51动漫

51动漫 Official Website

Prof Esti Soroti Ketidaksetaraan Gender dalam Tingginya Angka Kematian Ibu

Prof Dr Esti Yunitasari SKp MKes saat menyampaikan orasinya di upacara pengukuhan Guru Besar 51动漫 pada Kamis (24/4/2025) (foto: PKIP UNAIR)
Prof Dr Esti Yunitasari SKp MKes saat menyampaikan orasinya di upacara pengukuhan Guru Besar 51动漫 pada Kamis (24/4/2025) (foto: PKIP UNAIR)

UNAIR NEWS – 51动漫 (UNAIR) kembali mengukuhkan enam guru besar baru pada Kamis (24/4/2025). Dalam kesempatan tersebut, Prof Dr Esti Yunitasari SKp MKes dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Keperawatan Maternitas. Ia menyampaikan pidatonya yang berjudul Tantangan dan Solusi Gender Equality untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu di Indonesia Asuhan Keperawatan Antenatal Care. 

Sebagai pendidik di , Prof Esti melihat permasalahan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia. Berdasarkan data terbaru, AKI di Indonesia berada di angka 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Indonesia perlu menurunkan AKI lebih dari 50 persen untuk mencapai target SDGs sebesar 70 per 100.000 kelahiran. Untuk mencapai target tersebut, Prof Esti merekomendasikan adanya peningkatan cakupan dan kualitas asuhan antenatal care (ANC).

Sebelum menerapkan ANC sebagai solusi, Prof Esti mengidentifikasi tantangan optimalisasinya berdasarkan kesetaraan gender. Beberapa tantangan tersebut adalah kurangnya akses layanan kesehatan, pernikahan dini, kekerasan berbasis gender, stigma sosial,dan infrastruktur yang tidak memadai untuk perempuan. Prod Esti turut menyoroti adanya ketimpangan gender yang muncul karena aktor budaya. 

淏erdasarkan teori Transcultural Nursing Theory, ketimpangan gender seringkali berasal dari budaya. Oleh karenanya, perawat yang peka tidak hanya mengikuti budaya saja, tetapi juga harus mampu mengedukasi dengan bijak jika praktik budaya membahayakan kesehatan ibu hamil. Dengan pendekatan yang menghormati budaya dan memperjuangkan kesetaraan, layanan ANC bisa menjadi jalan masuk untuk memberdayakan perempuan tanpa mengabaikan nilai lokal, jelas Prof Esti. 

Ketidaksetaraan gender dan sikap diskriminatif dalam sistem kesehatan masih menjadi hambatan utama dalam kualitas perawatan maternitas. Oleh karena itu, Prod Esti mendorong adanya pemberdayaan perempuan. 淧emberdayaan perempuan melalui peningkatan akses pendidikan, kesehatan, dan hak-hak reproduksi menjadi langkah kunci dalam menurunkan AKI. Tidak kalah penting adalah kualitas tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan dan sensitif terhadap isu gender akan menjadi agent of change dalam penurunan AKI.

Prof Esti merekomendasikan penyelesaian angka AKI dengan pendekatan berbasis kesetaraan gender yang melibatkan banyak pihak. Menurutnya, kesetaraan gender bukan hanya hak perempuan, melainkan tanggung jawab bersama. 淢enurunkan angka AKI bukan hanya soal medis, tetapi juga soal keadilan sosial dan kesetaraan gender. Dengan perempuan yang memiliki akses, kontrol, partisipasi, dan dukungan yang setara dalam aspek kesehatan reproduksi, AKI dapat ditekan secara signifikan, ucap Prof Esti. 

Penulis: Khumairok Nurisofwatin

Editor: Edwin Fatahuddin

AKSES CEPAT