51

51 Official Website

Revitalisasi Teater di Tengah Gempuran Budaya Populer

Totenk MT Rusmawan ketika memerankan salah satu adegan dalam pementasan teater Aktivizm. (Foto: Feri Fenoria Rifai)

Di era digital yang serba cepat kini, budaya populer seperti film, musik, dan media sosial seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Fenomena ini tak jarang memicu kekhawatiran tentang masa depan teater dan pertunjukan seni tradisional yang dianggap tertinggal zaman dan kurang menarik khususnya bagi kawula muda.

Kamus Cambridge mengartikan budaya populer dengan contoh berupa musik, TV, bioskop, buku, dan sebagainya yang populer dan dinikmati oleh masyarakat awam. Bukan ahli atau orang yang sangat terpelajar. Budaya pop yang juga dikenal sebagai budaya massa berkembang sebagai akibat dari adanya perkembangan pada bidang teknologi, informasi dan komunikasi yang memudahkan para seniman untuk memproduksi karya-karya mereka dengan cara cepat namun dengan biaya yang lebih sedikit demi mendapatkan keuntungan yang berlimpah.

Dengan memanfaatkan perkembangan zaman khususnya internet, penyebaran informasi semakin cepat dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sehingga revitalisasi teater dan pertunjukan seni bukan hanya tentang nostalgia atau melestarikan tradisi. Di balik gempuran budaya populer, terdapat sejumlah alasan penting mengapa revitalisasi ini perlu dilakukan.

Melihat lebih jelas, contohnya adalah penyebaran budaya populer yang saat ini tengah marak yaitu budaya korea seperti K-POP seni musik dengan sajian tarian kontemporer atau Drama Korea (Drakor) sebagai pertunjukan yang menyebar dengan cepat. Karena menargetkan kalangan muda yang kebanyakan aktif di media sosial.Tingkat penggunaan media sosial yang tinggi merupakan kunci utama dan mengambil peranan yang sangat besar dalam penyebaran budaya populer. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan yang dimiliki dalam perkembangan seni dan teater yang ada di Indonesia sendiri.

Fenomena budaya populer K-POP dan Drakor ini menarik bagi para muda-mudi di Indonesia. Sebagai contoh, K-POP selalu menampilkan musik dan juga tarian kontemporer yang menurut sebagian muda-mudi dirasa keren, dan menyebabkan banyak dari para muda-mudi juga menjadi ikut-ikutan untuk mengikuti tarian tersebut. Bahkan banyak sanggar tari yang menawarkan untuk mengajarkan tari-tari kontemporer bagi anak-anak remaja yang tertarik untuk mempelajarinya lebih jauh.

Fenomena budaya populer tersebut membuat para pelaku seni (seniman) tari tradisional menjadi sedikit peminatnya. Karena banyak orang mulai melirik tarian kontemporer baik untuk pertunjukan maupun sebagai hobi. Para pekerja seni (seniman) tari tradisional mau tidak mau harus mengikuti arus perubahan dan berusaha untuk menyesuaikan agar tidak tergerus oleh budaya populer. Dengan cara menyisipkan lagu-lagu yang sedang trend saat ini di antara lagu-lagu daerah yang biasa digunakan ketika tampil, untuk menarik konsumen baru maupun menjaga konsumen agar tetap menonton pertunjukan seni, baik seni musik sampai seni tari. Begitupun pada sektor teaterikal yang terkontaminasi dengan alur-alur cerita dari Drama Korea.

Namun, langkah tersebut justru dapat menimbulkan pertanyaan dari turis asing maupun masyarakat Indonesia yang sedang menonton pertunjukan tersebut. Hal yang menjadi pertanyaan adalah dari segi orisinalitas pertunjukan seni serta nilai budaya atau nilai kearifan lokal yang diperlihatkan. Kemudian nilai pelajaran yang akan ditunjukkan juga turut menjadi pertanyaan dari langkah tersebut.


Mengambil contoh seni tari yang ada di Indonesia, yaitu seni tari Jathilan, Ludruk, Ketoprak, Tari Jaipong, dan masih banyak lagi. Tari Jaipong merupakan salah satu kesenian yang menggabungkan gerakan tari dengan musik. Musik yang biasa digunakan pun musik daerah yang kebanyakan berasal dari daerah Jawa. Apabila musiknya diganti dengan musik yang sedang trend di media sosial untuk menarik minat penonton baru, akan menimbulkanperasaan aneh saat sedang menontonnya.

Sama halnya dengan pertunjukan teater yang ada di Indonesia yang bernasib sama dengan pertunjukan seni. Teater di Indonesia juga mulai berubah di era digitalisasi sekarang ini. Teater dan pertunjukan seni memiliki fungsi selain sebagai hiburan di kalangan masyarakat Indonesia, yaitu sebagai media informasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan informasi kepada penonton. Kemudian fungsi edukasi dari konten yang akan disampaikan kepada penonton sebagai pembelajaran. Lalu fungsi sebagai media untuk menyampaikan kritik untuk memberikan solusi atas permasalahan sosial.

Tantangan yang dihadapi oleh teater juga sama dengan pertunjukan seni di era digital. Adanya platform digital seakan memberi pilihan untuk memanfaatkannya atau tidak. Namun jika memanfaatkan platform digital, konten asli yang akan dibawakan harus dipangkas agar tidak terlalu lama sehingga menyebabkan penonton bosan.

Namun, jika dipikir kembali pada era digital saat ini tidak selamanya membawa keburukan pada pertunjukan teater dan seni. Ada beberapa sisi yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan pertunjukan seni dan teater. Yang pertama dengan memanfaatkan sifat dari internet sendiri, yang salah satunya sifatnya adalah cepat dalam menyebarkan informasi.

Karena tidak ada dinding pemisah dalam penyebaran informasi, dapat menyebarkan informasi ke seluruh dunia tanpa ada jeda. Hal ini dapat digunakan sebagai sarana untuk mempromosikan pertunjukan seni dan teater yang akan digelar. Atau bisa juga untuk mempromosikan pertunjukan seni dan teater yang sudah diunggah di platform digital.

Kemudian, memanfaatkan platform digital seperti Youtube atau lainnya. Platform digital saat ini banyak peminatnya dan sudah mengubah budaya konsumen di Indonesia. Penyebab utamanya mungkin karena dapat dilihat secara fleksibel dan tanpa harus datang ke lokasi pertunjukan. Dan juga, Youtube saat ini merupakan salah satu platform digital dengan pengguna yang banyak. Hal tersebut bisa dimanfaatkan dengan cara membuat pertunjukan seni dan teater versi digital.

Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan mengunggah pertunjukan seni ke platform , mulai dari infrastruktur yang mendukung hingga pada promosi yang dilakukan.

Lebih jauh dapat dilihat dalam beberapa poin penting ini:

Pertama, harus memperhatikan konten yang akan dikemas untuk disajikan secara menarik untuk ditonton seperti permasalahan yang terjadi di masyarakat saat ini. Sehingga konten yang akan ditampilkan dapat menarik penonton karena ada rasa kedekatan.

Kedua, penyajian pertunjukan seni harus memperhatikan durasi penyajian dengan dipersingkat. Karena dapat mempengaruhi isi dari pertunjukan tersebut dan harus memiliki proporsi yang seimbang antara materi pertunjukan dengan hiburannya.

Ketiga yaitu kelengkapan dan peralatan dalam penampilan seni perlu diperhatikan kualitasnya. Terutama busana dan alat penunjang acara yang akan digunakan untuk penampilan tersebut.

Keempat, peralatan musik pun tidak kalah penting untuk diperhatikan. Karena pertunjukan seni yang berhubungan dengan musik sangat bergantung pada kesiapan alat musiknya.

Kelima, sumber daya manusia kebanyakan adalah para pelaku seni yang berasal dari generasi tua. Jadi diperlukan adanya regenerasi dari kalangan muda untuk menggaet penonton dari kalangan muda juga. Serta untuk melestarikan pertunjukan tersebut agar tidak ditinggalkan.

Penulis: W. Tri Aswindaru dan Hasrullah

AKSES CEPAT