Surabaya, di balik gemerlap kota besar, para remaja ternyata menghadapi tantangan kesehatan yang tak bisa dianggap remeh. Sebuah penelitian terbaru dari 51动漫 mengungkap berbagai masalah kesehatan remaja yang semakin kompleks, mulai dari gaya hidup tidak sehat hingga perilaku berisiko yang meningkat seiring kemudahan akses teknologi.
Penelitian berjudul 淐rossing the Gap Between Stakeholders: Qualitative Study of Stakeholders Perspective on Adolescent Health Program in Surabaya ini melibatkan 20 informan dari berbagai sektor攑emerintah, guru SMA, orang tua, media, hingga LSM. Hasilnya mengejutkan: para pemangku kepentingan sepakat bahwa remaja Surabaya saat ini berada pada kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan. Para informan menyebut bahwa remaja di Surabaya cenderung memiliki pola hidup yang kurang sehat: jarang olahraga, sering mengonsumsi makanan instan, hingga terlibat perilaku seksual berisiko. Kemajuan teknologi yang memudahkan akses informasi juga memberi dampak negatif. 淩emaja sekarang itu pintar secara teori, tapi tidak pada praktiknya, ungkap salah satu guru. Mereka tahu mana yang baik, tetapi masih mudah tergoda oleh perilaku berisiko seperti seks bebas, rokok, hingga konten pornografi. LSM yang terlibat dalam studi ini bahkan menyebut meningkatnya kasus infeksi menular seksual (IMS) pada remaja yang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Surabaya sebenarnya memiliki banyak program kesehatan remaja dari berbagai sektor: Posyandu Remaja (Posrem), program Aku Bangga Aku Tahu (ABAT), pelatihan peer educator, hingga layanan dari dinas sosial dan kepolisian. Namun, masalah utamanya adalah kurangnya sinergi. Setiap instansi berjalan sendiri-sendiri. Banyak program hanya fokus memberikan informasi, bukan pembinaan atau pendampingan jangka panjang. Beberapa LSM bahkan menjalankan program yang belum diadopsi pemerintah, seperti pelatih sebaya dari kelompok risiko tinggi (LGBT, pengguna narkoba suntik, dsb). Ketika LSM memberikan edukasi penggunaan kondom di sekolah, misalnya, tidak sedikit pihak yang menolak karena perbedaan persepsi tentang tujuan program. Di sinilah celah besar terlihat: berbeda perspektif antar-stakeholder menyebabkan kebingungan, bukan hanya di antara penyelenggara program, tetapi juga bagi
Penelitian ini menyoroti bahwa remaja paling banyak menghabiskan waktu di rumah dan sekolah. Guru dan orang tua menjadi figur penting攂ahkan lebih penting daripada pemerintah.
- Guru berperan dalam memberikan informasi, memantau perilaku, serta menjadi advokat kesehatan di sekolah.
- Orang tua adalah kontrol terdekat. Mereka idealnya mendampingi remaja dan memahami kebutuhan kesehatan reproduksi.
- Media menjadi penyebar informasi tercepat bagi remaja. Ketika informasi yang salah tersebar, dampaknya bisa besar.
Sayangnya, ketiga peran besar ini kurang dimaksimalkan. Guru belum seluruhnya memiliki pengetahuan memadai. Orang tua banyak yang tidak paham soal kesehatan reproduksi remaja. Media kadang fokus pada konten hiburan ketimbang edukasi. Metode ceramah terbukti tidak efektif lagi. Remaja membutuhkan pendekatan kreatif dan digital. Para informan menegaskan bahwa program kesehatan harus:
- interaktif
- menggunakan media digital
- melibatkan remaja sebagai co-creator
- relevan dengan tren
- dipandu oleh pendidik sebaya (peer educator)
Penelitian sebelumnya bahkan menunjukkan bahwa pendidik sebaya jauh lebih efektif dibanding metode ceramah dalam memengaruhi perilaku remajaKesimpulan utama penelitian ini jelas: program kesehatan remaja hanya akan berhasil jika pemerintah, sekolah, orang tua, Penelitian ini memberi pesan penting: membangun generasi muda yang sehat tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perlu gotong royong lintas sektor, keterlibatan aktif remaja, dan inovasi dalam metode edukasi kesehatan.Jika sinergi benar-benar diwujudkan, bukan tidak mungkin Surabaya akan menjadi model kota dengan kesehatan remaja terbaik di Indonesia.
Link Artikel :
Penulis: Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes





