51动漫

51动漫 Official Website

Sarasehan FIB Dorong Peran Mahasiswa Mencegah Disharmoni

Kukuh Yudha Karnanta SS MA saat menyampaikan materi tentang harmoni sosial. (Foto: Obet)
Kukuh Yudha Karnanta SS MA saat menyampaikan materi tentang harmoni sosial. (Foto: Obet)

UNAIR NEWS – Persinggungan yang terjadi di masyarakat akibat perbedaan pandangan merupakan sebuah konsekuensi dari keberagaman. Namun, terkadang perbedaan pendapat antar individu ini dapat berujung pada tindak kekerasan yang memicu disharmoni. Menanggapi problematika ini, (FIB) 51动漫 (UNAIR) menggelar sarasehan yang bertujuan untuk mengedukasi mahasiswa tentang pentingnya harmonisasi dalam hidup bermasyarakat.

Sarasehan bertajuk Merajut Harmoni Sosial Menuju Masyarakat Anti Kekerasan ini berlangsung pada Selasa (18/2/2025) di Aula Siti Parwati Lt. 2 Gedung Fakultas Ilmu Budaya, Kampus Dharmawangsa-B, UNAIR. Dalam sarasehan tersebut hadir tiga pemateri, salah satunya Kukuh Yudha Karnanta SS MA.

Kukuh, sapaan akrabnya, memulai sarasehan dengan mengenalkan definisi harmoni sosial. Menurut Kukuh, harmoni sosial adalah keadaan di mana individu atau kelompok dalam masyarakat hidup saling berdampingan dan saling mendukung. Dalam harmoni sosial, masyarakat bersinergi tanpa melihat perbedaan budaya, agama, etnis, dan latar belakang sosial lain yang mereka miliki. 

Dosen Bahasa dan Sastra Inggris UNAIR itu berpendapat bahwa perlu adanya inisiasi kembali tentang harmoni sosial kepada masyarakat. Apalagi saat ini terdapat banyak isu disharmoni sosial akibat keberagaman. Salah satunya terlihat dari tingginya perdebatan di media sosial karena idealisme individu tanpa mempertimbangkan keberadaban. 

淭ingginya durasi penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia tidak berbanding lurus dengan keberadaban digital. Hal ini merujuk pada perilaku netizen Indonesia yang sering melakukan bullying, penyebaran hoaks, maupun hate speech. Untuk itu, Indonesia menempati posisi satu pengguna internet tidak beradab se-Asia Tenggara menurut survei Microsoft, terang Kukuh.

Narasumber dan moderator Sarasehan Merajut Harmoni Sosial Menuju Masyarakat Anti Kekerasan. (Foto: Obet)
Narasumber dan moderator Sarasehan Merajut Harmoni Sosial Menuju Masyarakat Anti Kekerasan (Foto: Obet)

Dalam mencapai harmoni sosial, Kukuh berpegang pada kutipan filsuf Jurgen Habermas. “Saya mengutip satu tokoh yang saya kenal ketika mengambil mata kuliah Sejarah Pemikiran Modern, yaitu J眉rgen Habermas. Dia mengatakan bahwa harmoni sosial dicapai melalui tindakan komunikatif, di mana interaksi sosial didasarkan pada nalar dan kesepakatan yang dicapai melalui diskusi, jelasnya.

Dengan dasar tersebut, Kukuh menyarankan beberapa cara mencapai harmoni sosial yang dapat civitas academica UNAIR lakukan. Pertama, pendidikan literasi, hal ini berkaitan dengan pentingnya mahasiswa mempunyai pengetahuan membaca, menulis, dan memahami informasi. Kedua, pendidikan karakter, mahasiswa perlu memiliki jiwa pelopor, penggerak, toleran, dan kreatif.

Terakhir, yang paling penting, budaya partisipatoris, seperti srawung, urun rembug, dan urun gawe. “Mahasiswa tidak hanya kritis saat diskusi kampus saja, tetapi di luar Anda harus ringan tangan untuk membantu hal-hal yang bisa Anda lakukan. Tentunya sesuai dengan kompetensi kemampuan Anda,” tutup Kukuh.

Penulis: Selly Imeldha

Editor: Edwin Fatahuddin

AKSES CEPAT