51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Risiko Adiksi Internet pada Anak-Anak dan Remaja dengan ADHD selama Pandemi Coronavirus

Foto oleh smartparenting.com.ph

Dalam masyarakat modern, peran internet dalam kehidupan adalah penting, terutama karena saat ini proses belajar mengajar dialihkan ke platform online. Lebih dari 130 negara menutup sekolah untuk mencegah penyebaran COVID-19. Larangan kegiatan di luar ruangan, isolasi sosial, dan lockdown dapat sangat menantang bagi remaja dengan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) karena mereka lebih senang mencari hal baru dan sensasi dibandingkan remaja lainnya. Di sisi lain, internet menawarkan umpan balik dan reward langsung yang membuat mereka dihargai, dengan pilihan aktivitas yang tak terhitung jumlahnya sehingga mencegah pengguna dari kebosanan. Apalagi internet menyediakan dunia maya di mana setiap orang dapat membangun fantasi.

Penggunaan internet menjadi bermasalah ketika pengguna gagal menahan dorongan untuk menggunakan internet yang mengakibatkan penurunan kemampuan psikologis, sosial, fisik, spiritual, dan kesejahteraan finansial. Prevalensi adiksi internet terbanyak adalah remaja. Polimorfisme reseptor dopamin D2 (DRD2) gen Taq1A1 didapatkan pada individu dengan adiksi internet, yang juga dikaitkan dengan patogenesis anak dengan ADHD. Individu dengan adiksi internet mengalami disfungsi dopaminergik dan disfungsi korteks prefrontal. ADHD dan adiksi internet memiliki hubungan dua arah. Pertama, gejala ADHD menempatkan remaja pada risiko yang lebih besar mengembangkan kecanduan internet. Kedua, penggunaan internet berkepanjangan akan memperburuk keparahan ADHD karena meningkatkan ambang stimulasi dan kesulitan dalam berkonsentrasi pada rutinitas yang kurang menarik. Hal tersebut berpotensi memperburuk fungsi sehari-hari dan hubungan interpersonal, meningkatkan kemungkinan menggunakan internet sebagai cara mengatasi stres, sehingga menghasilkan lingkaran setan antara gejala ADHD dan adiksi internet.

Impulsivitas dan kompulsivitas pada adiksi diperankan oleh amigdala, hipokampus, dan korteks prefrontal yang belum sepenuhnya matang pada masa remaja dan terlibat juga pada individu dengan ADHD. Dengan demikian, komorbiditas ADHD dan adiksi internet yang terjadi selama remaja memerlukan perhatian klinis. Tinjauan sistematis ini memberi gambaran umum tentang ADHD, adiksi internet, dan hubungan antara keduanya pada pandemi COVID 19 di antara anak-anak dan remaja dengan ADHD.

Empat penelitian yang diterbitkan antara 11 Maret 2020 dan 2021 terindeks Scopus dimasukkan dalam tinjauan ini. Semua penelitian menyimpulkan bahwa didapatkan korelasi antara ADHD dan adiksi internet, diantaranya penelitian dari Australia (Sciberras et al., 2021), Cina (Shuai et al., 2021), Italia (Bruni, Giallonardo, Sacco, Ferri, & Melegari, 2021), dan Swiss (Werling, Walitza, & Drechsler, 2021). Penegakan diagnosis ADHD menggunakan wawancara semi-terstruktur Clinical Diagnostic Interview Scale (CDIS). Alat pengukuran adiksi internet menggunakan Self  Rating Questionnaires for Problematic Mobile Phone Use (SQPMPU), Young˜s Internet Addiction Test (IAT), atau Problematic Use of the Internet Screening Questionnaire for Children and Adolescents. Penelitian Sciberras menggunakan The CoRonavIruS Health Impact Survey (CRISIS) untuk membedakan penggunaan internet sebelum dan selama COVID. Faktor risiko adiksi internet pada ADHD yaitu: 1). Pembatasan sosial karena COVID-19 yang dikaitkan dengan gangguan kesehatan mental; 2). Kohesi keluarga dan faktor psikososial yang buruk; 3). Aktivitas fisik yang rendah; 4). Disfungsi eksekutif dan motivasi.

Penulis: Dr. Yunias Setiawati, dr.,Sp.K.J(K)

Informasi detail dari tinjauan literatur ini dapat dilihat pada tulisan penulis di:

Erliana, F. R., Setiawati, Y., Aoyama, H., & Ardani, I. G. A. I. (2022). Risk of Internet Addiction among ADHD Children and Adolescents during The Coronavirus Pandemic. 10(2), 159“168.

AKSES CEPAT