51动漫

51动漫 Official Website

Seberapa Besar Pengaruh Intervensi Gizi Sensitif Terhadap Kejadian Stunting pada Balita Selama Pandemi Covid-19?

Foto by InfoPublik

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat gizi kekurangan gizi kronis 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000HPK) yakni sejak janin sampai dua tahun. Pada tingkat global, WHO memperkirakan bahwa sebanyak 22,0% atau 149, 2 juta balita mengalami stunting pada tahun 2020. Dari jumlah ini lebih dari separuhnya berada di Asia (53%). Di Indonesia, angka stunting sudah menunjukkan perbaikan. Pada tahun 2021, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) melaporkan bahwa angka stunting turun menjadi 24,4%. Namun, Indonesia masih memerlukan upaya keras untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting hingga menjadi 14% di tahun 2024.

Pemerintah telah menjadikan program penurunan stunting terintegrasi sebagai program nasional. Kombinasi intervensi sensitif dan spesifik terbukti menjadi kunci keberhasilan dalam penurunan stunting. Pendekatan ini terbukti dapat menurunkan angka stunting di negara-negara dunia seperti di 14 negara miskin dan menengah, India, Peru, Senegal, Ethiopia, Nepal, dan Myanmar.

Di Indonesia, pelaksanaan program penurunan stunting belum optimal. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh pendanaan pemerintah yang masih rendah, cakupan implementasi yang kurang dan koordinasi lintas sektor yang lemah. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan banyak program terkendala pelaksanaannya karena adanya refocusing anggaran. Pada tingkat global, di Nigeria misalnya, cakupan intervensi masih didominasi oleh sektor kesehatan dibandingkan intervensi lintas sektor. Demikian halnya di Indonesia, cakupan intervensi sensitif juga masih rendah. Kesenjangan program lintas sektor penurunan stunting juga masih tinggi. Identifikasi intervensi yang dominan dalam penurunan stunting penting dilakukan. Hal ini diharapkan dapat menjadi masukan penentu kebijakan untuk memprioritaskan intervensi penurunan stunting selama pandemi Covid-19. Namun, bukti dampak intervensi gizi terhadap kejadian stunting, khususnya pendekatan intervensi sensitif masih terbatas. Studi penelitian tentang analisis pengaruh intervensi gizi sensitif terhadap kejadian stunting pada balita usia 6-24 bulan selama pandemi Covid-19 menjadi sangat penting dilakukan mengingat tingginya biaya yang telah dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia guna menuju prevalensi stunting sebesar 14% di tahun 2024.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat analitik dengan desain cross sectional, dimana peneliti mengukur variabel bebas dan variabel tergantungsecara bersamaan pada sampel yang mewakili populasi. Populasi yang terlibat adalah semua balita berusia 6-24 bulan yang tinggal di desa yang terpilih sebagai lokasi penelitian. Sementara sampel yang terlibat adalah sebagian balita berusia 6-24 bulan yang tinggal di desa terpilih dan telah memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) balita berusia 6-24 bulan; 2) berdomisili di lokasi penelitian minimal 6 bulan; 3) balita dalam kondisi sehat dan tidak cacat permanen; dan 4) ibu balita bersedia diwawancara. Pemilihan sampel menggunakan teknik simple random sampling dan didapatkan sebanyak 384 balita yang dihitung dengan rumus Cochran. Untuk menghindari penolakan partisipasi dalam penelitian, sampel diperbanyak menjadi 455 balita.

Data penelitian diambil melalui wawancara responden dan pengukuran. Wawancara responden dengan kuesioner terstruktur untuk mendapatkan data karakteristik penelitian dan intervensi gizi sensitif. Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan data status gizi balita. Data karakteristik responden penelitian yang diteliti terdiri dari usia responden, pendidikan, pekerjaan, usia balita, jenis kelamin balita, dan besar keluarga. Data intervensi gizi sensitif yang diteliti meliputi bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Asuransi Kesehatan Orang Miskin (Aseskin), Pekarangan Pangan Lestari (P2L), akses jamban sehat, dan akses air bersih. Data status gizi balita didapatkan melalui pengukuran panjang badan balita menggunakan infant ruler merk GEA dengan akurasi 0,1 cm. Penentuan stunting dilakukan dengan mengkonversikan tinggi badan ke nilai z-score berdasarkan baku antropometri anak balita. Seluruh data yang terkumpul akan di Uji Chi-Square dan Regresi Logistik dengan menggunakan software SPSS v21.0.

Hasil analisis menunjukkan bahwa ketersediaan jamban yang memadai berpengaruh terhadap kejadian stunting pada balita usia 6-24 bulan (p=0,008; OR=2,260; 95%CI: 1,238-4,125). Variabel lain yang berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah usia balita (p=0,001; OR=3,205; 95%CI: 1,657-6,201). Maka dapat disimpulkan bahwa akses jamban yang memadai merupakan intervensi gizi sensitif yang paling mempengaruhi kejadian stunting pada balita usia 6-24 bulan selama pandemi Covid-19. Temuan ini menguatkan kembali bahwa target penurunan stunting sebaiknya lebih berfokus pada rumah tangga dengan anak-anak usia bawah dua tahun. Program penyediaan fasilitas jamban sehat harus semakin ditingkatkan dalam penurunan stunting terutama pada rumah tangga di perdesaan dan rawan pangan.

Penulis: Berliana Devianti Putri, S.KM., M.Kes

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Elya Sugianti, Berliana Devianti Putri, (2022). Pengaruh Intervensi Gizi Sensitif Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Usia 6-24 Bulan Selama Pandemi Covid-19. Amerta Nutrition, Vol. 6 Issue 1SP (December 2022). 184-193.

AKSES CEPAT