51动漫

51动漫 Official Website

Risiko Penggunaan Obat Kombinasi antara Obat Herbal dan Antidiabetik Oral

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis tidak menular yang telah menjadi salah satu masalah kesehatan utama secara global. Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat, adanya perubahan pola hidup masyarakat, dan perubahan lingkungan, prevalensi DM terus meningkat, sedangkan pengobatan klinis terutama hanya ditujukan untuk menurunkan kadar glukosa darah, bukan pencegahan dan juga bukan pada pengobatan yang sangat mendasar.

Diperkirakan 463 juta orang menderita diabetes pada tahun 2019. Untuk itu sangat dibutuhkan pengembangan dan penerapan strategi multi-sektoral untuk mengatasi DM secara global. Tanpa tindakan strategis dan langkah-langkah yang memadai, diperkirakan akan terjadi kenaikan prevalensi DM menjadi 578 juta orang pada tahun 2030 dan akan mengalami peningkatan yang sangat besar yaitu sebesar 51% atau sekitar 700 juta orang pada tahun 2045.

Strategi pengobatan yang dilakukan bagi penderita DM saat ini, lebih fokus pada pengendalian kadar gula dalam darah, sehingga membutuhkan pengobatkan seumur hidup supaya tidak terjadi komplikasi yang berakibat lebih buruk bagi kesehatan penderita DM. Kepatuhan minum obat sebagai salah satu kunci sukses untuk pengendalian gula darah bagi penderita DM. Sayangnya tidak semua penderita patuh mengkonsumsi obat dalam jangka panjang, dengan berbagai alasan antara lain: takut pada efek sampingnya, merasa tidak banyak manfaatnya karena tidak tampak kesembuhan bagi mereka, sering lupa minum obat, dan yang terpenting adalah mereka merasa lelah dan bosan minum obat sepanjang hidup. Tentu kondisi ini butuh edukasi dari tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan kewenangan yaitu Apoteker, terkait penyakit yang diderita dan perlunya pengobatan seumur hidup serta pentingnya kepatuhan minum obat. Selanjutnya akan berdampak pada kepatuhan penderita dalam menggunakan obat dan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita.

Ketakutan akan reaksi buruk dari obat-obatan konvensional, dan kebosanan penderita DM dalam mengkonsumsi obat anti-diabetes seumur hidup, mendorong mereka untuk menambah atau beralih pada obat herbal. Menambah artinya, selain mengkonsumsi obat anti-diabetes juga mengkonsumsi obat herbal secara bersama-sama. Beralih berarti meninggalkan obat konvensional dan hanya menggunakan obat herbal saja.

Tren kembali ke alam dengan konsumsi obat herbal untuk penderita DM banyak dijumpai di seluruh dunia dan biasanya mereka dapatkan obat herbal tersebut dengan mudah tanpa harus dengan resep dokter. Bahkan kadangkala, tidak mempertimbangkan keamanan, dan kemanjurannya, karena mereka berasumsi kalau obat herbal atau obat yang berasal dari alam aman dikonsumsi dalam jangka panjang, keyakinan akan kemanjurannya, akses mudah ke tanaman obat, biaya lebih rendah.

Obat konvensional dan obat herbal sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan dalam mengobati DM. Oleh karena itu merupakan innovasi yang strategis jika digabungkan antara keduanya dalam pengobatan pada DM. Jenis pengobatan semacam ini harus didasarkan pada bukti ilmiah yang benar. Kondisi penggunaan harus didefinisikan dengan lebih baik dan pasien harus diberitahu tentang potensi efek samping yang mungkin terjadi.

Sinergi atau antagonisme efek yang dihasilkan oleh kombinasi obat konvensional dan obat herbal dalam memperbaiki hiperglikemia tergantung pada jenis dan jumlah herbal yang digunakan dalam menyusun formulasi tersebut. Herbal memang telah digunakan selama berabad-abad untuk penatalaksanaan profilaksis dan terapeutik beberapa penyakit, akan tetapi, untuk digunakan sebagai obat khusus DM atau komplikasinya, ramuan herbal ini memerlukan eksplorasi yang rumit dan evaluasi farmakologis yang baik untuk membentuk protokol terapi yang sesuai.

Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan tropis sangat luas, memiliki berbagai macam spesies tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan baku obat tradisional atau obat herbal yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Indonesia memiliki keunggulan dalam hal pengembangan jamu dengan 9.600 tanaman obat yang dapat digunakan sebagai bahan baku jamu. Selain itu, pemerintah juga sudah menggolongkan tanaman obat yang merupakan bahan baku pembuatan jamu ke dalam sepuluh komoditas untuk dikembangkan. Sehingga masyarakat semakin terdorong untuk memanfaatkan. Oleh karena itu merupakan sesuatu yang wajar jika masyarakat Indonesia termasuk di pulau Madura selalu mengkonsumsi jamu atau obat herbal dalam rangka pemeliharaan kesehatan dan pencegahan terhadap suatu pengakit.

Penelitian dilakukan 350 responden di 33 Puskesmas pada 4 Kabupaten di Pulau Madura Jawa Timur, yaitu: Kabupaten Sumenep, Pamekasan, Sampang dan bangkalan. Pengambilan data dilakukan pada bulan November 2019 sampai dengan Januari 2020 secara ofline untuk mengetahui resiku penggunaan obat konvensional jika dikombinasi dengan obat herbal. Sebagai responden adalah penderita diabetes mellitus tipe 2 di pulau Madura dengan kriteria inklusi sebagai berikut: Rutin berobat di Puskesmas berturut-turut selama 3 bulan terkhir yaitu bulan september, Oktober dan November 2019; bersedia menjadi responden dengan mengisi Informed consent; mendapatkan obat antidiabetes oral dari Puskesmas; bisa membaca dan menulis; bisa berbahasa Indonesia; bagi penderita perempuan tidak sedang hamil, tidak sedang menyusui; penduduk asli Madura dengan tempat tinggal di wilayah kerja puskesmas tersebut, dan bersedia menjadi responden.

Ada fenomena yang menarik untuk penderita DM di pulau Madura, sebagian dari mereka selain mengkonsumsi obat antidiabetes oral juga masih mengkonsumsi obat herbal. Pada penelitian ini sebagaimana didapatkan 41,4% responden. Kondisi ini tidak lepas dengan kultur masyarakat madura yang biasa menggunakan jamu untuk pemeliharaan kesehatan mereka sehari hari sebagaimana penelitian Utami et al. Selain itu penderita DM yang mengkonsumsi obat herbal tersebut merasa bosan menggunakan obat konvensional serta opsesi mereka yang ingin segera sembuh sehingga harus menggunakan kedua obat tersebut.

Sebanyak 103 (71%) dari 145 responden yang menggunakan herbal didapatkan dengan cara membeli pada pedagang jamu. Mereka bukan termasuk warga Madura penggiat jamu. Oleh karena itu ketika ditanya apa komposisi dari obat herbal yang digunakan tdak ada yang bisa menjelaskan, kecuali yang 29 % dari 145 responden bisa menjelaskan karena membuat ramuan sendiri.

Pada penelitian ini, kejadian hipoglikemi pada penderita DM yang menjadi responden sebanyak 136 (38,9%), yaitu 59,3% dari 136 adalah pengguna obat herbal yang mengalami hipoglikemi, sementara untuk responden yang tidak mengkonsumsi obat herbal ada 24,4% yang mengalami glikemi. Penggunaan obat herbal tersebut tidak sesuai dengan pengobatan integratif yang memang menjadi program holistik dari tenaga medis untuk mengobati pasiennya.

Sebenarnya kalau obat herbal digunakan secara benar, sebagai terapi ajuvan/pendamping dari obat konvensional sangat bermanfaat untuk mengontrol gula darah bagi penderita diabet, karena terbukti dapat menurunkan kadar gula dalam darah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan herbal sebagai tambahan obat antidiabet konvensional dapat menurunkan kadar gula darah, dan berpengaruh terhadap kejadian hipoglikemi pada penderita DM. Disarankan agar dilakukan edukasi kepada masyarakat untuk tidak menggunakan obat herbal tanpa pengawasan yang memadahi dari enaga kesehatan.

Penulis: Abdul Rahem, Umi Athiyah, Catur Dian Setiawan

Sumber: Rahem, A., Athiyah, U., Setiawan, C. D., & Hermansyah, A. (2023). The risk of combined use of herbal and conventional medicines in diabetic patients. Pharmacy Education, 23(4), 185-188.

AKSES CEPAT