Kesehatan anak usia sekolah dan remaja saat ini menentukan derajat generasi bangsa di masa depan. Kita perlu mempersiapkan mereka menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, salah satunya melalui pendidikan kesehatan agar mereka mampu menghindari diri dari permasalahan yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Remaja Indonesia mengalami tiga beban gizi yaitu 25% mereka pendek, 8% terlalu kurus, 15% kelebihan berat badan atau obesitas dan sekitar 10% remaja putra dan 23% remaja putri menderita anemia. Remaja merupakan setengah dari sumber daya manusia untuk masa depan dan aset yang sangat besar untuk pertumbuhan ekonomi dan sosial terutama remaja putri yang rentan menderita anemia karena banyak kehilangan darah pada saat menstruasi. Remaja putri yang menderita anemia berisiko mengalami anemia pada saat hamil dan akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan serta berpotensi menimbulkan komplikasi kehamilan dan persalinan, bahkan menyebabkan kematian ibu dan anak. Anemia pada anak usia 5-14 tahun sebesar 26,8% dan usia 15-24 tahun sebesar 32%. Kegiatan pelaksanaan pengabdian program aksi bergisi dilaksakan dengan beberapa upaya antara lain melakukan pemeriksaan hemoglobin pada siswa, Memperkuat suplementasi zat besi dan asam folat mingguan atau Tablet Tambah Darah untuk remaja putri, Edukasi gizi multi-sektoral, dan pembagian dan minum Bersama tablet tambah darah. Keguiatan ini perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi sejauh mana efektifitas program ini dalam rangka mencegah terjadinya anemia pada remaja
Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat
- Peningkatan kapasitas
Strategi peningkatan kapasitas dirancang sebagai pelatihan berjenjang yang menargetkan pegawai pemerintah multisektoral di tingkat kabupaten, petugas kesehatan, guru dan pendukung siswa sebaya. Pendekatan berjenjang ini memungkinkan lebih banyak guru untuk dilatih, sehingga meningkatkan jumlah sekolah dan siswa yang dapat turut serta.
Fasilitator kabupaten: Fasilitator kabupaten memiliki peran penting dalam kualitas dan perkembangan Aksi Bergizi yang berkelanjutan saat mereka melanjutkan untuk melatih para guru. Pertama, fasilitator kabupaten diidentifikasi dari berbagai sektor, seperti Tim Pembina UKS/M, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan Kantor Kementerian Agama di tingkat Kabupaten dan Provinsi, serta tenaga kesehatan dari puskesmas. Pemilihan yang bervariasi ini dimaksudkan untuk memperluas kepemilikan multisektoral dan keberlanjutan program. Pelatihan fasilitator kabupaten dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang gizi remaja dan masalah kesehatan; memperkuat keterampilan fasilitasi partisipatif mereka terutama untuk masalah sensitif; dan mengembangkan rencana tindak lanjut untuk fasilitator kabupaten agar dapat melatih guru.
Guru ; Pelatihan guru mencakup pengetahuan dan keterampilan yang dibagikan oleh fasilitator kabupaten, dengan fokus terperinci pada berbagai topik spesifik dengan penekanan yang kuat pada pendekatan interaktif yang menyenangkan untuk belajar, dibandingkan dengan sekolah gaya instruksional tradisional yang biasa. Guru diberikan modul fasilitator, dan sekolah disediakan alat edukasi gizi.
Pendukung sebaya/Mahasiswa: Keterlibatan remaja dan mahasiswa adalah pilar utama dalam Aksi Bergizi. Anggota kelompok dukungan sebaya dipilih oleh guru berdasarkan karakteristik siswa atau siswa yang menjadi sukarelawan dan dinilai oleh guru. Sekolah diberi pilihan untuk menerapkan metode seleksi yang mereka anggap sesuai, sambil didorong untuk mendaftarkan jumlah siswa putra dan putri yang seimbang. Di antara tujuan pelatihan pendukung sebaya adalah: memperkuat keterampilan komunikasi mereka, termasuk penggunaan media sosial dan produksi video pendek untuk mempromosikan dan mensosialisasikan pesan-pesan Aksi Bergizi dengan cara-cara yang menarik bagi rekan-rekan mereka; membuat rencana aksi tingkat sekolah untuk kegiatan mobilisasi; dan membangun perjanjian tentang peran dukungan teman sebaya putra dan putri di sekolah.
Mobilisasi sekolah
Kegiatan mobilisasi sekolah dirancang untuk menyebarkanpesan pesan Aksi Bergizi dengan komponen sekolah dan masyarakat di sekelilingnya. Kegiatan ini dimotori remaja yang didukung oleh guru dan manajemen sekolah. Kegiatan meliputi berbagai kompetisi intra dan antar sekolah, misalnya lomba memasak, lomba menari dan olahraga. Siswa diminta membuat perencanaan untuk kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan anemia, mempromosikan makan sehat dan aktifitas fisik. Salah satu dari kegiatan tersebut harus melibatkan orangtua. Siswa juga didorong untuk membuat perubahan pada kantin sekolah mereka agar menyediakan makanan yang lebih sehat.
Advokasi
Advokasi tingkat kabupaten dan provinsi ditujukan untuk mensensitisasi para pembuat kebijakan terhadap isu-isu lazim seputar gizi remaja melalui penggunaan bukti local yang efektif, serta untuk mendapatkan komitmen mereka. Hasil dari kegiatan mobilisasi sekolah selanjutnya berfungsi sebagai alat advokasi dan komunikasi mengenai Aksi Bergizi. Kegiatan ini dapat disaksikan oleh pejabat kabupaten sebagai bukti langsung penerapan pengetahuan yang diperoleh siswa melalui program ini
Koordinasi multisektoral
Berbagai tingkat advokasi di atas disertai dengan upaya pengembangan koordinasi multisektoral yang kuat di seluruh dinas kabupaten dan provinsi terkait untuk mendukung program tersebut. Koordinasi multi-sektor ini memfasilitasi kesepakatan bersama mengenai strategi, implementasi, dan evaluasi Aksi Bergizi di berbagai sektor.
Monitoring dan evaluasi
Sekolah, dan guru aksi bergizi diberikan daftar pencatatan untuk melacak penerimaan dan konsumsi tablet tambah darah diantara remaja putri selama sesi suplementasi tablet tambah darah mingguan, serta untuk kegiatan saat sesi edukasi gizi. Sekolah diharuskan untuk melaporkan kegiatan ini secara teratur kepada fasilitator kabupaten, sebaiknya setiap bulan. Evaluasi dampak Aksi Bergizi difokuskan pada pengukuran perubahan perilaku remaja. Ini mencakup penilaian perubahan pada pengetahuan, sikap dan praktik (Knowledge Attitude Practice atau KAP) remaja yang berpartisipasi terkait dengan perilaku makan sehat dan aktivitas fisik, sebelum dan sesudah program diluncurkan.
Penulis: Dr. Hariyono, M. Kep
Link:
Baca juga: Khasiat Probiotik terhadap Asupan Gizi dan Berat Telur Burung Puyuh Jepang





