51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pewarisan Cleft Lip & Palate Ditinjau dari Pola Sidik Bibir

Foto oleh enthealth.org

Identifikasi forensik merupakan salah satu langkah penting untuk mengungkap identitas seseorang. Identifikasi mutlak diperlukan karena merupakan bagian dari pemenuhan hak asasi manusia, berkaitan dengan faktor agama dan budaya, serta memiliki dampak pada aspek keuangan dan pernikahan. Menurut Interpol DVI guide, terdapat 2 kategori human identifier yang dapat digunakan sebagai sarana identifikasi individu, yaitu primary dan secondary identifiers. DNA, sidik jari, dan gigi termasuk dalam primary identifier karena memiliki karakteristik yang khas dalam identifikasi individu. Selain DNA, sidik jari, dan gigi juga terdapat berbagai macam secondary identifiers seperti rekam medis, kartu identitas, barang milik, dan sidik bibir.

Penggunaan sidik bibir dalam identifikasi individu memiliki dasar ilmiah bahwa setiap orang memiliki pola sidik bibir yang unik dan tidak mungkin ditemukan kesamaan pada dua orang yang berbeda. Metode identifikasi individu melalui analisis pola sidik bibir dikenal dengan istilah cheiloscopy. Suzuki dan Tsuchihashi telah memperkenalkan beberapa pola sidik bibir untuk memudahkan proses analisis dan identifikasinya. Terdapat 6 pola dasar sidik bibir yang diperkenalkan oleh Suzuki dan Tsuchihashi (Gambar 1), yaitu straight (tipe I), partial straight (tipe I™), branched (tipe II), intersected (tipe III), reticular (tipe IV),dan undifferentiated (tipe V).

Pada penelitian sebelumnya, Loganadan dkk. (2019) menjelaskan bahwa pola sidik bibir dapat diwariskan dari orang tua kepada anaknya. Pewarisan ini ditunjukkan dengan adanya kemiripan beberapa tipe sidik bibir pada orang tua dan anaknya. Dengan demikian, pola sidik bibir dapat juga digunakan untuk mencari hubungan kekerabatan seseorang. Dari penelitian yang dilakukan oleh George dkk., (2016) melibatkan 93 individu dari 31 keluarga Malaysia, dapat diketahui bahwa pewarisan pola sidik bibir dari ayah lebih dominan dibandingkan dengan pewarisan pola sidik bibir dari ibu kepada keturunan mereka.

Penelitian tentang pewarisan pola sidik bibir pada kasus celah bibir/lelangit (CL/CP) telah dilakukan sebelumnya oleh Yadav dkk. (2017). Penelitian tersebut melibatkan 150 orang responden dengan rincian sebagai berikut: 100 responden merupakan orang tua dan anak penderita CL/CP, 50 responden merupakan orang tua dan anak tanpa CL/CP. Berdasarkan regresi logistik, dapat diprediksi bahwa +27% pola sidik bibir tipe V dari klasifikasi Suzuki-Tsuchihashi pada lebih dari satu kuadran bibir, dapat dianggap sebagai penanda genetik kelainan CL/CP. Kelainan CL/CP salah satunya dipengaruhi oleh faktor genetik, dimana pada penderita CL/CP sering kali ditemukan riwayat keluarga dengan CL/CP. Review ini bertujuan untuk menggali informasi secara mendalam mengenai pola sidik bibir sebagai sarana identifikasi dalam pewarisan celah bibir/lelangit.

Terdapat beberapa teknik pengambilan sidik bibir yang dapat digunakan untuk melakukan identifikasi sidik bibir. Berdasarkan hasil telaah artikel yang telah dilakukan diketahui bahwa metode pengambilan sidik bibir yang umum digunakan adalah metode lipstick dan metode fotografi. Metode lipstick memiliki kelebihan dalam hal ketersediaan alat dan bahan yang efisien dan praktis. Sedangkan metode fotografi memiliki keunggulan dalam hal detail dan kontak subyek yang minimal. Analisis sidik bibir menggunakan metode lipstick didapatkan pada penelitian Manasa dkk. (2014), Yadav dkk. (2017), Dalvi dkk. (2018), Pooja dkk. (2020), dan Sivand dkk. (2021). Analisis sidik bibir menggunakan metode fotografi didapatkan pada penelitian Saunjaya dkk. (2016) dan Singh dkk. (2017).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Manasa dkk.(2014) ditemukan sebuah pola baru sidik bibir yang dikaitkan dengan kejadian CL/CP, yaitu pola whorl. Jumlah groove pada pola whorl ini ditemukan lebih banyak pada ayah, dibandingkan ibu penderita CL/CP. Frekuensi pola whorl ditemukan secara signifikan pada sample penelitian ini.

Penelitian yang dilakukan Durbakula  dkk. (2015) pada populasi India menunjukan bahwa Sebagian besar penderita CL/CP mempunyai pola sidik bibir tipe II. Pola sidik bibir tipe II yang dominan pada penderita CL/CP dikaitkan dengan beberapa factor resiko, seperti perkawinan sedarah, ibu perokok, ibu penderita diabetes, serta ibu yang mempunyai penyakit rubella.

Penelitian dari Saujanya dkk. (2016) pada populasi India Selatan memberikan gambaran bahwa pola sidik bibir tipe IIa diikuti oleh tipe O tampak secara signifikan lebih tinggi pada ibu dan ayah pada anak-anak dengan CL/CP. Sedangkan pola sidik bibir tipe III lebih sedikit ditemukan pada orang tua pasien dengan CL/CP. Persentase yang tinggi secara signifikan dari tipe IIa dan O menunjukkan bahwa tipe ini dapat ditransmisikan sebagai gen-fenotipe resesif yang berkaitan dengan predisposisi genetik terhadap CL/CP.Hasil penelitian Saujanya dkk. sedikit berbeda dengan hasil yang didapatkan oleh Singh dkk. (2017) pada populasi India. Singh dkk. menemukan bahwa terdapat peningkatan pola sidik bibir tipe II dan tipe III pada penderita CL/CP.

Yadav dkk. (2018) telah melakukan penelitian tentang sidik bibir sebagai genetic marker dalam pewarisan CL/CP di populasi India. Pada penelitian tersebut ditemukan pola baru sidik bibir yang disebut pola “whorl” atau “O” tercatat dalam kelompok studi dengan CL/CP. Namun, pola whorl ini tidak tampak pada kelompok kontrol sehingga dapat dipergunakan sebagai penanda pewarisan genetik CL/CP. Frekuensi pola whorl pada ayah dan ibu penderita CL/CP diketahui hampir sama.

Penelitian Dalvi et al (2018) mengenai cheiloscopy dan dermatoglyphics sebagai penanda genetik untuk transmisi CL/CP yang dilakukan pada populasi India, menunjukkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam pola sidik bibir di kuadran kanan atas dan kuadran tengah atas antara pasien dengan CL/CP dan kelompok kontrol. Pola sidik bibir tipe IIa adalah pola yang dominan ditemukan di kuadran kanan atas pada penderita CL/CP, sedangkan tipe I merupakan pola yang dominan pada kelompok kontrol. Pada kuadran tengah atas, tipe IIa menjadi pola yang dominan terdapat pada penderita CL/CP, dan tipe I’ lebih banyak ditemukan pada kelompok kontrol. Pola sidik bibir tipe IIb ditemukan secara umum pada penderita CL/CP dan kelompok kontrol di kuadran kanan bawah. Selain itu, ditemukan pola whorl atau O di kuadran tengah bawah pada penderita CL/CP, dan pola ini tidak terdapat pada kelompok kontrol.

Penelitian Pooja dkk. (2020) mengenai cheiloscopy dan dermatoglyphics sebagai penanda genetik dan peran keluarga dalam pewarisan non syndromic cleft lip and palate, yang dilakukan pada populasi India menunjukkan bahwa 8% anak hanya memiliki Cleft Lip, 26% anak hanya memiliki Cleft Palate, dan 66% anak memiliki CL/CP baik unilateral maupun bilateral. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pola sidik bibir atas ayah memiliki prevalensi tipe II (alur bercabang) yang tinggi sebesar 46% pada kelompok studi dan prevalensi Tipe III (alur berpotongan) sebesar 36% pada kelompok kontrol.

Penelitian Sivanand dkk. (2021) yang dilakukan pada populasi India Selatan, diketahui bahwa 39% penderita CL/CP memiliki pola sidik bibir tipe whorl atau O. Frekuensi pola ini tampak lebih tinggi pada ibu dan ayah pada kelompok studi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Temuan ini hamper sama dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Manasa dkk (2014) dan Yadav dkk. (2018). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pola sidik bibir tipe whorl atau O lebih banyak ditemukan pada bibir bawah pasien CL/CP dan orang tuanya.

Penulis: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D.

Link:

AKSES CEPAT