Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan
masalah yang sangat kompleks yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae, yang dpat memengaruhi saraf perifer dan kulit. Kecacatan tercatat dalam hampir 50% kasus kusta pada saat diagnosis menunjukkan perlunya meningkatkan efektivitas sistem layanan kesehatan dalam deteksi dini penyakit kusta. Mekanisme penyebab kecacatan pada kusta bisa terjadi dari jalur neurogenik dan inflamasi. Gangguan sensorik, motorik, dan otonom diklasifikasikan sebagai penyebab primer, sedangkan lesi traumatis, retraksi, dan infeksi merupakan penyebab sekunder yang terjadi karena tidak adanya upaya perawatan untuk pencegahan proses primer. Faktor risiko kecacatan pada kusta tergantung pada tipe kusta, durasi penyakit aktif, keterlibatan jumlah batang saraf, serangan reaksi kusta, serta neuritis.
Penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif yang bertujuan untuk mengetahui profil pasien kusta dengan kecacatan yang berobat di Divisi MH URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama 3 tahun, periode Januari 2017 – Desember 2019. Data diperoleh dari data sekunder berupa buku rekam medis serta rekam medis elektronik.
Hasil penelitian ini didapatkan sejumlah 1.132 pasien kusta dan 375 diantaranya mengalami kecacatan, namun 70 tidak memenuhi kriteria inklusi. Pasien dengan kecacatan tingkat 1 sebanyak 76 pasien (27,6%) dan tingkat 2 sebanyak 199 pasien (72,4%). Jumlah pasien laki-laki dengan kecacatan sebanyak 202 pasien (73,4%) dan perempuan sebanyak 73 pasien (26,6%). Usia pasien terbanyak adalah 25-44 tahun yaitu 116 pasien (42,2%). Pasien dengan durasi penyakit lebih dari 12 bulan banyak mengalami kecacatan, yaitu 144 pasien (52,3%). Mayoritas pasien dengan indeks bakteri negatif sebanyak 137 pasien (53,5%). Pasien dengan tipe kusta terbanyak adalah tipe multibasiler (MB) sebanyak 253 pasien (92%). Sebagian besar pasien tidak mengalami reaksi yaitu 187 pasien (68%) dan pasien yang telah mendapat pengobatan multidrug therapy (MDT) sebanyak 125 pasien (45,5%).
Penelitian ini mendapatkan lokasi kecacatan pada pasien kusta dengan jumlah terbanyak pada kaki yaitu 148 pasien (53,8). Pasien dengan kecacatan tingkat 1 dan 2 dominan pada kaki dengan masing-masing 42 pasien (15,3%) dan 106 pasien (38,5%). Pemeriksaan klinis ditemukan jumlah paling banyak pasien dengan ulkus yaitu 95 pasien (34,5%), kemudian claw hand sebanyak 57 pasien (20,7%), dan anestesi 40 pasien (14,6%).
Deteksi dini dan tatalaksana yang tepat pada pasien kusta merupakan hal penting untuk memutus rantai penularan dan mencegah kecacatan. Terjadinya kecacatan pada penyakit kusta mengindikasikan adanya kekurangan dalam pengendalian kusta. Diagnosis dini, ditunjang pengetahuan tentang faktor risiko kecacatan, tatalaksana dan tindak lanjut pada pasien setelah RFT harus diintegrasikan secara sistematis ke dalam layanan kesehatan untuk mencegah terjadinya kecacatan.
Penulis : Dr. M.Yulianto Listiawan,dr.,Sp.KK(K)
Informasi lengkap dari tulisan ini dapat dilihat pada tulisan kami di :
Profile of Disability in Leprosy Patients: A Retrospective Study
Silvani Geani, Rahmadewi, Astindari, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Sawitri, Evy Ervianti, Budi Utomo, Muhammad Yulianto Listiawan





