Dalam beberapa tahun terakhir, artisan entrepreneurship (kewirausahaan pengrajin) semakin menarik perhatian dalam literatur kewirausahaan dan manajemen. Meningkatnya minat terhadap kewirausahaan pengrajin disebabkan oleh perluasan industri kreatif dan fokus pada barang dan jasa yang memiliki komponen budaya, seperti yang menggunakan keterampilan tradisional, inovasi, identitas budaya, dan jaringan sosial. Terlebih lagi, kewirausahaan artisan adalah industri kreatif yang menghubungkan manusia dan budaya dalam skala global.
Banyak kewirausahaan pengrajin berpusat pada industri pakaian dan bahan makanan karena pengrajin lebih memilih untuk menciptakan produk yang terkait dengan warisan budaya untuk mendapatkan keuntungan dan menawarkan produk unik, yang merupakan ciri pembeda pasar. Namun, sejumlah penelitian telah membahas kewirausahaan perajin di luar industri pakaian dan makanan, serta mengamati produk perajin yang terkait dengan pertanian. Misalnya, terdapat studi yang lebih fokus pada pemahaman tujuh tema penting dalam kewirausahaan artisanal, yaitu konteks perilaku, motivasi, pengembangan, sumber daya, keragaman, dan klasifikasi. Sayangnya, penelitian ini tidak mengeksplorasi anteseden terkait faktor-faktor yang mungkin dikembangkan sebagai respons terhadap tekanan pasar maupun kemampuan bertahan di tengah persaingan.
Keberagaman penelitian yang muncul mengenai kewirausahaan pengrajin disebabkan oleh beberapa hal. Sejumlah penelitian, misalnya, mengamati kewirausahaan pengrajin, produk kewirausahaan, dan hubungan langsung atau tidak langsung antara daya saing pariwisata, dampak lingkungan, dan aktivitas pengrajin. Selain itu, banyak penelitian tentang kewirausahaan pengrajin menemukan bahwa terdapat cerita dalam karya pengrajin terkait dengan keterampilan, inovasi, motivasi, dan kepribadian wirausaha. Kewirausahaan pengrajin mengalami tantangan terkait dengan keterbatasan sumber daya, identitas budaya, kebijakan, jaringan sosial, dan perubahan ekonomi dan lingkungan. Namun, faktor-faktor yang memungkinkan pengusaha pengrajin menghadapi dinamika lingkungan dan dampak yang diakibatkannya sebagian besar masih belum diketahui, sehingga menjadi fokus penelitian ini.
Bersikap responsif dan proaktif di pasar global penting dalam kewirausahaan pengrajin untuk mencapai kesuksesan. Dalam budaya Barat, produksi barang-barang pengrajin mencerminkan kualitas masyarakat, yang mewujudkan martabat, keterampilan, integritas, kepercayaan diri, dan penekanan pada faktor-faktor seputar keterampilan yang terkait dengan produksi kerajinan. Oleh karena itu, suatu daerah dapat mengembangkan daya saingnya dengan memanfaatkan warisan budaya, jaringan sosial, dan produk kerajinannya. Namun, tanpa memahami faktor-faktor yang menyebabkan keberhasilan kewirausahaan pengrajin, dukungan terhadap pengembangannya mungkin kurang. Oleh karena itu, pertanyaan penelitian untuk makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Faktor-faktor apa yang memungkinkan kewirausahaan artisanal menghadapi dinamika lingkungan dan konsekuensi yang diakibatkannya dalam literatur yang ada?
2. Kemungkinan apa yang tersedia bagi penelitian di masa depan untuk lebih mengembangkan dan memperluas literatur yang ada di bidang ini?
Metode Penelitian
Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut, penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Supriharyanti dan Sukoco (2023) dengan menggunakan metode Tranfield et al. (2003), yaitu tinjauan sistematis yang melibatkan melakukan studi literatur secara lengkap melalui proses yang dapat ditiru secara ilmiah dan transparan. Metode ini dilakukan pada pencarian database Scopus untuk penelitian-penelitian yang diterbitkan antara tahun 1976 hingga 2023 dengan beberapa kriteria, seperti hanya pada bidang Bisnis, Manajemen, dan Akuntansi, kuartil pertama, dan literatur berbahasa Inggris. Penilaian studi dan analisis mendalam terhadap setiap makalah yang dipilih dan diekstraksi juga dilakukan guna menentukan makalah dan komponen spesifik mana yang relevan dengan penelitian.
Kesimpulan
Studi ini mengeksplorasi literatur kewirausahaan pengrajin, yang telah berkembang secara signifikan dalam 50 tahun terakhir. Sifat kompleks dari kewirausahaan pengrajin telah menjadikan industri ini semakin penting selama dekade terakhir karena semakin banyak orang dan organisasi yang tertarik pada isu-isu terkait dengan pengembangan dunia berkelanjutan untuk generasi mendatang. Anteseden yang diusulkan dari kewirausahaan pengrajin meliputi faktor lingkungan, sosial, organisasi, dan individu. Faktor organisasi, khususnya kemampuan berinovasi, telah memainkan peran yang dominan dan dieksplorasi secara luas dalam pengembangan kewirausahaan pengrajin dalam lima puluh tahun terakhir. Selain anteseden, terdapat konsekuensi akibat dinamisme lingkungan, yang terdiri dari konsekuensi sosial, organisasi, dan individu.
Studi ini juga mengidentifikasi kemungkinan penelitian di masa depan untuk mengembangkan, memperkuat, dan memperluas literatur dalam domain ini. Sejumlah kecil penelitian telah menggunakan lensa teoritis untuk memahami fenomena kewirausahaan artisan. Secara umum, peneliti telah menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif di sejumlah negara berkembang. Meskipun terdapat sejumlah penelitian dan temuan terkait kewirausahaan pengrajin, namun hal ini masih merupakan bidang penelitian baru dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
Penelitian ini memberikan sejumlah kontribusi. Pertama, studi ini mensintesis studi yang ada tentang bagaimana kewirausahaan pengrajin berkembang dengan mengembangkan anteseden dan konsekuensinya, memperluas faktor keberhasilan kewirausahaan pengrajin yang dikembangkan oleh Loarne-Lemaire (2020), yang lebih fokus pada anteseden dalam mengembangkan kewirausahaan pengrajin. Fokus tersebut berbeda dengan studi sebelumnya yang berfokus pada pemahaman tujuh tema penting dalam artisan enterpreneurship, yaitu konteks perilaku, motivasi, pengembangan, sumber daya, keragaman, dan klasifikasi. Temuan ini memberikan wawasan tentang faktor-faktor yang dapat dikembangkan sebagai respons terhadap tekanan pasar, serta kemampuan untuk bertahan dalam persaingan. Mengingat tinjauan literatur sistematis penting dalam memahami pengetahuan yang ada dan mengidentifikasi arah penelitian baru. Misalnya, mengkaji kesenjangan yang ada dalam literatur kewirausahaan pengrajin akan memotivasi para peneliti yang tertarik pada kewirausahaan pengrajin untuk melakukan penelitian, khususnya mengenai kewirausahaan pengrajin dalam menghadapi dinamisme lingkungan dengan pendekatan kuantitatif.
Penulis: Badri Munir Sukoco
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Uswatun Hasanah, Badri Munir , Indrianawati Usman, and Wann-Yih Wu (2023), “Fifty Years of Artisan Entrepreneurship: A Systematic Literature Review “, , Vol. 12 No. 46.





