51动漫

51动漫 Official Website

Saliva Sebagai Penanda Mukositis Akibat Terapi Radiasi Pada Pasien Kanker Kepala-Leher

Ilustrasi Kanker Kepala (sumber; KlikDokter)
Ilustrasi Kanker Kepala (sumber; KlikDokter)

Kanker kepala dan leher (Head and Neck Cancer/HNC) merupakan salah satu jenis kanker yang cukup banyak terjadi di dunia. Radioterapi (RT) merupakan salah satu pengobatan kanker kepala-leher (head and neck cancer/HNC). Namun, lebih dari 90% pasien mengalami efek samping berupa mukositis di rongga mulut, yang dikenal sebagai Radiation-Induced Oral Mucositis (RIOM). Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa perawatan radioterapi daerah kepala dan leher dapat menyebabkan terjadinya mukositis pada minggu pertama. Pasien yang diterapi dengan standar 200 centigray (cGy) harian. Puncak mukositis terjadi selama 5 minggu terapi radiasi dengan dosis yang sama. Perawatan radioterapi kurang 200 cGy setiap hari diharapkan tingkat keparahan mukositis menjadi lebih rendah. Namun, pada program radioterapi dipercepat, mukositis derajat IV dapat terjadi dalam waktu 3 minggu terapi radiasi.

Prinsip dasar yang digunakan dalam radioterapi pada kasus keganasan adalah kemampuannya menimbulkan kerusakan pada setiap molekul yang dilewati. Terapi radiasi memberikan hasil yang efektif pada pengobatan kasus keganasan pada area kepala dan leher, tetapi juga dapat menimbulkan perubahan jaringan normal dalam rongga mulut. Efek samping terapi kanker paling sering dijumpai adalah mukositis yang secara klinis ditandai dengan ulserasi. Peradangan ini menyebabkan gangguan fungsi dan integritas rongga mulut sehingga berdampak pada aspek fisik dan psikologis pasien sehingga mempengaruhi kualitas hidup pasien, meningkatkan risiko infeksi, menyebabkan penundaan bahkan kegagalan perawatan kanker itu sendiri, dan berakibat perlunya perawatan di rumah sakit sehingga meningkatnya biaya perawatan. Peradangan pada mulut ditandai dengan gejala ringan berupa rasa tidak nyaman hingga gangguan signifikan yang mengganggu kesehatan dan asupan makanan pada pasien. Yang mengejutkan, air liur (saliva) ternyata bisa menjadi kunci dalam memantau seberapa parah mukositis tersebut terjadi.

Pada studi tinjauan literatur sistematis yang dilakukan oleh Departemen Ilmu Penyakit Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, 51动漫 pada Tahun 2024 Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan antara kadar biomarker stres oksidatif dalam saliva dan tingkat keparahan RIOM pada pasien HNC yang menjalani radioterapi.

Para peneliti mengambil sampel air liur dari 25 pasien kanker kepala-leher yang sedang menjalani RT di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Pengukuran empat biomarker utama dalam saliva yang mewakili stres oksidatif:

  • Glutathione (GSH) dan Superoxide Dismutase (SOD) 鈫 Antioksidan alami tubuh.
  • Malondialdehyde (MDA) dan Lactate Dehydrogenase (LDH) 鈫 Penanda stres oksidatif dan kerusakan sel.
  • Semakin rendah kadar GSH dan SOD, semakin parah mukositis yang dialami.
  • Sebaliknya, kadar MDA dan LDH meningkat seiring keparahan RIOM.

Ini artinya, stres oksidatif yang terjadi akibat terapi radiasi memicu peradangan dan kerusakan jaringan mulut.

淪aliva bisa menjadi indikator Non-invasif yang praktis dan cepat untuk mendeteksi tingkat keparahan mukositis akibat radiasi. Non-invasif: Tidak perlu tindakan menyakitkan seperti biopsi. Cepat & nyaman: Pengambilan air liur mudah dilakukan bahkan di fasilitas dengan alat terbatas. Mudah dan murah : Dapat dilakukan dengan prosedur sederhana tanpa alat mahal.

Dengan memahami perubahan biomarker stress oksidatif dalam saliva, dokter gigi dan dokter spesialis lainnya bisa :

  • Mendeteksi dan memantau risiko mukositis akibat radioterapi
  • Menyesuaikan strategi perawatan secara personal
  • Meningkatkan kualitas hidup pasien kanker

Hasil dari studi ini diharapkan dapat membuka peluang agar kedepannya klinisi dapat memprediksi perkembangan mukositis pada pasien kanker kepala leher yang mendapatkan perawatan radioterapi, sehingga penelitian ini dapat memprediksi keparahan mukositis oral dan tidak menutup kemungkinan sebagai preventif novel targeted therapy berupa inhibitor dari target protein tertentu.

Penulis: Nurina Febriyanti Ayuningtyas, Fatimah Fauzi Basalamah, Gisela Lalita Brahmanikanya, Fatma Yasmin Mahdani, Adiastuti Endah Parmadiati, Desiana Radithia Diah Savitri Ernawati, Madhu Shrestha, Ulinta Purwati Pasaribu, Satutya Wicaksono

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami dengan judul Correlation between Salivary Oxidative Stress Biomarkers and Clinical Severity of Radiation-Induced Oral Mucositis in Head and Neck Cancer Patients pada European Journal of Dentistry, 2025 melalui link berikut:

AKSES CEPAT