Sektor pertanian merupakan salah satu sektor strategis di Indonesia. Sektor ini berkontribusi 13,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 38 juta tenaga kerja pada tahun 2020. Salah satu sektor strategis pertanian adalah komoditas jagung, dimana produksinya mencapai 22,59 juta ton ditahun 2019. Terdapat 5,10 juta rumah tangga atau sekitar 20 persen dari total petani Indonesia yang terlibat dalam kegiatan pertanian jagung.
Meskipun demikian, kondisi produksi jagung saat ini perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Misalnya, produksi jagung rata-rata per tahun adalah 9,04 juta ton dari tahun 2009 hingga 2018. Sementara rata-rata permintaan dalam negeri adalah 11,14 juta ton per tahun. Selain itu, dalam hal produktivitas, Indonesia tertinggal dari negara penghasil jagung lainnya. Produktivitas Jagung Indonesia adalah 3,16 metrik ton per hektar pada tahun 2020, lebih rendah dari Thailand (3,70 metrik ton per hektar), Vietnam (4,80 metrik ton per hektar), dan China (6,32 metrik ton per hektar).
Produktivitas yang rendah juga diperparah dengan tantangan pertanian umum lainnya. Urbanisasi yang pesat di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, seringkali mengakibatkan konversi lahan pertanian. Sementara itu, perluasan budidaya ke lahan kering seringkali terkendala masalah irigasi. Banyak petani (sekitar 59%) adalah petani kecil dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,5塰a. Petani tersebut seringkali berpendidikan rendah, sehingga mereka tidak memiliki banyak kapasitas untuk mengadopsi teknologi pertanian yang maju. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia meluncurkan program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Program ini diharapkan dapat memfasilitasi adopsi teknologi pertanian sehingga proses produksi menjadi lebih efisien. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi dampak dari pelaksanaan program SL-PTT terhadap efisiensi teknis produksi jagung di Indonesia. Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat efisiensi teknis produksi jagung adalah sebesar 68,3 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat efisiensi produksi jagung masih bisa ditingkatkan. Selain itu, program SL-PTT juga terbukti meningkatkan efisiensi teknis sebesar 2 persen. Besaran peningkatan efisiensi teknis hanya sebesar 2 persen ini dapat dikategorikan rendah, apalagi jika dibandingkan dengan besaran biaya pelaksanaan SL-PTT yang cukup tinggi namun jumlah peserta yang terbatas. Oleh karena itu, program SL-PTT perlu didesain sedemikian rupa sehingga biaya pelaksanaan SL-PTT dapat terjangkau.
Penulis: Tri Haryanto, Drs.Ec., M.P., Ph.D
Jurnal:





