51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Puasa Intermiten dan Sistem Imun: Harapan Baru untuk Atasi Peradangan pada Obesitas

Ilustrasi Obesitas (Sumber: Alodokter)
Ilustrasi Obesitas (Sumber: Alodokter)

Obesitas kini menjadi masalah kesehatan global yang kompleks. Lebih dari 2,6 miliar penduduk dunia mengalami kelebihan berat badan, dan angkanya diperkirakan meningkat drastis pada tahun 2035. Penumpukan lemak pada obesitas memicu peradangan kronis tingkat rendah dalam tubuh. Pada individu obesitas, kadar sitokin proinflamasi seperti interferon-gamma (IFN-γ) meningkat, sementara sitokin antiinflamasi seperti interleukin-10 (IL-10) cenderung menurun. Ketidakseimbangan ini dapat mengganggu sistem kekebalan dan meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes dan penyakit jantung. 

Salah satu pendekatan gaya hidup yang mulai dilirik untuk mengatasi peradangan adalah intermittent fasting atau puasa intermiten. Dua metode yang banyak dibahas adalah time-restricted eating (TRE), yaitu membatasi waktu makan setiap hari (misalnya 18 jam puasa dan 6 jam makan), serta alternate-day modified fasting (ADMF), yaitu puasa selang-seling harian dengan asupan kalori rendah hanya pada hari puasa. Metode ini tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga metabolisme dan sistem imun. Namun, sejauh mana metode ini memengaruhi sitokin seperti IFN-γ dan IL-10 pada perempuan muda obesitas belum banyak diteliti. 

Penelitian yang telah dilakukan melibatkan 23 perempuan muda obesitas usia 18“25 tahun. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol, TRE 18:6, dan ADMF selama 20 hari. Sebelum dan sesudah intervensi, kadar IFN-γ dan IL-10 diukur melalui pemeriksaan serum menggunakan metode ELISA. Hasil yang didapatkan hanya kelompok TRE yang menunjukkan penurunan signifikan pada kadar IFN-γ, sementara IL-10 tidak mengalami perubahan bermakna di semua kelompok. Pada kelompok ADMF dan kontrol, kadar IFN-γ tetap stabil. 

Kadar IFN-γ yang tinggi mencerminkan peradangan sistemik. Penurunan signifikan IFN-γ pada kelompok TRE menunjukkan bahwa pola makan terbatas waktu dapat membantu meredakan peradangan pada perempuan obesitas, bahkan tanpa penurunan berat badan yang signifikan dalam 20 hari. Peneliti berpendapat bahwa hal ini terjadi karena mekanisme metabolik seperti aktivasi AMPK dan penghambatan mTOR, yang berperan dalam menekan produksi sitokin proinflamasi. TRE juga mendukung ritme sirkadian tubuh, sehingga sistem imun bekerja lebih seimbang. 

Sebaliknya, stabilnya kadar IL-10 menunjukkan bahwa efek antiinflamasi TRE tidak terjadi melalui peningkatan IL-10, melainkan lebih karena penurunan mekanisme proinflamasi seperti IFN-γ. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh durasi intervensi yang singkat atau karena pada obesitas, sel-sel penghasil IL-10 seperti T-regulator mengalami penurunan fungsi. Selain itu, tidak adanya penurunan lemak tubuh yang signifikan dapat menjelaskan kenapa IL-10 tidak meningkat. 

Mengapa ADMF tidak memberikan hasil signifikan? Pola puasa yang tidak konsisten setiap hari dianggap kurang selaras dengan ritme sirkadian tubuh dibandingkan TRE. Selain itu, pada hari tidak puasa, peserta bebas makan tanpa batas, sehingga efek metabolik dan imunologis menjadi lebih ringan dibandingkan TRE yang dilakukan konsisten setiap hari. 

Penelitian ini memberi pesan penting: memperbaiki pola makan ternyata tidak selalu harus dimulai dari pengurangan jumlah makanan, tetapi bisa dimulai dari membatasi waktu makan. TRE mudah diterapkan, tidak memerlukan perhitungan kalori rumit, namun terbukti mampu menurunkan penanda peradangan IFN-γ dalam waktu singkat. Ini menjadikan TRE sebagai intervensi non-obat yang menjanjikan untuk membantu mengatasi peradangan kronis pada perempuan obesitas. 

Namun, penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Durasi intervensi hanya 20 hari, jumlah peserta relatif kecil, dan hanya melibatkan perempuan muda. Hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk laki-laki atau kelompok usia lain. Selain itu, pola makan dan aktivitas fisik peserta tidak dikontrol secara ketat, meskipun dipantau melalui catatan harian. Penelitian lanjutan dengan durasi lebih panjang dan pengukuran penanda imun lainnya sangat diperlukan. 

Penulis: Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., M.Kes.

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:

AKSES CEPAT