51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Perkembangan Skrining Bayi Baru Lahir di Indonesia

sumber: Kemenkes RI
sumber: Kemenkes RI

Selamatkan Generasi Sejak Dini: Perkembangan Skrining Bayi Baru Lahir di Indonesia

Setiap bayi yang lahir adalah harapan masa depan. Namun, tidak semua bayi lahir dalam kondisi sempurna. Beberapa dari mereka membawa kelainan bawaan yang tak tampak secara fisik, namun bisa berdampak serius terhadap tumbuh kembang jika tidak segera diketahui. Di sinilah pentingnya Newborn Bloodspot Screening (NBS) atau skrining darah pada bayi baru lahir.

Di negara-negara maju, program NBS sudah menjadi bagian rutin dari layanan kesehatan. Program ini mampu mendeteksi dini berbagai penyakit seperti hipotiroid kongenital (kelenjar tiroid kurang aktif), defisiensi enzim, hingga kelainan metabolik. Deteksi dini ini memungkinkan penanganan cepat sehingga bayi dapat tumbuh sehat seperti anak-anak lainnya.

Namun, bagaimana dengan Indonesia?

Perjalanan Panjang, Tapi Masih Jauh dari Selesai

Indonesia mulai mengenal program NBS sejak tahun 2000-an melalui kerja sama dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Kala itu, skrining difokuskan pada hipotiroid kongenital di beberapa rumah sakit di Bandung dan Jakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi ini memang ada dan bisa ditangani dengan baik jika terdeteksi sejak awal.

Sayangnya, cakupan skrining nasional masih sangat rendah. Pada tahun 2022, hanya sekitar 2,3% bayi yang lahir di Indonesia yang mendapatkan skrining NBS. Namun, kabar baik datang di tahun 2023. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mewajibkan skrining hipotiroid kongenital sebagai syarat klaim biaya persalinan di BPJS. Ini menjadi momentum penting yang langsung meningkatkan jumlah bayi yang disaring hingga mencapai 1,2 juta pada akhir 2023 (sekitar 28% dari seluruh kelahiran nasional).

Harapan dan Tantangan

Saat ini, Indonesia tengah mengembangkan kapasitas laboratorium dan menyiapkan perluasan skrining ke penyakit lain seperti G6PD deficiency (penyebab anemia berat), CAH (gangguan hormon adrenal), serta penyakit jantung bawaan dan gangguan pendengaran.

Sebagai langkah awal, program skrining G6PD dan CAH telah dimulai dalam bentuk pilot project di beberapa daerah, sebagai persiapan menuju cakupan nasional di masa depan. Sementara itu, skrining untuk hipotiroid kongenital (CH) kini sudah berjalan lebih luas, didorong oleh regulasi nasional yang memperkuat pelaksanaannya di seluruh fasilitas kesehatan.

Namun, tantangannya tidak ringan. Survei nasional tahun 2023 menunjukkan adanya kendala dalam logistik, pelatihan tenaga kesehatan, hingga pemahaman masyarakat. Banyak keluarga menolak skrining karena tidak tahu manfaatnya, atau bayi sudah pulang sebelum usia 24 jam sehingga darah belum sempat diambil. Keterbatasan alat dan ketersediaan kertas filter juga menjadi hambatan teknis.

Menuju Masa Depan yang Lebih Sehat

Dengan lebih dari 4 juta bayi lahir setiap tahun, Indonesia membutuhkan sistem NBS yang terintegrasi, terstandar, dan didukung penuh oleh kebijakan negara. Harapan kita, NBS bukan lagi layanan pilihan, tetapi hak setiap anak Indonesia. Dengan skrining dini, kita bisa mencegah keterlambatan tumbuh kembang, kecacatan permanen, bahkan kematian bayi yang sebenarnya bisa dicegah.

Mari dukung program skrining bayi baru lahir. Karena setiap tetes darah kecil, bisa menyelamatkan masa depan besar.

Referensi: Therrell, B.L.; Padilla, C.D.; Abadingo, M.E.; Adhikari, S.P.; Aung, T.; Aye, T.T.; Dey, S.K.; Faizi, M.; Ganbaatar, E.; Giang, T.T.H.; et al. Consolidated Newborn Bloodspot Screening Efforts in Developing Countries in the Asia Pacific”2024. Int. J. Neonatal Screen. 2025, 11, 2.

Sumber Gambar: Kemenkes RI

Penulis Artikel: dr. Calcarina Nira

AKSES CEPAT