Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) adalah kelainan kulit akibat reaksi hipersensitivitas yang dimediasi oleh respons imunitas tubuh. SSJ dan TEN disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari obat, infeksi, hingga keganasan. Manifestasi kelainan SSJ dan NET terjadi di kulit dan mukosa bola mata, mulut, dan alat kelamin. SSJ dan NET merupakan masalah kesehatan yang signifikan karena komplikasinya yang parah. Pasien dapat mengalami kematian jika mengalami kondisi yang fatal dan tidak mendapat pengobatan yang cepat dan tepat. Faktor-faktor seperti usia, gejala klinis, dan penyebab yang mendasari memainkan peran penting dalam penatalaksanaan pasien. Oleh karena itu, penting untuk meninjau lebih jauh profil pasien SSJ dan NET.
Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran dan evaluasi pasien SSJ dan NET di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Soetomo Surabaya, yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu penatalaksanaannya. Dievaluasi tentang beberapa parameter yaitu jenis kelamin, usia, gejala, penyebab, penyakit penyerta, dan lama rawat inap, hasil pemeriksaan, penyakit penyerta pasien, gejala klinis, hasil The Score of NET (SCORNET) yang menggambarkan derajad keparahan dan prognosis, penatalaksanaan, komplikasi, kondisi akhir pasien pascapenatalaksanaan, mortalitas, dan pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 28 kasus SSJ-NET tahun tahun 2019 sampai 2021, dengan rincian 15 laki-laki (53,6%) dan 13 perempuan (46,4%). Prevalensi tertinggi terdapat pada kelompok umur 19-44 tahun (dewasa) sebesar35,7%; diikuti oleh pralansia (21,4%), dan dengan sebaran yang sama (17,9%) pada remaja dan lanjut usia. Mayoritas pasien (85,7%) diklasifikasikan dalam SSJ, diikuti oleh 7,1% diklasifikasikan dalam NET sama seperti pasien yang overlapping dalam SSJ/NET. Tanda-tanda SSJ-NET yang paling banyak ditunjukkan pada pasien adalah krusta hemoragik (71,4%), edema palpebra (50%), dan eritema konjungtiva (46,4%).
Sebanyak 42,8% pasien mengalami demam, 39,3% pasien mengalami bibir bengkak dan luka, 32,1% pasien mengalami disfagia (kesulitan mengunyah dan menelan makanan dan minuman). Pasien dikelompokkan berdasarkan derajad keparahan dan prognosis dengan skala Score of NET (SCORNET) sebagai berikut: 39,3% tergolong SCORNET 1, 32,1% sebagai SCORNET 0, 17,9% sebagai SCORNET 3, dan 10,7% sebagai SCORNET 2. Sebanyak 71,4% mengkonsumsi beberapa obat antara lain obat anti nyeri/panas, antibiotik, antikejang, antihistamin (antialergi), antihiperNETsi, diuretik, golongan gstatin, antigout, hingga minuman herbal. Sebagian besar pasien mengalami komplikasi namun mengalami perbaikan. Sebanyak 71,4% pasien memiliki penyakit penyerta ganda antara lain Diabetes Melitus, penyakit autoimun (psoriasis vulgaris, SLE), penyakit ginjal (Cedera Ginjal Akut dan Cedera Ginjal Kronis), penyakit darah. Kelainan seperti anemia, ITP (Idiopathic Thrombocytopenic Purpura), asites, splenomegali, TBC (tuberkulosis), faringitis akut, pankreatitis, epilepsi, maag kronis, hipertiroidisme, katarak matur, infeksi kulit (tinea cruris, kudis), neuralgia, pneumonia), hiperNETsi, asma bronkial, dan hepatitis.
Mayoritas yaitu 71,4% pasien mengalami beberapa komplikasi multipel, yaitu gabungan dari beberapa penyakit atau kondisi seperti gagal napas, syok septik, anemia, blepharoconjunctivitis, blepharitis, symblepharon, hiperemia konjungtiva, ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh (hipoglikemia, hiperglikemia, hipokalemia, hipoalbuminemia, hipokalemia, hipokalsemia, hiponatremia, hipoklorida, hipotonik, hipovolemik, asidosis metabolik, asidosis respiratorik), pneumonia, cedera ginjal akut, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, pankreatitis, asma bronkial, kematian jantung mendadak, penyakit kardiovaskular, dermatitis atopik, infeksi Cytomegalovirus, diare, abses lutut, hepatosplenomegali. Hanya 3,6% pasien tanpa komplikasi. Sebanyak 57,1% pasien menunjukkan perbaikan dan kemudian dialihkan ke rawat rawat jalan, 28,6% pasien meninggal, 14,2% dipulangkan dan sembuh. Seluruh pasien SJS-TEN (100%) pada penelitian ini diamati faktor penyebabnya, diberikan terapi kortikosteroid sistemik, mendapat terapi cairan, dan diberikan penatalaksanaan luka. Sebanyak 85,7% pasien diberikan diet Tinggi Kalori-Protein Tinggi (TKTP). Selain itu 60,7% pasien diberikan obat topikal. Evaluasi terhadap pasien SSJ dan NET diperlukan untuk meningkatkan tatalaksana karena penyakit ini berpoNETsi mengancam nyawa jika tidak dilakukan manajemen yang baik. Selain itu bisa sebagai bahan edukasi ke masyarakat dan pasien NETtang SSJ dan NET.
Penulis: Dr.dr.Afif Nurul Hidayati,Sp.KK(K)
Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Profile of Stevens-Johnson syndrome and toxic epidermal necrolysis patients in the inpatient hospital installation of Dr. Soetomo general hospital Surabaya from January 2019 “ December 2021
Laurencia Elfrida Banjarnahor, Afif Nurul Hidayati, Pudji Lestari,Damayanti





