n

51

51 Official Website

RICE for Ankle Sprain, Pengetahuan Atlet Beladiri dalam Penanganan Cedera

cedera
PENELITI dalam PKM-SH ini bersama beberapa atlet bela diri UNAIR. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Beladiri merupakan salah satu olahraga full body contact, dimana banyak gerakan yang ada pada seni beladiri itu sering menyebabkan cedera muskuloskeletal. Terjadinya cedera pada atlet beladiri saat menjalani program latihan tertentu, seperti latihan kelincahan, latihan beban untuk kekuatan kaki, dan latihan gerakan beladiri terutama di ekstremitas bawah, dapat menyebabkan cedera, salah satunya yaitu ankle sprain.

Ankle sprain dapat terjadi karena overstretch pada ligamen complex lateral ankle dengan posisi inversi dan plantar fleksi yang tiba-tiba terjadi saat kaki tidak menumpu sempurna pada lantai/ tanah. Hal ini umumnya terjadi pada permukaan lantai/tanah yang tidak rata.

Dalam istilah umum, ankle sprain disebut dengan terkilir atau keseleo. Cedera keseleo dapat dilakukan pertolongan pertama dengan manajemen RICE. Manajemen RICE ini terdapat empat tindakan, yaitu rest (mengistirahatkan area yang mengalami cedera), ice (mengompres menggunakan es), compression (menghentikan perdarahan), dan elevation (meninggikan area yang mengalami cedera).

Manajemen RICE perlu dilakukan tindakan yang adekuat untuk meminimalisir gejala yang terjadi pada atlet dengan ankle sprain dan mencegah terjadinya cedera berulang. Seperti diketahui, atlet di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa ) 51 yang terdiri dari Taekwondo, Ju-Jitsu, Kempo, PSHT, Tapak Suci, Perisai Diri, Merpati Putih, Karate.

Sebagian besar atlet yang cedera ankle sprain melakukan pijat langsung pada area yang mengalami cedera jaringan lunak. Dari wawancara yang dilakukan pada atlet UKM UNAIR, sebanyak 43% atlet mengetahui penanganan cedera ankle sprain, namun hanya 16% atlet yang mengatakan menggunakan metode RICE dalam penanganan ankle sprain dan 57% atlet tidak mengetahui teknik penanganan cedera ankle sprain yang benar, dan 13% atlet membiarkan cedera itu karena tidak mengetahui cara penanganan.

Itulah fenomena yang terjadi yang dikarenakan pengetahuan atlet dalam penanganan cedera ankle sprain masih kurang. Fenomena itu mendorong lima mahasiswa dari Fakultas Keperawatan 51 untuk melakukan penelitian dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Sosial Humaniora (PKM-SH).

Penerapan metode RICE untuk cedera ankle sprain pada atlet sampai saat ini hanya sampai di tahap tahu, padahal ada nilai-nilai yang harus dilakukan dan dihindari untuk mempercepat proses penyembuhan dan menekan kemungkinan cedera berulang. Kami berharap penelitian ini dapat merubah mindset dan tindakan yang selama ini dilakukan serta memberikan solusi yang tepat kepada pihak yang terkait seperti tenaga medis, sarana dan prasarana untuk meminimalisir cedera, kata Moh. Baharuddin Fatih, ketua PKM-SH ini.

Lima mahasiswa FKp UNAIR tersebut selain Moh. Baharuddin adalah Renny Mey Maghfiroh, Lisa Ardiavianti, Yenis Anggi Prastiwi, dan Zaenab. Mereka kemudian menuangkan ide itu dalam proposal PKM-PSH dengan judul Analisis Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Atlet Beladiri tentang Penanganan Cedera Ankle Sprain dengan Metode Rice pada Atlet Beladiri UKM 51. Proposal ini berhasil lolos penilaian Kemenristekdikti dalam program PKM 2016.

beladiri
GATHERING pada mahasiswa peserta UKM Beladiri 51 mengenai cedera. (Foto: Istimewa)

Dijelaskan Moh. Baharuddin, dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa faktor pengalaman, budaya, dan lingkungan dapat mempengaruhi pengetahuan atlet beladiri dalam penanganan cedera ankle sprain. Pengalaman yang dimaksud meliputi pengalaman atlet dalam cedera ankle sprain yang pernah dialami, cara penanganan dan cara pencegahannya. Faktor kedua yaitu budaya, yang meliputi kebiasaan menganut role model (pelatih dan senior) saat melakukan pencegahan dan penanganan cidera ankle sprain dan peraturan yang diterapkan pada setiap UKM Beladiri. Kemudian lingkungan yang diukur meliputi ketersediaan sarana prasarana dan keadaan arena latihan dan tanding.

Ternyata ketiga faktor tersebut terdapat hubungan terutama pada faktor pengalaman. Hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan atlet yang memiliki pengalaman tinggi, punya pengetahuan yang baik dalam penanganan cedera menggunakan metode RICE, kata Baharudin.

Begitu pula pada faktor budaya yang menjadi peran penting, setiap kebiasaan yang dilakukan atlet akan menjadi mindset dalam penanganan cedera seperti pijat hingga dibiarkan ketika mengalami ankle sprain. Faktor lingkungan sebagai penunjang dalam penanganan misalnya tersedianya sarana dan prasarana sebagai safety dalam latihan. (*)

Editor: Bambang Bes.

AKSES CEPAT