Kanker diketaui menjadi penyebab kematian terbesar kedua setelah penyakit kardiovaskular di Indonesia. Sayangnya, kanker sering tidak terdeteksi ataupun terdeteksi di stadium terminal. Penyebab utama kanker memang belum secara pasti dapat ditentukan, namun gizi dan makanan memegang peran besar dalam munculnya sel kanker. WHO melaporkan setidaknya 348.809 kasus kanker di Indonesia, dengan 207.210 di antaranya meninggal dunia. Ada tiga jenis kanker dengan angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk semua jenis kelamin yaitu kanker payudara, kanker serviks dan dan kolorektal. Di kawasan Asia, kasus dan kematian akibat kanker kolorektal pada tahun 2018, sebagian besar terjadi di Asia Timur, lalu Asia Tenggara, diikuti Asia Tengah dan Asia Selatan dan Barat. Kebiasaan diet dengan konsumsi rendah serat dianggap meningkatkan risiko kanker kolorektal (Chen et al., 2015). Penelitian Afrah dan Makhmudi (2013) menyatakan bahwa asupan serat harian penduduk Indonesia masih sangat rendah sekitar 10,5 gr/hari. Hal ini juga didukung dengan data terakhir Studi Diet Total yang menunjukkan konsumsi buah dan sayur leboh dari 90% dewasa masih dibawah rekomendasi harian.
Metode dan Hasil
Penelitian ini dilakukan dengan telaah literatur sistematis dan meta-analisis. Tujuannya yaitu mengetahui effect size odds rasio pada studi primer mengenai pengaruh diet rendah serat terhadap peningkatan risiko kanker kolorektal di Asia Tenggara dan Timur, sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang akurat. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi yaitu menggunakan desain studi case-control, full-paper dapat diakses, dan topik yang dibahas mengenai diet rendah serat yang dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal. Identifikasi artikel yang ditemukan dilakukan dengan cara menelaah judul artikel dan abstrak, kemudian melakukan kajian full paper. Artikel di eksklusi dari analisis jika: (a) subjeknya tidak relevan, (b) bukan merupakan studi kasus-kontrol, (c) informasi yang diberikan dalam hasil penelitian tidak mencukupi untuk ekstraksi data, (d) pola konsumsinya tidak sesuai. (bukan diet rendah serat).
Dari hasil identifikasi, sebanyak 14 artikel dianalisis dalam studi ini. Hasil analisis menyebutkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan rendah serat (CI: 0,421“0,867) dengan peningkatan risiko kanker kolorektal karena peran serat larut air dan tidak larut air. Kurangnya asupan serat larut air dapat menurunkan kerja insulin dan pengendalian gula darah atau produksi asam lemak rantai pendek, sedangkan kurangnya asupan serat tidak larut dapat meningkatkan potensi interaksi antara mutagen dan mukosa kolon dengan meningkatkan massa tinja dan mengurangi waktu transitnya. Untuk meminimalisir terjadinya kanker kolorektal, seseorang dianjurkan mengonsumsi serat minimal 25 g/hari (baik serat larut maupun tidak larut), sedangkan bagi seseorang yang memiliki riwayat keluarga kanker, konsumsi serat yang dianjurkan adalah 35-40 gram/hari
Artikel lengkap dapat dibaca di:
Penulis: Tia Eka Novianti , Qonita Rachmah , Merryana Adriani
Penulis artikel popular: Qonita Rachmah





