UNAIR NEWS – 51动漫 (UNAIR) kembali mengukuhkan guru besar dalam sebuah prosesi yang digelar pada Kamis (22/01/2026) di Auditorium Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus MERR-C. Salah satunya adalah Prof Dr Purwo Sri Rejeki dr MKes. Ia resmi menjadi Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kepakaran Fisiologi Metabolisme dan Aging. Dalam pengukuhan yang dipimpin langsung oleh rektor, Prof Purwo menyampaikan orasi ilmiah berjudul Integrasi Fisiologi dalam Strategi Preventif Obesitas: Bukti Empiris, Pendekatan Interdisipliner, dan Implikasinya bagi Kesehatan Masyarakat Indonesia.
Bukan Sekadar Masalah Berat Badan
Dalam orasinya, Prof Purwo menegaskan bahwa obesitas tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan kelebihan berat badan. Melainkan sebagai gangguan fisiologis sistemik yang kompleks. 淥besitas bukan semata persoalan estetika atau kebiasaan makan berlebih. Tetapi merupakan akumulasi gangguan fisiologis yang melibatkan keseimbangan energi, inflamasi kronis, dan disfungsi metabolik hingga tingkat molekuler, ujar Prof Purwo.
Ia memaparkan data global dan nasional yang menunjukkan peningkatan prevalensi obesitas secara signifikan. Mengacu pada World Obesity Atlas 2022, Prof Purwo menyebut Indonesia menempati peringkat tinggi di Asia Tenggara.
淟ebih dari sepertiga populasi dewasa Indonesia saat ini mengalami kelebihan berat badan dan obesitas. Data ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan perubahan lingkungan hidup, pola konsumsi, dan menurunnya aktivitas fisik, jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak luas karena obesitas memicu resistensi insulin, inflamasi sistemik, hingga percepatan penuaan biologis. 淧ada obesitas terjadi inflamasi kronis tingkat rendah yang memengaruhi hampir seluruh sistem organ. Bahkan hingga ke tingkat sel dan molekul, tegas Prof Purwo.
Integrasi Puasa dan Olahraga sebagai Strategi Preventif
Lebih lanjut, Prof Purwo memaparkan hasil risetnya yang menekankan pentingnya integrasi aktivitas fisik terprogram dan pembatasan asupan energi sebagai strategi preventif berbasis fisiologi. 淎ktivitas fisik dan puasa bukan sekadar gaya hidup. Melainkan stimulus biologis yang mampu memulihkan homeostasis metabolik, meningkatkan sensitivitas insulin, dan menekan inflamasi kronis, tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa olahraga intensitas moderat yang dilakukan secara konsisten mampu meningkatkan adiponektin, memperbaiki fungsi jaringan lemak, serta menekan proses inflamasi. 淥lahraga tidak cukup hanya aerobik. Kombinasi aerobik dan latihan resistensi perlu untuk mencegah sarkopenia sekaligus meningkatkan oksidasi lemak, jelasnya.
Sementara itu, puasa periodik berperan sebagai metabolic switch yang memicu adaptasi metabolik dan molekuler. 淧uasa mengaktifkan mekanisme seluler yang menekan jalur penuaan dini dan meningkatkan fleksibilitas metabolik. Namun harus bersinergi dengan olahraga agar tidak menurunkan massa otot, katanya.
Implikasi bagi Kesehatan Masyarakat
Menutup orasinya, Prof Purwo menekankan bahwa pendekatan preventif obesitas harus diterapkan secara interdisipliner dan kontekstual. Tidak hanya di tingkat individu, tetapi juga pada kebijakan publik.
淪trategi preventif berbasis fisiologi harus menjadi fondasi kebijakan promotif dan preventif kesehatan masyarakat. Mulai dari edukasi, lingkungan hidup aktif, hingga regulasi tempat kerja dan pendidikan, pungkasnya. Ia berharap integrasi ilmu dasar, klinik, dan kesehatan masyarakat dapat melahirkan kebijakan berbasis bukti yang berdampak nyata bagi kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Penulis: Samudra Luhur Pambudi
Editor: Yulia Rohmawati





