjukkan bahwa anak perempuan memiliki peluang bertahan hidup 3,6 kali lebih besar dibandingkan anak laki-laki. Selain itu, sebagian besar kasus berasal dari pasien dengan penyakit pernapasan yang berat.

Temuan ini menegaskan bahwa pengukuran kadar procalcitonin sangat penting untuk mendeteksi risiko kematian sejak dini pada pasien anak dengan syok sepsis. Dengan diagnosis yang lebih cepat, tenaga medis dapat segera melakukan intervensi agresif dan manajemen klinis yang tepat. Langkah ini tidak hanya meningkatkan peluang hidup pasien, tetapi juga membuka peluang pengembangan strategi diagnostik baru dengan biomarker yang lebih beragam dan efisien di masa depan.

Penulis: Arina Setyaningtyas, dr., M.Kes., Sp.A(K).

AKSES CEPAT