51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Proses Deselularisasi yang Efektif untuk Keberhasilan Transplantasi Trakea

iluastrasi trakea (sumber: detik)

Kasus kelainan pada trakea mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, baik bawaan (congenital) maupun tidak (acquired). Kelainan bawaan termasuk tidak terbentuknya trakea, saluran abnormal antara trakea dan kerongkongan, hingga trakea yang lemah. Sementara itu, kelainan yang bukan merupakan bawaan biasanya disebabkan oleh kasus trauma, seperti penyempitan trakea setelah intubasi (PITS). Prevalensi PITS pada pasien yang diintubasi berkisar 6%“21%, dan sekitar 10% dari kasus penyempitan ringan mungkin tidak terdeteksi selama bertahun-tahun. Sebuah studi di London melaporkan 926 kasus baru PITS per tahun. Angka ini menandakan bahwa masalah kelainan trakea ini tidak dapat diabaikan begitu saja dan perlu segera ditangani dengan serius, salah satunya dengan transplantasi trakea.

Terdapat dua jenis perawatan kerusakan trakea, tergantung bagian yang mengalami kerusakan. Untuk kerusakan segmen pendek (kurang dari setengah panjang trakea dewasa atau sepertiga trakea anak), dilakukan perawatan slide tracheoplasty. Sementara itu, untuk kerusakan segmen panjang (setengah atau lebih trakea dewasa atau sepertiga atau lebih trakea anak), masih belum ada pengobatan yang pasti. Pasien biasanya mendapatkan perawatan sementara (tabung-T atau stent), namun berisiko infeksi dan pasien diharuskan untuk rawat inap.

Bidang pengobatan regeneratif telah berupaya untuk mengobati kelainan trakea segmen panjang dengan mengganti bagian yang rusak dengan jaringan baru. Transplantasi trakea adalah pilihan yang umum, dengan berbagai jenis yang tersedia, termasuk autolog, homograf, prostetik, dan gabungan. Setiap transplantasi trakea punya kelebihan dan kekurangan. Transplantasi autolog dan homograf punya kendala seperti susah cari donor cocok, kegagalan vaskularisasi, kegagalan perkembangan, dan juga kebutuhan akan imunosupresan jangka panjang. Hal ini tentu berisiko bagi pasien. Alternatif lain yakni transplantasi prostetik yang tidak memerlukan donor, risiko penolakan yang minim, dan juga tidak memerlukan imunosupresan jangka panjang. Sayangnya, transplantasi prostetik terlalu kaku dan dapat menyebabkan peradangan. Pengembangan bahan transplantasi trakea terus berkembang pesat, salah satunya dengan teknik rekayasa jaringan, yang sudah berhasil di pembuluh darah dan katup jantung.

Kini, dunia kedokteran telah mencapai kemajuan yang luar biasa dalam bidang perancahan trakea. Berdasarkan standar baru yang ditetapkan, trakea yang telah di deselularisasi dianggap sebagai perancah terbaik saat ini. Metode ini menawarkan banyak keuntungan, seperti biomekanik, fleksibilitas, dan proangiogenik yang sama dengan trakea asli. Tujuan utama dari deselularisasi adalah untuk menghilangkan komponen imunogenik dari inang tanpa merusak matriks ekstraseluler. Ini dikarenakan fungsi utama matriks ekstraseluler adalah untuk menumbuhkan, memelihara, dan meregenerasi sel. Komponen utama matriks ekstraseluler terdiri dari kolagen, proteoglikan, glikoprotein, dan glikosaminoglikan.

Metode yang paling populer dalam deselularisasi trakea adalah metode deselularisasi sel kimiawi yang menggunakan deterjen untuk mendeselularisasi sel pada perancah trakea. Deterjen dapat masuk dan menghilangkan bagian sel tanpa merusak matriks ekstraseluler (rangka luar sel). Namun, tulang rawan trakea yang tebal menjadi tantangan, karena deterjen membutuhkan waktu lebih lama untuk meresap dan menghilangkan sel di dalamnya.

Dhihintia dan timnya baru-baru ini melakukan studi sistematis untuk mengevaluasi berbagai metode de-selularisasi pada trakea. Oleh karena strukturnya yang kompleks, memilih metode deselularisasi yang tepat sangat penting untuk memastikan keberhasilan transplantasi trakea. Namun, masih ada pertanyaan tentang metode mana yang paling efektif dalam menghilangkan komponen imunogenik sementara tetap mempertahankan integritas matriks ekstraseluler.

Studi dari Dhihintia dan timnya mengumpulkan sebanyak 17 referensi ilmiah dari database PubMed, NCBI, dan ScienceDirect. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa pemilihan bahan dan metode untuk menghilangkan sel harus disesuaikan dengan jenis jaringan atau organ yang digunakan, karena setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Berdasarkan penelitian yang dikaji, perancah yang optimal dengan kadar DNA rendah dan matriks ekstraseluler yang terjaga dapat diperoleh dengan menggabungkan berbagai bahan yang bekerja secara fisik, kimia, dan enzimatik. Temuan ini sangat penting karena proses de-selularisasi yang efektif akan meningkatkan keberhasilan transplantasi trakea. Selain itu, proses ini juga dapat mengurangi risiko penolakan tubuh terhadap trakea.

Keterbatasan penelitian ini juga perlu diakui. Masih diperlukan penyelidikan lebih mendalam pada beberapa jenis jaringan, dengan fokus pada efek de-selularisasi pada proses penyemaian dan potensi dampak imunogenik pada organ penerima. Dhihintia dan timnya berharap dengan pemahaman yang lebih baik tentang proses de-selularisasi dapat membantu dalam pengembangan metode de-selularisasi yang lebih baik dan menjadi langkah maju dalam persiapan jaringan untuk transplantasi serta diharapkan dapat memberikan dampak yang positif bagi pengembangan kedokteran regeneratif.

Penulis: Dhihintia Jiwangga, Ferdiansyah Mahyudin, Gondo Mastutik, Juliana, Estya Nadya Meitavany

Tautan:

Baca Juga: Spesifik Tungau Debu Rumah dalam Mendiagnosis Rhinitis Alergi Lokal

AKSES CEPAT