UNAIR NEWS Pusat Research Center in Advancing Community Healthcare (REACH) 51动漫 menggelar webinar internasional bertajuk 淒ari Ameriki ke Amerika: Persiapan, Peluang, dan Tantangan Perawat Indonesia di Negeri Paman Sam pada 7 Oktober 2025 melalui platform Zoom Meeting.
Webinar ini menghadirkan kisah inspiratif dari diaspora perawat Indonesia serta membuka ruang diskusi strategis mengenai penguatan sumber daya manusia (SDM) kesehatan agar mampu bersaing ditingkat global.
Dari Jakarta, Jepang, hingga Amerika Serikat
Salah satu sorotan utama dalam acara ini adalah kisah perjuangan Elizabeth Nalur, seorang perawat Indonesia yang telah berkecimpung lebih dari 15 tahun di dunia keperawatan. Karirnya bermula di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, Jakarta, kemudian berlanjut ke Jepang selama lebih dari satu dekade di Akademi Medical Club. Saat ini, ia bekerja di Amerika Serikat, tepatnya di Klinik Medical Center Riscon, pada unit bedah abdomen dan perawatan paliatif.
Dalam pemaparannya, Elizabeth membagikan kisah jatuh bangunnya. Ia sempat terhenti melanjutkan pendidikan karena kendala biaya. Namun tekad untuk terus berkembang membawanya mengikuti pelatihan ke Jepang, hingga akhirnya berhasil menembus pasar kerja di Amerika Serikat.
淒ulu saya ke Jakarta naik kapal ekonomi lima hari lima malam dari timur Indonesia. Sekarang saya bekerja di rumah sakit di Amerika dengan sistem kerja yang sangat manusiawi dan profesional, tuturnya.
Tak Cukup Bermodal Ijazah
Menurut Elizabeth, salah satu indikator penting daya saing tenaga kesehatan Indonesia adalah kemampuannya untuk diterima dan bekerja secara profesional di luar negeri. Namun untuk mencapai itu, bekal ijazah saja tidaklah cukup.
淭enaga kesehatan Indonesia juga harus menguasai bahasa asing, memahami budaya lokal, serta mampu beradaptasi dengan standar dan istilah internasional, jelasnya.
Elizabeth juga menyoroti realitas kontras yang pernah ia alami saat bekerja sebagai perawat di Indonesia. Dulu, ia pernah menjalani shift malam tiga hari berturut-turut hanya dengan bayaran Rp25.000 per malam. Pulang kerja, ia kerap mengalami kelelahan fisik hingga sesak napas akibat tekanan pekerjaan.
Kini, sistem kerja di tempatnya berkarier jauh lebih baik. Di Amerika Serikat, gaji perawat bisa mencapai lebih dari satu miliar rupiah per tahun. Lembur dibayar secara penuh, dan seluruh sistem kerja dijalankan dengan transparansi dan profesionalisme tinggi.
淪alah satu hal yang saya sukai di sini adalah semuanya transparan. Tidak ada lembur yang tidak dibayar. Tidak ada bullying. Bahkan perawat dianggap partner sejajar dengan dokter, ungkapnya.
Di akhir sesinya, Elizabeth mengajak peserta webinar untuk memaknai ulang arti kesuksesan. Baginya, mengukur kesuksesan bukan dari gelar atau harta, melainkan dari kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan dasarnya dengan layak.
淢enurut saya, sukses itu saat kita tidak lagi khawatir soal kebutuhan dasar. Tidak harus gelar tinggi atau kaya raya. Sekarang saya bisa hidup layak dan bantu keluarga. Itu sudah cukup, ujarnya dengan tulus.
Penulis : Saffana Raisa Rahmania
Editor : Ragil Kukuh Imanto





