Stroke merupakan suatu penyakit akibat pecahnya atau tersumbatnya pembuluh darah yang menuju ke otak. Penyakit stroke saat ini tidak hanya menyerang manusia pada usia lanjut, akan tetapi juga menyerang manusia pada usia muda dan produktif. Data dari American Stroke Association menunjukkan bahwa stroke menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia setelah penyakit kardiovaskular, yaitu sebesar 11,13 %, data ini juga didukung oleh hasil data dari Riset Kesehatan Dasar. Pengobatan penyakit ini seringkali memakan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit. Akan tetapi, sebenarnya 90% kasus stroke dapat dicegah dengan cara mengetahui faktor-faktor risiko penyebab stroke.
Penelitian membuktikan bahwa stroke bukan merupakan suatu penyakit yang terjadi secara begitu saja tanpa diketahui penyebabnya (cerebrovascular accident). Stroke dapat diramalkan sebelumnya melalui analisis terhadap beberapa faktor risiko. Salah satu yang harus menjadi perhatian adalah tekanan darah tinggi. Deteksi dini penyakit stroke dengan cara monitoring terhadap penyakit hipertensi dapat dilakukan dengan memanfaatkan suatu biomarker stroke dalam tubuh, yaitu kortisol.
Dirujuk dari beberapa penelitian, kadar kortisol yang tinggi ditemukan pada pasien stroke dan hipertensi dibandingkan dengan pasien kontrol normal, di mana pada pasien hipertensi kadar kortisol sampel serum mencapai 804±68 nM, sedangkan pada sampel saliva mencapai 59,5±42 nM. Hasil penelitian menunjukkan selama 24 jam observasi pada kontrol normal didapatkan kadar kortisol saliva rata-rata pada malam hari adalah 6,7 nM (rentang normal 4,8 “ 9,2 nM), pada pagi hari 19,9 nM (rentang normal 15,8 “ 25,1 nM), pada sore hari 11,4 nM (rentang normal 8,7 “ 14,9 nM) dan kortisol saliva rata-rata 24 jam adalah 13,6 nM (rentang normal 10,9 “ 16,9 nM), sedangkan pada penderita stroke kadar kortisol bisa mencapai 45 nM hingga 60 ± 8,6 nM.
Prinsip kerja sensor kolorimetri didasarkan pada perubahan warna pereaksi nanopartikel emas dan AHMT (4-amino-3-hydrazino-5-mercapto-1,2,4-triazole) dari merah anggur menjadi ungu jika bereaksi dengan kortisol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensor kolorimetri yang dikembangkan dapat mendeteksi kortisol dalam saliva pada rentang konsentrasi 0-50 mM, dan menghasilkan limit deteksi dan limit kuantitasi berturut-turut 0,76 nM dan 2,54 nM. Sensor menghasilkan presisi intra-day dan inter-day berturut-turut 2,22% dan 2,17%. Analisis larutan standar kortisol menggunakan sensor kolorimetri menghasilkan akurasi 91.07“102.77% . Analisis kortisol di dalam saliva menggunakan metode standar adisi menghasilkan recovery sebesar 91,07-94,64%. Sensor kolorimetri yang dihasilkan juga tidak mengalami gangguan dengan kehadiran testosteron, progesteron, corticosteron, and estradiol di dalam sampel saliva dengan konsentrasi 10 kali lebih tinggi daripada konsentrasi kortisol.
Langkah selanjutnya adalah pengajuan hak paten dan produksi prototipe sensor kolorimetri untuk stroke berbasis nanopartikel emas dan AHMT generasi 1 dalam bentuk paper based dan fotometrik sederhana/ portable.
Penulis: Ganden Supriyanto
Link terkait artikel ilmiah populer di atas, Indonesian Journal of Chemistry: Rapid Colorimetric Sensor Based on Gold Nanoparticles Functionalized 4-Amino-3- hydrazino-5-mercapto-1,2,4-triazole for Cortisol Detection in Saliva Sample. https://jurnal.ugm.ac.id/ijc/issue/view/5226





