51动漫

51动漫 Official Website

Program Rumah Belajar sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran Anak Berbasis Komunitas di Dusun Jatenan

Program Rumah Belajar dilaksanakan secara tatap muka di posko KKN sebagai pusat kegiatan pembelajaran masyarakat.
Program Rumah Belajar dilaksanakan secara tatap muka di posko KKN sebagai pusat kegiatan pembelajaran masyarakat.

UNAIR NEWS – Program Rumah Belajar merupakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata yang dirancang untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini dan anak usia sekolah dasar di tingkat komunitas. Sasaran program ini adalah anak usia tiga hingga dua belas tahun, yang mencakup peserta pendidikan anak usia dini hingga siswa kelas enam sekolah dasar, yang berdomisili di Dusun Jatenan. Jumlah peserta yang terlibat dalam kegiatan ini sebanyak tiga puluh satu anak, dengan rincian sepuluh anak usia PAUD, enam siswa kelas dua, enam siswa kelas tiga, dua siswa kelas empat, lima siswa kelas lima, dan dua siswa kelas enam sekolah dasar. Program Rumah Belajar dilaksanakan secara tatap muka di posko KKN sebagai pusat kegiatan pembelajaran masyarakat. Kegiatan ini berlangsung secara rutin pada hari Minggu hingga Jumat dengan durasi satu jam tiga puluh menit setiap pertemuan, yaitu pada pukul 18.30 sampai 20.00. Melalui pendampingan belajar yang terstruktur bagi siswa sekolah dasar serta stimulasi perkembangan motorik melalui aktivitas menggambar, mewarnai, dan membuat kolase bagi anak usia dini, program ini tidak hanya berperan dalam memperkuat proses pembelajaran nonformal di masyarakat, tetapi juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan poin empat (SDGs 4), yaitu menjamin pendidikan yang inklusif, setara, dan berkualitas serta mendukung kesempatan belajar yang lebih luas.

Berdasarkan hasil observasi lapangan, permasalahan pendidikan yang ditemukan pada anak anak di Dusun Jatenan terutama berkaitan dengan kemampuan literasi dasar. Beberapa anak usia sekolah dasar masih mengalami kendala dalam keterampilan membaca dan menulis, meskipun secara jenjang usia dan kelas seharusnya telah menguasai kemampuan tersebut sesuai dengan standar kompetensi pendidikan dasar. Kondisi ini menunjukkan adanya ketertinggalan kemampuan akademik pada sebagian peserta didik. Selain itu, akses terhadap pendampingan belajar setelah jam sekolah masih terbatas, sehingga anak anak yang mengalami kesulitan belajar tidak memperoleh dukungan tambahan secara optimal di luar pembelajaran formal. Meskipun sebagian besar anak mengikuti pendidikan formal seperti PAUD, taman kanak kanak, dan sekolah dasar, keterbatasan fasilitas belajar nonformal di lingkungan tempat tinggal menyebabkan proses penguatan materi pelajaran belum berjalan secara maksimal. Permasalahan lain yang ditemukan adalah keterbatasan ruang belajar yang kurang luas, sehingga membutuhkan pengelolaan ruang yang adaptif agar kegiatan pembelajaran tetap dapat berlangsung secara kondusif. Dampak dari kondisi tersebut terlihat pada adanya kesenjangan kemampuan akademik antar anak, di mana beberapa siswa kelas tiga sekolah dasar masih belum mampu membaca dan menulis dengan lancar dibandingkan teman sebayanya. Apabila tidak mendapatkan intervensi pendidikan yang tepat, kondisi ini berpotensi menghambat perkembangan akademik anak serta mempengaruhi keberlanjutan proses belajar pada jenjang pendidikan selanjutnya.

Mahasiswa dalam program Rumah Belajar melaksanakan pendampingan pembelajaran dengan pendekatan yang berpusat pada kebutuhan peserta didik untuk mengatasi ketertinggalan akademik serta meningkatkan motivasi belajar. Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah penerjemahan materi kurikulum yang bersifat abstrak ke dalam bahasa yang komunikatif serta mudah dipahami oleh anak, sehingga konsep dasar pembelajaran dapat dipahami secara bermakna oleh peserta didik, khususnya dalam aspek kemampuan membaca, menulis, serta pemahaman materi sekolah. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Hattie (2009) yang menegaskan bahwa pemahaman konseptual dasar memiliki pengaruh signifikan terhadap efektivitas pembelajaran serta capaian akademik peserta didik. Dalam pelaksanaan kegiatan, mahasiswa membentuk kelompok belajar kecil berdasarkan jenjang kelas serta kelompok khusus bagi anak yang mengalami kesulitan literasi, sehingga diperoleh pendampingan yang lebih intensif serta individual. Strategi pembelajaran kelompok kecil terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi dasar anak sekolah dasar, terutama bagi siswa yang tertinggal secara akademik (Slavin et al., 2013). Untuk anak usia dini, mahasiswa menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas, seperti menggambar, mewarnai, serta membuat kolase, guna mengembangkan keterampilan motorik halus yang merupakan fondasi penting dalam kesiapan belajar lanjutan. Pendekatan play-based learning ini didukung oleh penelitian Pyle dan Danniels (2017) yang menunjukkan bahwa aktivitas bermain terstruktur berkontribusi signifikan terhadap perkembangan motorik, kognitif, serta keterlibatan belajar anak usia dini. Selain itu, pemahaman dasar yang kuat terhadap materi pembelajaran terbukti mampu meningkatkan motivasi intrinsik siswa serta konsistensi keterlibatan dalam kegiatan belajar (Ryan & Deci, 2020). Secara keseluruhan, bentuk kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, melainkan juga pada penciptaan lingkungan belajar yang menyenangkan, interaktif, serta kontekstual, sehingga mampu meningkatkan konsistensi kehadiran, pemahaman materi, serta semangat belajar anak dalam program Rumah Belajar.

Kegiatan Rumah Belajar secara konseptual dan implementatif selaras dengan indikator Sustainable Development Goals tujuan empat (SDGs 4), yaitu menjamin pendidikan yang inklusif, setara, dan berkualitas serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua. Kata kunci utama yang relevan dengan pelaksanaan program ini meliputi pendidikan nonformal berbasis komunitas, literasi dasar, pendidikan anak usia dini, pembelajaran inklusif, serta peningkatan kualitas pembelajaran. Fokus kegiatan pada penguatan kemampuan membaca dan menulis bagi anak usia sekolah dasar mencerminkan upaya peningkatan literasi sebagai kompetensi fundamental dalam pendidikan dasar, sementara stimulasi keterampilan motorik melalui aktivitas kreatif pada anak usia dini mendukung kesiapan belajar pada tahap perkembangan awal. Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, dilakukan melalui pendampingan kelompok kecil dan metode belajar yang menyenangkan, merepresentasikan praktik pendidikan inklusif yang berupaya menjangkau anak dengan latar belakang kemampuan akademik yang beragam. Selain itu, penyelenggaraan program di tingkat komunitas pedesaan menegaskan peran pendidikan nonformal sebagai pelengkap pendidikan formal dalam memperluas akses belajar, khususnya bagi anak yang memiliki keterbatasan dukungan pembelajaran di luar jam sekolah. Dengan demikian, Rumah Belajar berkontribusi dalam mendukung pencapaian SDGs 4 melalui penguatan kualitas proses belajar, pemerataan akses pendidikan, serta pembangunan pondasi kemampuan akademik anak secara berkelanjutan di tingkat masyarakat.

Pelaksanaan Program Rumah Belajar memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran anak usia dini dan anak usia sekolah dasar di Dusun Jatenan. Dampak utama terlihat pada peningkatan pemahaman materi pembelajaran, khususnya pada kemampuan membaca, menghitung, serta penguasaan konsep dasar pelajaran. Penggunaan bahasa pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak membantu peserta didik memahami materi secara lebih efektif. Anak yang sebelumnya mengalami kesulitan literasi menunjukkan perkembangan kemampuan membaca dan menulis yang lebih baik, sementara anak usia dini mengalami peningkatan keterampilan motorik halus melalui kegiatan menggambar, mewarnai, dan membuat kolase.

Selain aspek kognitif, program ini juga berdampak pada peningkatan motivasi dan konsistensi belajar anak. Pendekatan pembelajaran yang menyenangkan serta penerapan kelompok belajar kecil meningkatkan fokus, interaksi, dan keterlibatan peserta didik selama proses pembelajaran. Respons positif juga ditunjukkan oleh orang tua yang menilai program ini membantu perkembangan akademik anak serta mengisi keterbatasan pendampingan belajar setelah jam sekolah. Secara keseluruhan, Program Rumah Belajar berkontribusi dalam mengurangi ketertinggalan akademik dan mendorong terwujudnya pendidikan yang lebih inklusif, sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan poin empat (SDGs 4).

Penulis: Aisyah Hasna

AKSES CEPAT