51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Profil Bakteri dan Pola Resistensi Bakteri terhadap Antibiotik pada Anak dengan Infeksi Saluran Kemih

Foto oleh jernih.co

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang sering ditemukan pada anak selain infeksi saluran nafas atas dan diare, serta merupakan penyebab demam kedua tersering setelah infeksi saluran nafas atas. ISK, meskipun tidak sebagai penyebab kematian langsung pada anak, tetapi keterlambatan diagnosis dan tata laksana yang tidak adekuat tidak jarang menyebabkan kecacatan yang mempengaruhi kualitas hidup anak dan fatal. Pada masa neonatus, gejala klinik tidak spesifik dapat berupa apati, anoreksia, ikterus atau kolestatis, muntah, diare, demam, hipotermia, tidak mau minum, oliguria, iritabel, atau distensi abdomen. Peningkatan suhu tidak begitu tinggi dan sering tidak terdeteksi. Pada bayi sampai satu tahun, gejala klinik dapat berupa demam, penurunan berat badan, gagal tumbuh, nafsu makan berkurang, cengeng, kolik, muntah, diare, ikterus, dan distensi abdomen. Pada palpasi ginjal anak merasa kesakitan. Demam yang tinggi dapat disertai kejang.

ISK perlu mendapat perhatian para dokter maupun orangtua karena berbagai alasan, antara lain ISK sering sebagai tanda adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih yang serius seperti refluks vesiko-ureter (RVU) atau uropati obstruktif, ISK adalah salah satu penyebab utama gagal ginjal terminal. Diperkirakan 20% kasus konsultasi pediatri terdiri dari kasus ISK dan pielonefritis kronik. ISK simpleks  adalah infeksi pada saluran kemih yang normal tanpa kelainan struktural maupun fungsional saluran kemih yang menyebabkan stasis urin. Biasanya, untuk pengobatan ISK simpleks diberikan antibiotik per oral selama 7 hari, tetapi ada penelitian yang melaporkan pemberian antibiotik per oral dengan waktu yang lebih singkat (3-5 hari), dan efektifitasnya sama dengan pemberian selama 7 hari. ISK kompleks adalah ISK yang disertai dengan kelainan anatomik dan atau fungsional saluran kemih yang menyebabkan stasis ataupun aliran balik (refluks) urin. Kelainan saluran kemih dapat berupa batu saluran kemih, obstruksi, anomali saluran kemih, kista ginjal, bulibuli neurogenik, benda asing, dan lain-lain. Secara garis besar, tata laksana ISK terdiri atas: 1. Eradikasi infeksi akut, 2. Deteksi dan tata laksana kelainan anatomi dan fungsional pada ginjal dan saluran kemih, dan 3. Deteksi dan mencegah infeksi berulang.

Infeksi saluran kemih ditandai dengan adanya pertumbuhan bakteri dalam urin dengan jumlah yang bermakna. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan resistensi antibiotik terhadap uropatogen di seluruh dunia karena penggunaannya yang kurang tepat dan terlalu ekstensif. Di samping itu, terdapat variasi geografis yang cukup besar dalam pola bakteri dan sensitivitasnya terhadap antibiotik. Penelitian bertujuan mengetahui distribusi bakteri, pola resistensi bakteri terhadap antibiotik, dan distribusi penyakit penyerta pada pasien anak dengan ISK di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Periode Juli-Oktober 2019. Sampel penelitian adalah pasien ISK pada anak berusia 1 hari – 18 tahun akibat infeksi bakteri dengan jumlah hitung koloni sebanyak ≥105 CFU/ml.

Hasil penelitian menunjukkan distribusi jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki (54,2%) dan usia terbanyak didapatkan pada rentang usia 1 bulan – 2 tahun (29%). Bakteri penyebab ISK pada anak didominasi oleh gram negatif dengan bakteri terbanyak Escherichia coli (30,5%), Pseudomonas aeruginosa (10,7%), Klebsiella pneumoniae (9,2%), Enterobacter cloacae (6,1%), dan Acinetobacter baumannii (3,8%). Sisanya merupakan bakteri gram positif Enterococcus faecalis (8,4%), Enterococcus faecium (6,9%), Staphylococcus aureus (2,3%), Corynebacterium matruchotii (1,5%), dan Streptococcus pneumoniae (1,5%). Pola resistensi bakteri terhadap antibiotik menunjukkan hasil yang berbeda dari setiap jenis bakteri. E. Coli sebagai bakteri gram negatif terbanyak menunjukkan resistensi sebesar ≥70% terhadap ampisilin, sefazolin, piperasilin, trimetoprim-sulfametoksazol; Sedangkan E. faecalis sebagai bakteri gram positif terbanyak menunjukkan resistensi sebesar ≥70% terhadap amikasin, sefotaksim, gentamisin, sefoksitin, seftriakson, siprofloksasin, klindamisin, tobramisin, trimetoprim, dan trimetoprim-sulfametoksazol. Penyakit penyerta pada pasien ISK anak didominasi oleh hidronefrosis (10,98%) diikuti penyakit ginjal kronik (9,79%).

Link artikel:

Korespondensi: Manik Retno Wahyunitisari Email: manik-r-w@fk.unair.ac.id

AKSES CEPAT