51动漫

51动漫 Official Website

Tantangan Klinis dan Perkembangan Model BRONJ pada Tikus dan Mencit

sumber: kompas health
sumber: kompas health

Bisphosphonate-Related Osteonecrosis of the Jaw (BRONJ) merupakan kondisi serius yang ditandai dengan nekrosis tulang rahang akibat penggunaan jangka panjang obat bifosfonat, yaitu agen antiresorptif yang umum digunakan dalam pengobatan metastasis tulang pada pasien kanker maupun osteoporosis. Kondisi ini lebih sering dijumpai pada perempuan usia lanjut yang menerima injeksi intravena (IV) zoledronat, terutama untuk pengobatan kanker payudara.

Faktor risiko BRONJ pada manusia antara lain merokok, penggunaan steroid, dan tindakan pencabutan gigi. Namun demikian, dalam beberapa kasus, BRONJ dapat terjadi tanpa adanya riwayat penggunaan obat antiresorptif. Manifestasi klinis BRONJ meliputi ekspose tulang rahang yang menetap selama lebih dari delapan minggu, rasa nyeri, adanya tanda infeksi seperti fistula, dan nekrosis tulang, dengan tidak adanya riwayat terapi radiasi pada daerah rahang. Untuk menilai luasnya kerusakan tulang dan mendukung diagnosis, pemeriksaan radiologis seperti radiografi panoramik, computed tomography (CT), atau cone-beam computed tomography (CBCT) diperlukan.

Hingga saat ini, patogenesis BRONJ belum sepenuhnya diketahui, dan terapi yang tersedia masih terbatas pada tindakan pembedahan. Oleh karena itu, pengembangan model hewan coba sangat penting untuk mendalami patogenesis serta menemukan strategi terapi yang tepat, dalam hal ini adalah terapi lokal. Mamalia kecil seperti tikus dan mencit sering digunakan sebagia model hewan coba dalam penelitian karena lebih ekonomis, mudah dipelihara, dan memiliki pertimbangan etis yang lebih mudah diterima dibandingkan mamalia hewan besar lain seperti kelinci, anjing ataupun primata.

Beberapa penelitian telah berhasil menginduksi BRONJ tahap awal melalui pemberian zoledronat, namun keberhasilan pengembangan model ini sangat dipengaruhi oleh dosis, durasi, dan rute pemberian zoledronate. Aspek histopatologis seperti osteoklas, jaringan nekrotik, dan lakuna kosong, serta penilaian radiologis seperti sequestra (fragmen tulang mati), penting untuk memastikan validitas dan reprodusibilitas BRONJ pada model hewan coba.

Dalam pengembangan model BRONJ pada mencit dan tikus, jenis kelamin tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan lesi. Salah satu aspek krusial dalam induksi  BRONJ adalah pemilihan rute injeksi zoledronat. Tiga rute utama yang sering digunakan adalah subkutan, intraperitoneal, dan intravena, yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda dalam hal dosis, frekuensi, dan durasi pemberian, serta efek terhadap stadium BRONJ yang dihasilkan.

Pada mencit, injeksi subkutan menghasilkan perubahan integritas tulang alveolar tanpa adanya eksposure tulang alveoalr, disertai peningkatan densitas mineral tulang dan ketebalan trabekular. Model ini menyerupai BRONJ stadium 0 pada manusia. Sebaliknya, injeksi subkutan pada tikus secara konsisten menghasilkan ekspose tulang alveolar, menyerupai karakteristik BRONJ stadium 1 pada manusia, meskipun tidak disertai perubahan signifikan pada integritas tulang.

Rute intraperitoneal menghasilkan ekspose tulang alveolar pada mencit sebesar 66,67% dan pada tikus sebesar 84,09%. Injeksi intraperitoneal menghasilkan gambaran histopatologis berupa nekrosis tulang, lakuna kosong, dan penurunan aktivitas osteoklas, menyerupai BRONJ stadium 1. Sementara itu, injeksi intavena pada tikus dan mencit menyebabkan nekrosis tulang alveolar yang lebih luas dan ekspose tulang yang persisten, sesuai dengan BRONJ stadium 2 pada manusia.

Pemilihan mencit atau tikus sebagai model tergantung pada tujuan dan stadium penyakit yang ingin diteliti. Secara ekonomi, mencit lebih mudah dan tepat untuk penelitian BRONJ tahap awal. Namun, model tikus dinilai lebih stabil dan mampu mereplikasi stadium lanjut BRONJ secara lebih konsisten, khususnya jika menggunakan rute injeksi intraperitoneal atau intravena. Data menunjukkan bahwa model mencit memiliki variabilitas tinggi pada stadium awal dan belum melaporkan BRONJ stadium lanjut secara konsisten. Sebaliknya, model tikus menunjukkan variabilitas yang lebih rendah dan mampu menggambarkan karakteristik BRONJ stadium lanjut dengan lebih jelas.

Dengan demikian, untuk penelitian yang bertujuan mendalami patogenesis dan progresivitas BRONJ, terutama pada stadium lanjut, penggunaan model tikus dengan injeksi zoledronat secara IP atau IV menjadi pilihan yang lebih representatif dan dapat diandalkan.

Penulis

Meircurius DC Surboyo

Tulisan lengkap dapat dibaca di

Journal Bone, Volume 188, October 2025, 117563

AKSES CEPAT