51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Respon Keluarga terhadap Situasi Krisis akibat Pengalaman Perdagangan Seksual

Respon Keluarga terhadap Situasi Krisis akibat Pengalaman Perdagangan Seksual
Sumber: Kumparan

Dampak pengalaman perdagangan seksual yang dialami korban dirasakan juga oleh keluarganya. Dampak psikologis dan sosial yang diterima keluarga membuat kondisi keluarga menjadi tidak stabil. Fungsi keluarga terganggu dan keluarga berjuang keras untuk tetap menjalankan fungsinya di tengah krisis. Salah satu prinsip dari teori sistem keluarga menjelaskan bahwa krisis dan tekanan terus-menerus dapat memengaruhi keluarga dan semua anggotanya, menimbulkan risiko disfungsi, konflik relasional dan hambatan pada keluarga.

Kebanyakan korban perdagangan seksual adalah perempuan yang masih muda belia. Saat kebanyakan anak lain masih menerima hangatnya naungan dan perlindungan orang tua, mereka sudah harus berhadapan dengan predator yang membawa pada pengalaman pahit traumatis. Orang tua korban menerima stigma dan anggapan bahwa mereka tidak mampu berperan sebagai orang tua yang baik. Kondisi tersebut membuat keluarga mengalami tekanan. Belum selesai dengan membantu anak kembali ke rumah, orang tua harus berhadapan dengan sanksi moral masyarakat.

Stigma menguat karena masalah yang dialami keluarga terkait dengan masalah seksualitas yang dialami anak perempuan.  Secara historis perjalanan kasus ini juga penting untuk dipahami. Pada korban yang masih anak-anak, usia mereka masih jauh dari pemahaman tentang seksualitas. Dorongan anak untuk tahu tentang dunia luar, mencari pengalaman hidup di luar keluarga, keinginan untuk lari dari permasalahan di rumah, membawa mereka bertemu dan memercayai orang-orang yang dianggap baik dan bisa memenuhi kebutuhan mereka. Masalah di rumah dapat membuat perempuan dan anak memiliki kerentanan psikologis dan mudah diperdagangkan.

Kondisi-kondisi korban dan keluarga, menentukan cara mereka merespon krisis. Dalam kajian ini, pengalaman perdagangan seksual diposisikan sebagai adversity. Adversity dipahami sebagai tantangan, yaitu kondisi yang menuntut keluarga ˜deal™ dengan kesulitan melalui proses-proses positif dalam keluarga. Kesulitan atau krisis yang diterima sebagai stressor keluarga, membuat keluarga jatuh dalam kondisi stress. Stressor merupakan peristiwa kehidupan atau transisi yang menghasilkan perubahan dalam sistem sosial keluarga. Stressor yang terus menerus dan tidak selesai akan meningkatkan risiko kemunculan masalah berikutnya pada keluarga.

Teori sistem keluarga memandang stressor yang menimbulkan krisis pada keluarga akan berdampak pada seluruh anggota keluarga. Krisis tersebut dapat menggagalkan sistem fungsi keluarga dan berdampak pada relasi semua anggota keluarga. Terjadinya disfungsi keluarga disebabkan oleh adanya pemaknaan negatif terhadap masalah yang ditimbulkan oleh pengalaman perdagangan seksual.  Keluarga mengalami syok dan tidak tahu bagaimana menindaklanjuti permasalahan tersebut oleh sebab keluarga mengembangkan persepsi negatif terhadap masalah yang dialami. Selain itu sumber daya keluarga juga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Krisis akan menimbulkan ketegangan (strain) pada keluarga yang muncul dalam bentuk: (1) ketegangan psikologis, yang ditandai oleh adanya kesedihan, terguncang, merasa ˜gila™ dan trauma; (2) ketegangan fisiologis, berupa reaksi-reaksi fisik yang memerlukan pertolongan medik; (3) ketegangan sosial, berupa gunjingan tetangga dan ˜stigma™; (4) ketegangan relasional dalam keluarga, berupa relasi emosi negatif yang memunculkan amarah terhadap anak. Pada keluarga korban perdagangan seksual, strain lebih banyak dialami oleh orang tua. Tekanan yang dialami orang tua merupakan tekanan paling berat, terutama bagi orang tua korban yang masih remaja. Sementara bagi korban dewasa, ketegangan terkuat dialami oleh mereka sendiri. Strain dapat merusak kesehatan fisik dan mental, itu sebabnya bentuk ketegangan psikis dan fisik itu ada.

Ketegangan keluarga lebih banyak ditanggapi dengan kemarahan. Amarah tersebut merupakan reaksi emosional yang menyertai perasaan bersalah, depresi atau gelisah, dan lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Kemarahan  berdampak terhadap relasi dalam keluarga yang mana ˜melemahkan™ fungsi keluarga dalam menghadapi permasalahan. Sementara ketegangan sosial, ditandai dengan adanya gunjingan dan stigma terkait dengan permasalahan seksualitas. Stigma, salah satunya terhadap keluarga, menjadi salah satu faktor yang menghambat proses reintegrasi dan rehabilitasi korban perdagangan seksual dan keluarganya. Tidak heran ketegangan yang dialami keluarga, dapat membuat keluarga mengalami disfungsi (family disfunction).

Penulis: Ike Herdiana

Link:

Baca juga: Peran Keluarga dalam Merawat Pasien Skizofrenia

AKSES CEPAT