Untuk kasus-kasus dimana kerangka sudah tidak lengkap, terfosilkan, dan/atau sangat rusak, metode identifikasi utama (DNA, sidik jari, dan analisis odontologi) tidak dapat dilakukan. Dalam kasus-kasus ini antropologi forensik menerapkan studi biologi manusia dan variasinya untuk memperkirakan profil biologis kerangka tersebut. Analisis profil biologis yang dilakukan oleh antropolog forensik terdiri dari perkiraan usia, jenis kelamin, keturunan, perawakan, dan ciri-ciri unik lainnya. Juga memeriksa untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan individu, mencari bukti stres, kekerasan, penyakit, dan bentuk-bentuk perubahan lain yang berbekas pada tulang dan gigi.
Untuk memungkinkan identifikasi positif, aproksimasi wajah dilakukan berdasarkan profil biologis individu. Aproksimasi wajah menggabungkan ilmu anatomi wajah dan seni untuk memperkirakan dan memvisualisasikan wajah seseorang dengan harapan dapat meningkatkan pengenalan oleh masyarakat umum. Sederhananya, aproksimasi wajah “memberikan wajah kepada yang tak punya identitas” dengan menggambar, memahat, atau mencitrakan wajah secara digital berdasarkan tengkorak dan fitur-fiturnya. Meskipun sering digunakan sebagai upaya terakhir, aproksimasi ini relatif berhasil dalam mengidentifikasi korban pembunuhan, orang hilang, dan korban bencana massal. Berkat perkembangan pesat pencitraan berbantuan komputer dan kemajuan teknologi lainnya, studi tentang aproksimasi wajah terus berkembang seiring dengan efektivitasnya.
Selain kasus medikolegal yang relatif baru, metode antropologi forensik juga digunakan untuk kasus bioarkeologi. Dengan mempertimbangkan data biologis sisa-sisa fosil, bioarkeolog dapat merekonstruksi gaya hidup manusia purba pada periode tertentu. Sebagai contoh, penelitian Sugianto dkk. (2023) berhasil merekonstruksi skenario perang suku pada masa kolonial di Papua berdasarkan beberapa luka trauma tajam yang ditemukan pada tengkorak seorang perempuan. Contoh lain ditunjukkan oleh Wilkinson dkk. (2023), di mana mereka berhasil merekonstruksi wajah Ramses II, seorang firaun Mesir kuno, melalui tomografi terkomputasi.
Antropologi forensik dan aproksimasi wajah di Indonesia merupakan bidang yang sedang berkembang. Fachruliansyah (2018) mengulas bahwa antropologi biologis (sebagai dasar antropologi forensik) masih kurang diteliti dan kurang dikenal di Indonesia. Pernyataan ini semakin diperkuat oleh minimnya publikasi ilmiah yang melibatkan antropologi forensik dalam konteks Indonesia. Minimnya sumber daya dan ilmuwan merupakan tantangan yang berkelanjutan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkonstruksi profil biologis dan memperkirakan ciri-ciri wajah dari sisa-sisa kerangka individu tak beridentitas. Penelitian ini memberikan perspektif unik tentang kehidupan individu tak beridentitas yang ditemukan di Jawa, Indonesia. Diharapkan penelitian ini dapat berkontribusi untuk memperkaya dan merangsang studi antropologi forensik dan bioarkeologi, khususnya di Indonesia.
Untuk memperkirakan leluhurnya, penulis mengamati ciri-ciri morfologi tengkorak C75. Berdasarkan pengamatan makroskopis, disimpulkan bahwa C75 merupakan keturunan campuran, khususnya Asia-Eropa atau Asia-Eurasia. Kesimpulan ini diambil karena tulang belakang hidungnya yang relatif tinggi, bentuk wajah yang memanjang, apertur hidung yang sempit, dan pola sutura kranial yang sederhana, yang biasanya dijumpai pada populasi keturunan Eropa. Uniknya, C75 juga memiliki prognatisme alveolar yang relatif menonjol, bentuk palatal elipsoid, gigi seri berbentuk sekop dengan skor sedang hingga tinggi, dan sutura palatal lurus, yang umum dijumpai pada populasi Asia.
Selain pengamatan makroskopis, proses estimasi leluhur juga dilakukan dengan membandingkan indeks sefalik dan prosopik C75 dengan populasi lain berdasarkan literatur yang ada. Bentuk kepala dihitung menggunakan rumus Indeks Sefalik, sedangkan bentuk wajah dihitung menggunakan rumus Indeks Prosopik. Hasil perhitungan indeks menunjukkan bahwa indeks sefalik C75 adalah 81,67, yang dapat dikategorikan sebagai brakisefalik (bentuk kepala lebar). Di sisi lain, indeks prosopik C75 adalah 93,3, yang dapat dikategorikan sebagai hiperleptoprosopik (bentuk wajah sangat panjang dan sempit).
Setelah menetapkan profil biologis C75, studi ini mengungkap perspektif menarik tentang masyarakat Indonesia selama era kolonial. C75 menunjukkan bahwa meskipun memiliki hak istimewa sebagai individu berjenis kelamin laki-laki Indo-Eropa, ia masih memiliki kesehatan gigi yang buruk dan gigi yang sangat aus, yang menunjukkan bahwa ia memiliki akses minimum ke layanan kesehatan gigi. Berdasarkan analisis perkiraan wajah, kemungkinan C75 lebih tampak seperti orang Eropa karena ketidakcocokan fitur wajahnya dengan morfologi khas Asia. Studi lebih lanjut dalam antropologi forensik dan perkiraan wajah harus dilakukan, yang melibatkan topik-topik yang menyoroti variasi biologis manusia dalam populasi dan subpopulasi Indonesia. Misalnya, studi tentang sifat epigenetik dan ketebalan jaringan lunak wajah populasi Jawa dan banyak populasi lainnya akan membantu antropolog forensik dan seniman forensik untuk secara lebih akurat memperkirakan profil biologis dan merekonstruksi wajah sisa-sisa manusia yang tidak teridentifikasi di Indonesia.

Gambar 1. Aproksimasi wajah tengkorak tampak samping (Sketsa oleh M.D. Artaria)
Oleh: Farhad Moegis, Myrtati Dyah Artaria, Ahmad Yudianto, & Sayf M. Alaydrus





