UNAIR NEWS – Rumah Sakit 51动漫 (RSUA) adakan webinar awam dalam rangka memperingati hari ibu. Hadirkan pemateri Pungky Mulawardhana dr Sp,OG(K)onk merupakan dokter spesialis di RSUA dengan materi 淧encegahan Kanker Serviks pada Rabu (28/12/2022) secara virtual melalui platform zoom meeting
Pada awal paparan, dr Pungky menjelaskan bahwa kanker serviks atau kanker mulut rahim merupakan kanker yang disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV). HPV dapat masuk ke mulut rahim karena terjadinya luka kecil akibat hubungan seksual dan Kanker serviks dapat mengintai wanita yang sudah menikah dan aktif dalam hubungan seksual.
“Virus HPV itu masuk karena ada lesi atau luka kecil pada vagina yang tak kasat mata, dan luka kecil ini terjadi saat seorang wanita melakukan aktivitas seksual,” ungkap dr Pungky.
dr Pungky menambahkan semua wanita yang sudah menikah dan sudah berhubungan seks 80 persen pasti terinfeksi HPV. Akan tetapi 80 persen tidak semua akan menjadi kanker.
“Ada proses panjang HPV untuk menjadi kanker yaitu sekitar lima sampai sepuluh tahun, Virus HPV sendiri ada yang low risk dan high risk. Low risk ini tidak beresiko menjadi kanker,” ujar dr Pungky.
Lebih lanjut, ada beberapa faktor resiko HPV menjadi kanker serviks, antara lain menurutnya, daya tahan tubuh yang lemah, kemudian virus HPV tidak bisa terkalahkan oleh sistem kekebalan tubuh. Kemudian seks berganti-ganti pasangan akan menyebabkan daya tahan tubuh melemah sehingga virus HPV yang masuk tubuh.
Di samping itu, dr Pungky membeberkan, wanita yang beresiko tinggi terkena HPV adalah wanita yang menikah di bawah umur. Menurutnya, wanita yang menikah di bawah usia 20 organ tubuhnya belum siap untuk berhubungan seksual, sehingga lebih beresiko terkena kanker serviks. Namun, meskipun berbahaya kanker serviks ini dapat dicegah dengan cara deteksi dini dan pencegahan.
“Kanker serviks bisa dicegah dengan cara pemberian vaksin HPV yang idealnya dilakukan sebelum menikah. Kemudian melakukan pemeriksaan dini dengan pap smear setelah menikah, 3 tahun pertama setelah berhubungan seksual. Selanjutnya bisa satu atau dua tahun sekali,” ungkap dr Pungky.
Pada akhir, ia menjelaskan bahwa saat ini biaya untuk cek dini kanker serviks sebenarnya tidak terlalu mahal. Tapi apabila masih belum mampu dengan alasan faktor keuangan, kata dr Pungky, sekarang ada pemeriksaan yang bernama Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) yang bisa dilakukan pada puskesmas dengan biaya yang lebih terjangkau.
淢encegah kanker serviks harus dilakukan dan disadari oleh semua perempuan, mengingat angka kanker serviks masih tinggi di Indonesia, pungkasnya.
Penulis: Langgeng Widodo
Editor: Nuri Hermawan





