Anak di bawah umur dua tahun (baduta) mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat sehingga disebut sebagai periode emas. WHO dann UNICEF dalam Global Strategy for Infant and Young Child Feeding menyarankan empat hal penting yang harus dilakukan yaitu memberikan Air Susu Ibu (ASI) 30 menit setelah bayi lahir, memberikan ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan, memberikan makanan pendamping air susu ibu (MPASI) sejak bayi berusia 6-24 bulan, dan melanjutkan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan. ASI memang makanan terbaik bagi bayi, namun seiring bertambahnya usia, bayi memerlukan makanan tambahan mulai usia 6 bulan sehingga selain meneruskan pemberian ASI, ibu harus memberikan makanan pendamping kepada bayi. Pemberian MPASI yang tidak tepat dapat menjadi faktor penyebab terjadinya masalah kekurangan gizi pada anak.
Masalah gizi kurang dapat ditangani pada periode emas pertumbuhan anak yaitu usia 0-24 bulan. Banyaknya masalah gizi pada kelompok usia tersebut menunjukkan adanya ketidaktepatan dalam pola asuh. WHO melaporkan 60% kematian balita baik langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh kurang gizi dan 2/3 dari kematian tersebut berkaitan dengan ketidaktepatan praktik pemberian makanan pada anak, seperti pemberian MPASI dini, ketidaksesuaian tekstur, dan jenis makanan yang tidak beragam. Praktik tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor internal seperti motivasi ibu dalam mempersiapkan makanan dan kepercayaan diri ibu dalam memberikan MPASI yang tepat.
Perubahan perilaku makan seseorang dapat dipengaruhi oleh self-efficacy. Self-efficacy dikaitkan dengan pemberian MPASI karena usia anak tersebut merupakan kesempatan untuk memperkenalkan makanan yang sehat, bergizi, dan seimbang. Orangtua dituntut untuk selalu mencoba hal baru sehingga diperlukan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa mereka mampu membentuk kebiasaan makan yang baik. Ibu yang memiliki self–efficacy tinggi akan lebih mampu menyiapkan dan memberikan makanan bergizi untuk anak dan keluarga. Sebaliknya, self–efficacy yang rendah dalam diri ibu dapat menyebabkan pola asuh yang kurang, penurunan kualitas pemberian makan, dan menyebabkan status gizi kurang pada anak.
Selain faktor internal, faktor eksternal seperti dukungan keluarga juga dapat mempengaruhi ibu dalam mengambil keputusan untuk pemberian MPASI. Ibu yang memiliki keluarga dengan fungsi yang baik yaitu terdapat interaksi positif antar anggota keluarga, maka akan tercipta dukungan keluarga yang baik pula. Semakin tinggi keberfungsian keluarga dalam mendukung ibu maka semakin tinggi juga self-efficacy ibu dalam mengasuh anak. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Surabaya Tahun 2019, Puskesmas Kalirungkut memiliki prevalensi gizi kurang cukup tinggi pada balita dan termasuk dalam lima besar puskesmas dengan prevalensi gizi kurang tertinggi di Kota Surabaya. Puskesmas Kalirungkut juga memiliki prevalensi stunting tinggi sebesar 20%. Tingginya masalah gizi pada kelompok usia tersebut menunjukkan adanya ketidaktepatan dalam pola asuh seperti ketidaktepatan dalam pemberian MPASI karena rendahnya self-efficacy ibu.
Berdasarkan hasil penelitian Fadilah, dkk (2023) di wilayah kerja Puskesmas Kalirungkut Surabaya ditemukan mayoritas ibu mendapatkan dukungan kurang pada masing-masing aspek dukungan keluarga. Sebanyak 57,1% ibu kurang mendapatkan dukungan informasional, 61,4% ibu kurang mendapatkan dukungan penilaian/penghargaan dari keluarga, 55,7% kurang mendapatkan dukungan emosional, dan 54,3% kurang mendapatkan dukungan instrumental dari keluarga. Sebagian besar ibu memiliki tingkat self-efficacy tinggi dalam memberikan MPASI yang tepat untuk balita yaitu sebesar 52,9% sedangkan sisanya 47,1% responden memiliki tingkat self-efficacy rendah. Dukungan penilaian dan dukungan emosional memiliki hubungan signifikan dengan self-efficacy ibu. Dukungan penilaian atau penghargaan keluarga yang buruk berisiko 3,299 kali lebih tinggi menyebabkan self efficacy ibu yang buruk. Hal ini menunjukkan peran keluarga memiliki hubungan yang bermakna dalam pemberian MPASI pada bayi. Ibu yang mendapatkan dukungan keluarga dari ibu kandung ataupun ibu mertua cenderung memiliki sikap positif terhadap kemampuan mengasuh anak, keinginan untuk mengikuti rekomendasi ahli gizi dan dokter anak, adanya minat mencoba hal baru, serta ketekunan dalam menghadapi tantangan.
Dukungan penilaian atau penghargaan merupakan dukungan dalam hal membimbing, menjadi solusi dari suatu masalah, memberikan penghargaan berupa rasa hormat, ucapan terimakasih, dan sikap positif lain yang diberikan kepada seseorang berdasarkan keadaan yang sebenarnya sehingga dapat menurunkan perasaan tidak berharga, sedih, kehilangan semangat, dan kecemasan. Individu yang mendapatkan hal-hal positif dari lingkungan akan lebih memiliki pandangan yang lebih optimis dan kepercayaan diri yang tinggi. Ibu yang mendapatkan dukungan penilaian atau penghargaan berupa dorongan, pujian, dan hal-hal positif lainnya atas tindakannya memberikan ASI Eksklusif sehingga ibu percaya diri untuk tidak memberikan MPASI kurang dari 6 bulan.
Dukungan emosional dapat diwujudkan dalam bentuk kepercayaan, keperdulian, dan perhatian. Dukungan emosional yang baik dari keluarga terutama suami merupakan sikap positif yang dapat memberikan kekuatan tersendiri bagi ibu untuk mengambil sebuah tindakan karena dukungan yang didapatkan akan dapat mempengaruhi seseorang dalam bertindak. Masyarakat memiliki banyak harapan dari suami tentang praktik memberikan makan kepada anak-anak, meskipun suami atau anggota keluarga lain mungkin tidak membuat keputusan setiap hari tentang pengasuhan dan pemberian makan pada anak namun mereka adalah sumber penting dalam memberikan dukungan emosional dan informasional kepada ibu sehingga mereka mampu memberikan makanan kepada anak. Hal tersebut dapat dilihat dari suksesnya gerakan ASI eksklusif yang telah melibatkan peran ayah dan keluarga dalam Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) untuk mendukung ibu memberikan ASI eksklusif kepada bayi.
Hasil penelitian Fadilah dkk (2023) juga menunjukkan bahwa ibu yang mendapatkan dukungan penilaian kurang dari keluarga lebih banyak memiliki self-efficacy yang rendah sedangkan ibu yang mendapatkan dukungan penilaian baik, memiliki self-efficacy yang tinggi dalam pemberian MPASI yang tepat pada balita. Hal tersebut menunjukkan bahwa self-efficacy ibu dalam menyiapkan dan memberikan MPASI dapat dipengaruhi oleh dukungan penilaian atau penghargaan dari keluarga. Individu yang diberikan dukungan penghargaan berupa hal-hal positif tentang keberhasilannya melakukan sesuatu dapat menambah penghargaan atas dirinya dan membantu mengurangi tingkat stres. Tingginya tingkat stres yang dialami ibu dapat menurunkan motivasi ibu untuk terus melakukan atau mencoba menguasai tugas yang menantang di masa mendatang seperti dalam praktik pemberian MPASI.
Ibu dengan dukungan keluarga yang baik juga akan lebih sering berkunjung ke posyandu. Dengan kunjungan ibu ke posyandu diharapkan pertumbuhan dan gizi anak akan terpantau dengan baik sehingga apabila ada masalah gizi dapat terdeteksi lebih dini dan mencegah terjadinya gizi kurang pada anak. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dukungan keluarga secara tidak langsung berperan dalam mencegah masalah gizi kurang melalui peningkatan self-efficacy pada ibu.
Penulis: Lailatul Muniroh
Jurnal:





