UNAIR NEWS Tim 51动漫 (UNAIR) berhasil menjadi finalis lima besar kompetisi Healthkathon 2.0 oleh BPJS Kesehatan pada 9 Juni 30 September 2023 lalu. Kategori kompetisi Healthkathon 2.0 yang mereka ikuti adalah Innovation System dengan mengusung tema Accelerating Innovation for Healthcare Service Improvement. Mereka merancang aplikasi untuk ibu hamil dalam kompetisi itu.
Tim UNAIR terdiri dari tiga mahasiswa dari fakultas yang berbeda, yaitu Muhammad Fachrizal Hamdani sebagai UI/UX designer, Oktavia Intifada Husna sebagai apps developer, dan Anita Firmanti Kartika Anggari sebagai domain researcher.
Bersaing dengan Para Ahli IT
Fachrizal, ketua tim, kepada UNAIR NEWS pada Rabu (4/10/2023) mengatakan kompetisi ini terbuka untuk umum. Sehingga semua kalangan bisa ikut mendaftar, baik para developer, data scientist, praktisi IT, pekerja, mahasiswa, pelajar, maupun masyarakat umum.
淒ari 296 tim yang mengikuti kompetisi, kami berhasil lolos sebagai finalis saja sudah pencapaian yang luar biasa. Apalagi, kompetisi ini juga tidak hanya diikuti oleh mahasiswa, tetapi ahli-ahli di bidang IT, ujar Fachrizal.

Mereka membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan untuk merancang ide, membuat video presentasi, mengerjakan UI aplikasi, melakukan riset, hingga coding aplikasi.
Rancang Aplikasi BPJS Kesehatan untuk Ibu Hamil
Aplikasi yang mereka rancang bernama Momils (Mommy Hamil Sehat). Itu merupakan aplikasi terintegrasi dengan BPJS Kesehatan yang menyediakan fitur pelayanan kehamilan dan kesehatan bagi ibu hamil dan bayinya. Melalui integrasi dengan BPJS Kesehatan, ibu hamil memperoleh jaminan pelayanan kehamilan dan kesehatan dengan tanggungan biaya dari BPJS Kesehatan.
淎plikasi Momils dapat mempercepat dan mempermudah pendaftaran ANC, persalinan, PNC, dan KB. Aplikasi ini juga secara tidak langsung mendukung pencapaian SDGs poin ketiga, tutur Fachrizal.
Menurut Fachrizal, kompetisi ini sangat menguji ketangguhan dan kesabaran. Mereka dituntut untuk membuat inovasi yang sudah harus bisa diterapkan di masyarakat. Apalagi, sambungnya, saingannya sangat banyak dan merupakan para ahli di bidang IT.

淢eskipun kami hanya meraih posisi finalis, tetapi menurut kami pengalaman dan penghargaan berupa uang tunai dan sertifikat lebih dari sekadar finalis. Final words, usaha tidak mengkhianati hasil, and we did our best! ucapnya.
Sebagai penutup, Fachrizal turut menyampaikan tips agar bisa memenangkan kompetisi serupa. Ia menekankan untuk memperluas lingkaran pertemanan, jangan hanya satu jurusan atau satu fakultas saja, tetapi expand ke bidang lain.
淜arena perbedaan latar belakang pendidikan itu dapat menjadi peluang untuk menciptakan tim yang solid dan saling melengkapi dalam membuat aplikasi atau mengikuti suatu kompetisi, pungkasnya. (*)
Penulis : Dewi Yugi Arti
Editor : Binti Q. Masruroh





