Kucing merupakan salah satu hewan kesayangan yang banyak dijadikan sebagai hewan peliharaan oleh masyarakat dan mendatangkan manfaat bagi pemiliknya. Karena tingkahnya yang lucu dan menggemaskan, memelihara kucing dapat mengurangi stres dan mendatangkan kebahagiaan bagi pemiliknya. Namun, apabila pemilik tidak dapat memelihara kesehatan hewannya dengan baik, maka risiko terkena penyakit akan meningkat. Kucing yang hidup di Indonesia sebagai negara tropis ini, sangat rentan terkena infeksi terutama penyakit kulit. Penyakit kulit parasitik yang sering menyerang kucing adalah scabiosis atau biasa di sebut kudis, disebabkan oleh tungau Notoedres cati. Scabiosis juga merupakan salah satu penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Parasit jenis tungau ini menyebar di seluruh dunia mulai dari benua Eropa, Australia, Amerika Utara, Amerika Selatan, Timur Tengah, Afrika, India, Jepang, dan Indonesia.
Sebuah penelitian melaporkan bahwa selama tahun 2017-2018 dengan jumlah kucing 1.152 ekor di 8 negara Asia, posisi teratas diduduki oleh Indonesia dan diikuti dengan Filipina, dan China. Sedangkan di Indonesia sendiri, terutama di kota Jakarta, Bogor dan Yogyakarta tercatat 34,6% kucing terinfestasi tungau. Kejadian scabiosis sering terjadi di seluruh dunia terutama negara subtropis dan tropis. Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis, sehingga sangat mendukung perkembangan agen penyebab dari scabiosis.
Faktor risiko penyebab scabiosis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor jenis rambut dan manajemen perkandangan dengan hasil analisis hubungan asosiasi yang signifikan, sedangkan faktor lain adalah faktor ras dan grooming, namun hasil analisis hubungan asosiasi menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Kucing ras domestik lebih rentan terkena scabiosis dikarenakan dalam manajemen kebersihan dalam merawat kucing ras domestik kurang baik dibanding ras lainnya. Fenomena masyarakat yang memelihara kucing ras seperti Persian, Angora, dan lain sebagainya menunjukkan simbol stratifikasi sosial masyarakat. Semakin tinggi tingkat sosialnya semakin baik dalam menjaga kebersihan dan memelihara hewan kesayangannya. Faktor risiko yang lain adalah jenis kelamin dan umur, dimana scabiosis banyak menginfestasi anak kucing dikarenakan sistem imunitas masih dalam tahap perkembangan. Rata-rata umur kucing yang terkena scabiosis adalah kucing berumur dibawah satu tahun yang kemungkinan besar tertular dari induk yang menyusui kucing tersebut.
Sebuah klinik di Kabupaten Magetan melakukan penelitian pada pasien yang datang dengan keluhan terdapat kudis pada kulitnya. Sepanjang tahun 2020, terdapat 76 kucing yang terinfestasi parasit ini. Kasus scabiosis kucing tertinggi pada bulan Juni dengan jumlah 15 kucing, sedangkan jumlah terendah pada bulan Desember yaitu 8 pasien kucing terkena scabiosis. Jumlah kasus tersebut meningkat dari tahun sebelumnya dikarenakan makin banyaknya tren masyarakat yang memelihara kucing sebagai hewan kesayangan di daerah Kabupaten Magetan.
Infestasi scabiosis bisa semakin parah apabila suhu dan cuaca lembab, yang seringnya kondisi tersebut terjadi pada bulan Mei-Juli dikarenakan memasuki musim peralihan antara musim penghujan ke musim kemarau. Ditinjau dari faktor ras, umur, dan jenis kelamin kucing menunjukkan hasil yang tidak signifikan sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan peningkatan antara faktor ras terhadap risiko infestasi scabiosis. Walaupun demikian, jumlah terbanyak adalah kucing kategori umur 0-6 bulan (Kitten) dengan jumlah 43 dari 76 kasus terinfestasi scabiosis. Umur merupakan komponen yang sangat penting untuk perkembangan serta penurunan sistem kekebalan tubuh pada suatu individu. Anak kucing lebih mudah terinfestasi tungau dikarenakan sistem kekebalan bawaan masih dalam tahap perkembangan dan sistem kekebalan adaptif masih belum terbentuk optimal.
Scabiosis tidak dipengaruhi dari ras, umur, dan jenis kelamin tetapi cenderung karena faktor kebersihan dan perawatan. Risiko penularan scabiosis pada kucing jantan karena mereka memiliki kecenderungan mendominasi atau berkelahi dengan kucing lainnya. Sementara itu, risiko dari kucing betina disebabkan penularan kepada anak-anaknya ketika sedang menyusui. Masa menyusui kucing kurang lebih dua bulan dan waktu tersebut sangat optimal untuk siklus perkembangan hidup tungau.
Penulis: Hardany Primarizky, drh., MVM.
informasi lebih lanjut bisa didapatkan di artikel yang sudah terpublikasi di Jurnal Medik Veteriner pada tautan . (Cahya, N., Primarizky, H. ., & Yunita, M. N. . (2022). Risk Factors and Scabious Prevalence in Cats During 2020 in Griya Satwa Clinic, Magetan. Jurnal Medik Veteriner, 5(1), 81“86.)





