51动漫

51动漫 Official Website

Risiko Gangguan Perilaku pada Anak dengan HIV

Ilustrasi oleh kohoe.com

Pada umumnya studi tentang sistem imun dan perkembangan otak dilakukan secara terpisah. Namun, saat ini telah berkembang dengan pesat  pengetahuan tentang adanya keterkaitan antara sistem imun dengan perkembangan otak, perilaku dan kecerdasan anak. Pembentukan sistem imun yang dimulai sejak dalam kandungan, ternyata mempunyai implikasi jangka panjang terhadap perkembangan dan fungsi otak, yang bermanifestasi dalam bentuk gangguan perilaku atau kecerdasan anak. Bila terjadi gangguan imun pada usia awal, maka anak berisiko tinggi mengalami gangguan perilaku di masa depan.

Infeksi HIV (Human immuno-deficiency virus)  merupakan salah satu bentuk defisiensi imun yang disebabkan virus patogen, dengan rentang gejala klinis yang sangat lebar dan bervariasi mulai dari tanpa gejala atau dejala ringan, hingga menampakkan gejala yang sangat berat dan prgresif yang sering mengakibatkan kematian.

Gangguan perkembangan perilaku pada anak dengan infeksi HIV masih belum diteliti secara luas. Akan tetapi, dari berbagai studi yang pernah dilakukan, manifestasi gangguan perilaku menunjukkan prevalensi dan insidensi yang bervariasi, dan tidak selalu terjadi pada setiap anak dengan HIV. Sehingga masih diperlukan pengetahuan tentang faktor risiko apa saja yang dapat digunakan sebagai parameter untuk memprediksi atau mewaspadai adanya gangguan perilaku pada anak dengan HIV

Sebuah studi dilakukan pada periode bulan Mei-Juni 2018 pada anak dengan HIV yang berusia 6-17 tahun yang berkunjung di unit rawat jalan Poli UPIPI RSUD Dr. Soetomo/FK Unair Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang anak dengan HIV untuk mengalami gangguan perilaku, yang dinilia dengan menggunakan instrumen skor GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas).

Pada studi ini terbukti bahwa bahwa risiko gangguan perilaku tidak terkait dengan beberapa faktor, yakni: jenis kelamin, usia, status gizi, kepatuhan minum obat, status HIV orangtua, kematian orangtua, dan pendapatan keluarga. Namun, pada studi ini terungkap adanya dua faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan perilaku pada anak dengan infeksi HIV, yaitu: pernah/tidaknya dirawat di rumah sakit dan kelengkapan orangtua.

Pada anak dengan infeksi HIV yang pernah dirawat di rumah sakit, akan meningkatkan risiko sebesar 20 kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan perilaku dibandingkan dengan anak yang tidak pernah dirawat di rumah sakit. Sedangkan pada anak yang tinggal bersama orangtua yang tidak lengkap, yaitu dengan Bapak/Ibu saja, atau Bapak dan Ibunya sudah meninggal, ternyata akan meningkatkan risiko sebesar 40 kali lipat lebih tinggi untuk mengalami gangguan perilaku dibandingkan anak yang tinggal bersama orangtua yang masih lengkap.

Hasil studi ini menggambarkan bahwa proses perawatan anak dengan infeksi HIV di rumah sakit dengan masa tinggal yang tidak menentu dapat menyebabkan kecemasan dan perubahan perilaku pada anak. Demikian pula, adanya ketidakstabilan pada keluarga yang menjadi pemicu kelengkapan orangtua, juga akan menimbulkan kecemasan dan perubahan perilaku pada anak. Dengan demikian, studi ini mempunyai implikasi bahwa perawatan anak dengan infeksi HIV membutuhkan suasana yang memfasilitasi anak untuk dapat beraktifitas dengan senang dan nyaman. Dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan hal tersebut. Mungkin saja aktivitas anak ketika masih dalam masa perawatan tidak harus dalam bentuk penyediaan alat permainan, tetapi juga memberi kesempatan pada anak untuk tetap mendapatkan pendidikan  atau sekolah semasa masih dirawat di rumah sakit (hospital schooling).

Kesimpulan dari studi ini adalah anak dengan infeksi HIV menghadapi berbagai situasi medis dan non medis yang dapat meningkatkan risiko akan mengalami gangguan perilaku. Dua faktor utama yang dapat meningkatkan risiko gangguan perilaku tersebut adalah pernah dirawat di rumah sakit dan tinggal di sebiah keluarga dengan orangtua yang tidak lengkap. Mengantisipasi kedua faktor tersebut melalui berbagai langkah kreatif dan inovatif diharapkan dapat mencegah gangguan perilaku yang mungkin terjadi dimasa depan.

Penulis: Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA(K)

Informasi detail dari studi ini dapat diakses pada: Primasari L, Suryawan A, Husada D. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Edisis Khusus 2019

AKSES CEPAT