UNAIR NEWS “ Dusun Ringinsari, Desa Ringinrejo mendapatkan julukan sebagai kampung Jolosutro karena memiliki pantai yang indah dibagian paling selatan kabupaten Blitar. Hanya saja, akses yang sulit dan banyaknya pantai didaerah Blitar yang lain membuat wisatawan enggan untuk datang, bahkan jarang sekali masyarakat yang tahu mengenai keberadaan pantai Jolosutro.
Maka dari itu, dalam acara Gerbang Desa Jilid IV pantia berupaya untuk memaksimalkan potensi pariwisata pantai Jolosutro dengan cara revitalisasi pantai dan membrandingkannya di Sosial Media.
Muhammad Ulil Albab, Koordinator sie acara Gerbang Desa Jilid IV dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menjelaskan bahwa terdapat dua tahapan dalam revitalisasi pantai. Revitalisasi pantai tahap pertama adalah dengan membersihkan pantai yang dilanjut dengan pembuatan spot-spot yang instagramable untuk menarik wisatawan sampai revitalisasi pantai tahap dua spot-spot tersebut harus sudah jadi dan sudah terpasang.
Selain itu, untuk memperindah kampung Jolosutro, panitia bersama warga bergotong royong untuk membuat pagar disepanjang jalan yang ada di kampung Jolosutro. Pembuatan pagar bambu tersebut, selain untuk memperindah desa, juga untuk memberikan kesan yang baik bagi para wisatawan.
“Kita ingin memberdayakan masyarakat disini sehingga bisa menjadi masyarakat yang mendiri, memiliki daya saing yang tidak kalah dengan masyarakat di desa lain. Dengan revitalisasi pantai yang dapat menarik wisatawan untuk datang, bisa membuka pikiran mereka bahwa mereka memiliki potensi sehingga mereka tidak pasrah begitu saja,” jelas mahasiswa yang akrab dipanggil Ulil tersebut.
Sementara itu, imbuhnya, upaya lain untuk membranding pantai Jolosutro adalah dengan panitia yang diwajibkan untuk memposting foto terkait keindahan pantai Jolosutro dan hasil kerja panitia untuk diupload di sosial media.
“Mereka sendiri, memviralkannya dengan memakai hashtag -hashtag yang sudah ditetapkan,” ungkapnya.
Upaya tersebut bukannya terjadi dengan tanpa ada kendala. Terangnya, ada beberapa kendala yang terjadi, salah satunya adalah terkait koordinasi dan perubahan jadwal. Namun semua itu dapat teratasi oleh kerja keras selurh panitia.
“Selain pantai Jolosutro, terdapat pantai pasir hitam (wedi ireng, red) yang belum bisa disentuh oleh pantia. Hal ini karena aksesnya cukup susah. Terlebih ketika pasang, untuk mencapai pasir hitam harus menaiki bukit terlebih dulu. Baru ketika surut bisa turun kesana. Ombak yang besar membuat wisatawan harus berhati-hati,” pungkasnya.
Penulis: Galuh Mega Kurnia
Editor: Nuri Hermawan





