51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Rumput Kebar Dapat Meningkatkan Jumlah Folikel Induk yang Terpapar Insektisida

Foto by Orami

Insektisida memiliki peranan penting dalam kegiatan pertanian untuk melindungi tanaman dari bahaya hama penyakit. Dalam penggunaan insektisida harus dilakukan sesuai aturan agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan dan keracunan serta residu pada produk pangan. Menurut World Health Organization (WHO) setiap tahun terjadi kasus keracunan insektisida pada pekerja pertanian yang menyebabkan kematian, sekitar 80% keracunan dilaporkan terjadi di negara-negara berkembang. Insektisida golongan karbamat banyak digunakan di Indonesia untuk membasmi hama tanaman pangan dan buah“buahan. Diantara jenis golongan karbamat yang sering digunakan yaitu karbofuran, karbaril dan aldikarb. Resiko karbofuran dapat menimbulkan residu pada beras, air sawah dan tanah pada sawah irigasi. Residu yang dihasilkan pada beras yaitu 0,5-1,3 ppb dengan batas maksimum residu (BMR) menurut Codex Alimentarius Commission yaitu 0,1 ppm.  Bahaya dari residu karbofuran dapat menimbulkan pengaruh cacat lahir (teratogenik), keracunan saraf (neurotoksisitas) dan gangguan reproduksi jika terpapar secara berulang.

Kerusakan akibat paparan karbofuran mempengaruhi meningkatkan aktivitas radikal bebas (Reactive Oxygen Species/ROS) yang menyebabkan kematian sel otak pada induk mencit masa laktasi. ROS atau radikal bebas merupakan molekul yang tidak berpasangan dan tidak stabil sehingga molekul tersebut akan mengambil elektron dari molekul sel lain serta sangat reaktif. Radikal bebas menginduksi toksisitas reproduksi dan infertilitas karena paparan insektisida menyebabkan stres oksidatif yang menginduksi peroksidasi lipid dan kerusakan genetic (DNA). Paparan karbofuran menunjukkan peningkatan jumlah folikel yang rusak (atretik) dan penurunan jumlah folikel yang sehat. Penurunan jumlah folikel yang sehat diakibatkan oleh sel granulosa ovarium mengalami apoptosis dan nekrosis sehingga menyebabkan folikel menjadi atretik. Insektisida juga mengakibatkan degenerasi vakuoler pada sel-sel folikel, sehingga tampak peningkatan folikel “ folikel yang kosong pada ovarium.

Masa menyusui (laktasi) merupakan periode induk mengeluarkan air susu dari kelenjar mamae untuk diberikan kepada anak dan terjadi pada saat setelah kelahiran. Saat periode ini induk memerlukan nutrisi yang lebih banyak dibanding saat kebuntingan. Polusi lingkungan seperti insektisida dan logam berat menyebabkan perubahan fungsi sistem kekebalan tubuh. Zat toksik tersebut menyebabkan penekanan komponen imunomodulator sehingga mempengaruhi secara tidak langsung organ tubuh seperti saraf, reproduksi, pernapasan dan endokrin. Zat toksik seperti insektisida dapat menyebabkan gangguan pada ibu dan anak saat masa sebelum, selama dan setelah kelahiran. Pengukuran folikel saat masa laktasi diduga memiliki fungsi untuk mengidentifikasi induk yang secara potensial relatif kurang subur setelah masa penyapihan.

Secara alamiah tubuh memiliki pertahanan alami untuk menetralisir radikal bebas dengan cara meningkatkan produksi antioksidan yang berasal dari dalam tubuh, namun bila konsentrasi radikal bebas dalam tubuh lebih banyak, untuk menyeimbangkannya diperlukan antioksidan yang berasal dari luar tubuh. Flavonoid merupakan antioksidan turunan senyawa fenolik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Senyawa ini efektif dalam menangkal radikal bebas dan juga terbukti dalam melawan penyakit akibat radikal bebas. Rumput Kebar (Biophytum petersianum Klotzch) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung flavonoid. Selain itu, antioksidan lain yang terdapat dalam rumput Kebar adalah vitamin E dan A.Vitamin E merupakan pertahanan utama dalam melawan radikal bebas juga dapat menyerang lipid peroksida yang diduga sebagai penyebab degeneratif, sedangkan vitamin A berperan penting dalam menstabilkan radikal bebas.

Penelitian mengenai ekstrak rumput Kebar terhadap reproduksi induk mencit masa laktasi belum banyak diteliti khususnya pengaruh terhadap jumlah folikel pada ovarium yang terpapar karbofuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak rumput Kebar terhadap jumlah folikel ovarium mencit (Mus musculus) yang terpapar karbofuran. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap. Empat puluh dua ekor mencit masa laktasi yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi tujuh kelompok, yaitu: K kontrol (Aquadest), P1 pemberian karbofuran 1/4 LD50 (0,0125 mg/hari), P2 pemberian karbofuran 1/8 LD50 (0,00625 mg/hari), P3 pemberian karbofuran 1/4 LD50 (0,0125 mg/hari) dan ekstrak rumput Kebar (0,135 mg/hari), P4 pemberian karbofuran 1/8 LD50 (0,00625 mg/hari) dan ekstrak rumput Kebar (0,135 mg/hari), P5 pemberian karbofuran 1/4 LD50 (0,0125 mg/hari) dan vitamin C (0,2 ml/hari) dan P6 pemberian karbofuran 1/8 LD50 (0,00625 mg/hari) dan vitamin C (0,2 ml/hari) selama 14 hari. Hari ke 15 mencit dikorbankan dan diambil organ ovariumnya. Kemudian dibuat preparat histologi dengan pewarnaan Hematoxylin eosin (HE) dan dihitung jumlah folikel ovarium. Data dianalisis dengan One Way ANOVA dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak rumput Kebar terbukti dapat meningkatkan jumlah folikel primer dan sekunder. Pemberian ekstrak rumput Kebar memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian vitamin C. Ekstrak rumput Kebar dengan dosis 3.375 mg memberikan pengaruh yang lebih efektif terhadap paparan karbofuran dengan dosis 0,00625 mg dibandingkan dengan dosis 0,0125 mg.

Penulis: Epy Muhammad Luqman

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di

Nama jurnal: Research Journal of Pharmacy and Technology

Link jurnal: 

AKSES CEPAT