Sistem konduksi pada jantung mulai berkembang sekitar usia kehamilan 5 minggu, ditandai dengan munculnya aktivitas alat pacu jantung melalui nodus sinus. Aritmia janin merupakan kelainan langka dengan prevalensi sekitar 2%. Penilaian detak jantung secara teratur adalah cara utama untuk melakukan skrining terhadap aritmia, dan adanya aritmia janin sering kali akan diperlukan rujukan untuk evaluasi jantung janin secara menyeluruh. Aritmia janin diklasifikasikan menjadi takiaritmia dan bradiaritmia, dengan prevalensi takiaritmia lebih tinggi yaitu 41,4% dibandingkan bradiaritmia sebesar 17,2%. Pada populasi umum, takiaritmia janin menjadi penyulitkan sekitar 0,4-0,6% kehamilan dengan angka kematian takiaritmia sebesar 8-9%. Biasanya episode singkat takiaritmia janin tidak menimbulkan masalah klinis, namun takiaritmia yang berkelanjutan dapat menyebabkan gagal jantung, hidrops fetalis janin, dan bahkan kematian
Angka kejadian takiaritmia di Indonesia saat ini tidak diketahui karena kelangkaannya. Memahami patofisiologi janin takiaritmia sangat penting untuk meningkatkan tingkat keberhasilan intervensi terapeutik. Berdasar hal ini, tim peneliti dari Departemen Obstetri dan Ginekogi, Fakultas Kedokteran, 51动漫 melakukan pengalaman pertama kami dalam mengelola takiaritmia janin di RSUD Dr Soetomo Surabaya yang membutuhkan resolusi penyembuhan yang lama namun didapatkan luaran yang sukses. Seorang pasien wanita berusia 36 tahun Multigravida datang ke poliklinik obstetri rawat jalan di RSUD Dr. Soetomo pada tanggal 25 Mei 2021 didiagnosa dengan takiaritmia janin pada usia kehamilan 30 minggu. Pasien mencari opini medis kedua setelah menjalani pengobatan di rumah sakit sebelumnya, dimana telah diperiksa bahwa detak jantung janin sangat cepat. Di rumah sakit sebelumnya, pasien menerima injeksi pematangan paru-paru.
Pada pasien ini USG dasar pemeriksaan menunjukkan struktur jantung normal tanpa gangguan hidrops atau polihidramnion. Denyut jantung janin secara konsisten berada pada 230x per menit selama pemeriksaan. Ekokardiografi M-mode mendapatkan 1:1 kontraksi atrioventrikular dengan interval pendek, menunjukkan kemungkinan diagnosis takikardia supraventrikular berkelanjutan dapat ditegakkan. Perawatan transplasental di dalam Rahim dimulai dengan menggunakan digoksin dengan dosis 0,5 mg, diikuti dengan 0,25 mg intravena setiap 8 jam pada Ibu. Pada hari kelima, aritmianya tidak berangsur membaik, sehingga terapi kombinasi oral dimulai dengan pemberian digoksin pada dosis 0,25 mg setiap 12 jam, bersama dengan propranolol dengan dosis 40-20-20 mg, dan pengobatan ini dilanjutkan selama 5 minggu berikutnya. Resolusi prenatal baru tercapai pada 6 minggu setelah inisiasi pengobatan. Kadar digoksin mencapai konsentrasi terapeutik (1,75 ng/mL) tanpa tanda-tanda keracunan pada Ibu maupun janin. Operasi caesar dilakukan pada usia kehamilan 38/39 minggu. Evaluasi pascakelahiran tidak menunjukkan adanya kekambuhan takiaritmia atau gangguan perkembangan saraf.
Evaluasi kontraksi atrioventrikular menggunakan ekokardiografi M-mode terbukti menjadi metode yang mudah. Dalam kasus takikardia supraventrikular berkelanjutan, tidak adanya janin hidrops kemungkinan disebabkan oleh kontraksi ventrikel yang dapat dijaga berada dibawah 230 denyut per menit. Penggunaan terapi kombinasi telah menunjukkan keunggulan dibandingkan monoterapi dalam mencapai resolusi prenatal. Terapi kombinasi antiaritmia transplasental dapat dipertimbangkan untuk kasus takiaritmia refrakter.
Penulis:
Sarah Fitria Andini , Manggala Pasca Wardhana , Agus Sulistyono , I Ketut Alit Utamayasa , Alisia Yuana Putri
Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:
https://repository.unair.ac.id/128366/1/Prolonged%20Resolution.pdf





