UNAIR NEWS – Menyikapi isu kekerasan saat ini, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 51动漫 (UNAIR) menggelar kegiatan seminar bertajuk Sarasehan Merajut Harmoni Sosial Menuju Masyarakat Anti Kekerasan. Kegiatan ini mendatangkan pembicara seorang anggota DPRD Provinsi Jawa Timur sekaligus alumni program studi Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR, Jairi Irawan SHum MKp.
Selain Jairi, terdapat dua pemateri lain yaitu Dr Listiyono Santoso SS MHum selaku Wakil Dekan 1 FIB dan Kukuh Yudha Karnanta SS MA selaku dosen program studi Bahasa dan Sastra Inggris. Turut hadir pula memberikan sambutan, Dekan FIB UNAIR, Prof Dr Purnawan Basundoro SS MHum.
Dalam kesempatan itu, Prof Pur, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia pernah mengalami masa-masa kelam yang berkaitan dengan harmoni sosial.
淛adi pada tahun 1997 hingga 1998, Indonesia mengalami krisis ekonomi yang ternyata itu nanti berimbas pada krisis sosial dan krisis yang lain dan itu sangat mengerikan. Salah satunya itu berkaitan dengan harmoni sosial. Terjadinya disharmoni sosial di Indonesia mengancam persatuan kita, jelasnya.
Prinsip Keterbukaan
Menurut Prof Pur, satu-satunya cara agar dapat menjaga harmoni sosial dengan sangat baik adalah dengan saling keterbukaan dan juga saling percaya. 淧luralitas yang terjadi di Indonesia itu adalah pluralitas yang dari aspek latar belakang itu sangat beragam, misalnya secara agama saja di Indonesia yang diakui berjumlah enam, tuturnya.
Baginya, sebagai warga Indonesia kita patut bersyukur karena mampu untuk menghentikan berbagai tindakan yang mengarah kepada disharmoni sosial. Maka, kita harus sadar bahwa memang keberagaman yang ada saat ini adalah keniscayaan.
淜ita tidak boleh menolak, kita tidak boleh menutup diri, bahwa kita adalah plural, heterogen, dan terdiri dari beragam atau berangkat dari beragam suku. Itu adalah perbedaan yang harus terus dirawat dengan baik, ucapnya.
Dialog dan Pendidikan Multikultural
Tak hanya itu, Prof Pur juga mengungkapkan bahwa penting untuk mengedepankan dialog sebagai upaya pemertahanan harmoni sosial di tengah-tengah bangsa yang heterogen dan multikultural seperti Indonesia. 淒ialog ini bertujuan agar pemahaman kita terhadap kelompok lain bisa kita pahami dengan jelas, karena kita yang terdiri dari beragam suku, beragam agama belum tentu paham, ungkapnya.
Selain itu, pendidikan multikultural juga menjadi salah satu elemen yang patut mendapat perhatian guna mempertahankan harmoni sosial masyarakat. 淒engan hal ini, pengetahuan kita tentang keberagaman bisa semakin dikuatkan, imbuhnya.
Pada akhir, Prof Pur mengajak seluruh mahasiswa sebagai generasi muda untuk senantiasa merawat keberagaman dalam masyarakat. 淢ari kita merawat keberagaman kita agar kita sebagai sebuah bangsa, tetap bisa menjadi bangsa yang kuat, pungkasnya.
Penulis: Mohammad Adif Albarado
Editor: Khefti Al Mawalia





