UNAIR NEWS – Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat di Desa Randubener, Kabupaten Lamongan, Program Studi Pengobat Tradisional 51 menyelenggarakan pengabdian masyarakat (pengmas). Pengmas ini mengusung tema Patok Paku: Pengembangan Toga dan Pijat Akupresur untuk Upaya Preventif dan Promotif Kesehatan Keluargayang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pengobatan tradisional berbasis akupresur dan tanaman obat keluarga (TOGA).
Beberapa kegiatan preventif dan promotif terselenggara sebagai bentuk kontribusi nyata dalam mendukung program kesehatan dan pemanfaatan tanaman TOGA. Kegiatan pengmas ini berlangsungdi lingkungan desa pada Sabtu (19/7/2025) dan terbagi dalam tiga sesi materi. Antara lainakupresur, edukasi herbal lokal, dan teknik budidaya tanaman obat di halaman rumah.
Penyuluhan dan Demonstrasi Akupresur
Dr Ario Imandiri SpAk dokter spesialis akupunktur medik mengenalkan peserta dasar-dasar akupresur. Termasuk pengenalan titik-titik akupresur penting di tubuh, serta teknik dasar penerapan tekanan secara mandiri. Edukasi ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat agar dapat menerapkan terapi sederhana untuk mengurangi keluhan kesehatan ringan, seperti nyeri kepala, pegal otot, atau kelelahan, tanpa ketergantungan pada obat kimia.
Sosialisasi Pemanfaatan Herbal Lokal
Selanjutnya, Myrna Adianti SSi MKes PhD menyampaikan pentingnya penggunaan herbal lokal sebagai alternatif pengobatan yang aman dan mudah diakses masyarakat. Sosialisasi ini berfokus pada tiga jenis tanaman obat yang umum dan mudah dibudidayakan. Seperti jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum), sereh (Cymbopogon citratus), dan bunga telang (Clitoria ternatea). Setiap tanaman dibahas secara mendalam. Mulai dari kandungan bioaktifnya, manfaat farmakologis, hingga cara pengolahan yang tepat untuk mendukung kesehatan keluarga. Misalnya, jahe merah dikenal memiliki efek antiinflamasi dan antinyeri, sedangkan bunga telang kaya akan antioksidan.
Teknik Budidaya dan Praktik Penanaman TOGA
Sesi terakhir berfokus pada aspek praktis budidaya tanaman obat yang dipandu oleh Panca Rahadi Mulyo SP, praktisi pertanian lulusan Universitas Gajah Mada. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan pembekalan teknik budidaya dan perawatan tanaman obat secara sederhana namun efektif. Di mana tanaman TOGA dapat tumbuh optimal di pekarangan rumah.
Kegiatan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan praktik langsung penanaman di area balai desa Randubener. Kemudian, sebagai bentuk keberlanjutan program, setiap peserta diberikan bibit tanaman jahe merah, sereh, dan telang untuk ditanam secara mandiri di rumah masing-masing.
Antusiasme Masyarakat
Sejak sesi pertama hingga praktik penanaman, masyarakat menunjukkan minat yang besar. Baik terhadap materi akupresur maupun pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA). Peserta tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga aktif mengajukan pertanyaan, berdiskusi mengenai pengalaman pribadi terkait keluhan kesehatan, serta melakukan praktik langsung. Antusiasme ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki ketertarikan yang kuat terhadap pendekatan kesehatan non-farmakologis yang mudah diterapkan secara mandiri.
Hal serupa juga terjadi pada sesi sosialisasi herbal lokal, di mana peserta tampak antusias untuk mengetahui lebih jauh manfaat spesifik dari jahe merah, sereh, dan bunga telang. Banyak peserta yang menyampaikan pertanyaan mengenai dosis penggunaan, metode pengolahan yang benar, hingga keamanan konsumsi jangka panjang. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, bahkan beberapa peserta juga berbagi pengalaman pribadi dalam menggunakan tanaman herbal untuk menjaga kesehatan.
Penulis: Tim Pengmas BATTRA
Editor: Yulia Rohmawati





